KH. Abdurrahman

0

KH.Abdurrahman adalah salah seorang pendiri Pondok Modern As-Salam Sukabumi, lahir di sebuah desa Kalapa Carang, Bojonggenteng, Sukabumi, JawaBarat, tahun 1904 M/1322 H dari pasangan bapak Suhli dan ibu Sutijah, beliau adalah seorang petani yang kaya raya namun kehidupannya penuh dengan kesederhanaan, hal ini dapat kita lihat dari kehidupan sehari-harinya; beliau meskipun seorang kiai pendiri pondok Modern As-Salam Sukabumi tapi dalam kesehariannya tidak terlihat sebagai seorang kiyai pendiri karena hal ini terlihat daripada sebuah kesederhanaan yang beliau miliki. Jadi pada dasarnya apa yang beliau katakan itu sesuai dengan apa yang beliau perbuat.

Selepas sekolah pada tahun 1919, dia mulai bekerja sebagai penyambit rumput, penjemur daun teh, tukang pangkas rambut bahkan menjadi penjahit pakaian. Jenjang pendidikan yang pernah beliau alami adalah SR (Sekolah Rakyat) pada usianya yang ke 8 tahun selama 3 tahun, kemudian masuk sebuah pondok pesantren yang sistemnya satu bulan mondok dan satu bulan kuli untuk mencari perbekalan mondok satu bulan, sehingga hal ini menjadi kendala bagi beliau dalam menuntut ilmu di pesantren. Setelah tamat Sekolah Rakyat beliau bekerja di sebuah perkebunan (dulu namanya PPN sekarang PTP) di daerah Pakuwon sebagai penyambit rumput, upah yang beliau dapatkan sehari adalah 3 bengol atau 7 sen.

Setelah beliau menginjak usianya yang ke 16-17 tahun bekerja (kuli) menjemur teh, siang harinya dari jam 16:00 s/d17:00 upah yang didapatkannya pada waktu itu 25 sen dan pada malam harinya mendapatkan 3 bengol. Menjelang usinya ke 18 tahun beliau mempunyai uang hasil simpanannya sebesar 7 rupiah yang pada kemudian hari dibelikan uang tersebut untuk alat cukur yang tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi seorang pemangkas rambut yang selalu pindah dari satu kampung ke kampung lain sambil menjual tembakau, aren dan gambir.

KH. ‘Abdurrahman adalah seorang petani yang kaya raya namun kehidupannya penuh dengan kesederhanaan, hal ini dapat kita lihat dari kehidupan sehari-harinya; beliau meskipun seorang kiyai pendiri pondok Modern As-Salam Sukabumi tapi dalam kesehariannya tidak terlihat sebagai seorang kiyai pendiri karena hal ini terlihat daripada sebuah kesederhanaan yang beliau miliki. Jadi pada dasarnya apa yang beliau katakan itu sesuai dengan apa yang beliau perbuat.

Jenjang pendidikan yang pernah beliau alami adalah SR (Sekolah Rakyat) pada usianya yang ke 8 tahun selama 3 tahun, kemudian masuk sebuah pondok pesantren yang sistemnya satu bulan mondok dan satu bulan kuli untuk mencari perbekalan mondok satu bulan, sehingga hal ini menjadi kendala bagi beliau dalam menuntut ilmu di pesantren. Setelah tamat Sekolah Rakyat beliau bekerja di sebuah perkebunan (dulu namanya PPN sekarang PTP) di daerah Pakuwon (nyambit rumput) upah yang beliau dapatkan sehari adalah 3 bengol atau 7 sen.

Setelah beliau menginjak usianya yang ke 16-17 tahun bekerja (kuli) menjemur teh, siang harinya dari jam 16:00 s/d17:00 upah yang didapatkannya pada waktu itu 25 sen dan pada malam harinya mendapatkan 3 bengol. Menjelang usinya ke 18 tahun beliau mempunyai uang hasil simpanannya sebesar 7 rupiah yang pada kemudian hari dibelikan uang tersebut untuk alat cukur yang tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan penghasilan tambahan dengan menjadi seorang pemangkas rambut yang selalu pindah dari satu kampung ke kampung lain sambil menjual tembakau, aren dan gambir.

Pada tahun 1934 beliau meminang Hj. Siti Mubarokah untuk menjadi pendamping hidupnya, kemudian dikaruniai seorang putra bernama Lukman Herawan yang kemudiah hari menjadi pelopor dan perintis pondok modern As-Salam bersama beliau, dan pada tahun 1945 beliau menikah yang kedua kalinya dengan Hj. Siti Aminah yang tidak dikarunia keturunan, namun selang 4 tahun dari itu tepatnya tahun 1949 beliau menikah kembali untuk yang ke 3 kalinya dengan Hj. Aisyah dan dikarunia 6 orang putra dan putri, yang ada hanya 4 orang yaitu Ian Hadiana, Cucup Hadiana, H. Muslim (wafat pada tahun 2002) dan Elin, namun yang masih ada hingga saat ini hanya 3 orang yaitu Ian Hadiana, Cucup Setia Budi dan Elin. Beliau menghidupi sanak keluarganya dari penghasilan sebagai tukang cukur ataupun pemangkas rambut keliling serta penjahit yang mengandalkan sebuah mesin jahit hasil kredit dari pak. Hasan dan sisa dari penghasailan tersebut beliau tabungkan hingga pada tahun 1963 beliau telah memiliki 8 Ha sawah dan 3 Ha kebun, dengan kekayaan tersebut beliau sempat merasa bingung ataupun kebingungan unuk apa dan akan digunakan untuk apa harta sebanyak ini, sehingga muncullah pemikiran ataupun ide untuk mendirikan Pondok Pesantren yang kelak pondok pesantern itu di beri nama Pondok Modern As-Salam yang didirikan di atas tanah beliau sehinnga akhirnya diwakafkan untuk kepentingan umat islam banyak.

Maka pada tahun 1965 beliau memulai membangun sebuah bangunan 6 lokal dengan ukuran 36 meter dan lebar 7 meter dengan jerih payahnya tanpa minta bantuan dari siapapun untuk pondok modern As-Salam; dan kelak nama bangunan tersebut diberi nama Darul Lukman karena menurut cerita bangunan tersebut adalah diberi nama Ir. Lukman Herawan (pendiri pondok) yang ditembak oleh perampok malam hari setelah merencanakan untuk diadakan latihan ke-pramuka-an besok, namun beliua meninggal dunia karena terkena tembakan sang perampok, dari situlah bangunan tersebut diberi nama Darul Lukman dinisbatkan kepada pendirinya yang sekarang ditempati oleh santri, tapi pada awalnya sebelum ada santri putri, bangunan tersebut ditempati oleh santri putra namun setelah ada santri putri bangunan tersebut ditepati oleh santri putri hingga sekarang.

Dan pada tahun 1965 barulah KH. ‘Abdurrahman membuka dan sekaligus meresmikan pondok tersebut setelah kembali anak sulungnya Ir. Lukman Herawan setelah menimba ilmu di salah satu universitas ternama di Indonesia yaitu Universitas Gajah Mada fakultas pertanian dan pada waktu itu beliau stelah menyandang gelar insinyur kemudian melanjutkan studinya di Pondok Modern Darussalam Gontor sehinngga tamat studinya sampai tahun 1965, kemudian mengabdikan dirinya di Gontor selama 2 tahun dan ketika itu beliau saudah mempersunting wanita namanya Uwan Suwansah dari Cigombong, Bogor. Setelah selesai mengabdikan dirinya di Gontor selama 2 tahun beliau pulang kembali ke kampung halamniya dan tinngal dengan istri tercintanya di desa Cipanengah, kemudian membina adik-adiknya beserta masyarakat (pemuda dan pemudi) di sekitar kampungnya. Namun sayang seribu sayang semuanya itu telah menjadi rancana Allah, Ir. Lukman Herawan wafat setelah 15 hari diresmikannya pondok As-Salam Sukabumi tanggal 9 Januari 1968 bertepatan dengan 8 Syawwal 1387 H. Pimpinannya saat itu adalah Lukman Herawan, putra sulung KH. ‘Abdurrahman yang telah menamatkan pendidikannya di Pondok Modern Darussalam, Gontor. Tepatnya pada tanggal 24 Januari 1968 M, Lukman Herawan putra tercinta beliau, sekaligus pimpinan Pondok Modern As-Salam saat itu, tewas tertembak oleh perampok, dengan luka di beberapa bagian tubuhnya, saat menjarah rumah beliau, yang berlokasi di dalam Pesantren.

Tapi, meski demikian keaadaanya KH. ‘Abdurrahman tetap teguh dan bersabar, bahkan yang membuat takjubnya lagi setelah kepergian Ir. Lukman Herawan beliau mengirimkan kader-kader penerus serta yang akan menggerakan kemabli kelak setelah mengalami kepakuman beberapa saat. Alhamdulillah dengan izin Allah akhirnya As-Salam Sukabumi bisa berdiri kembali pada tahun 1983 setelah para kader yang diutus itu menamatkan studinya di Pondok Modern Darussalam Gontor diantaranya KH. Badru Syamsi yang menjadi pimpinan pondok hingga saat ini. Pada priode kali ini KH. ‘Abdurrahman beserta KH. Badru Syamsi mencoba merintis kembali Pondok Modern As-Salam baru; walhasil dari sanalah Pondok menjadi maju dan berkembang hingga saat ini. Jumlah santri pada saat itu (pasca wafatnya Lukman Herawan) ataupun setelah Assalam lama, berjumlah 30 santri dan berstatus anak yatim yang mana mereka bebas biaya hingga akhir studinya.

KH. ‘Abdurrahman, dari awal telah disinggung sedikit tentang sesosok beliua yang begitu sederhana serta memiliki jiwa pengorbanan yang sangat tinggi demi keperluan umat Islam banyak. Makanya, dari sanalah Pondok Modern As-Salam bisa berkembang serta maju. Menurut sebagian cerita; bahwa beliau itu pendidikannya tidak terlalu tinggi tapi daya intelektualitas, spiritual dan kreatifitas beliau, seakan menyamai orang berpendidikan tinggi saat ini. Idealnya, beliau adalah sosok guru inspiratif. Di samping itu pula beliau adalah seorang dermawan bahkan kedermawanannya itu bisa dikenal oleh masyarakat luas sehingga membuat banyak orang di Cibadak dan Sukabumi yang kagum tarhadap kedemawanannya. Bayangkan! Orang dermawan seperti beliau, bahkan hampir tidak memikirkan harta untuk keperluan dirinya, kecuali mendahulukan kepentingan Pondok, dan untuk kemajuan Pondok. Baginya, memberi lebih baik dari pada meminta. Bahkan jiwa dan raga, sekalipun rela ia korbankan.

Sungguh sangat luar biasa prinsip yang di pegang oleh KH. ‘Abdurrahman, bahwa berjuang demi pondok sama artinya membela dan membesarkan umat Islam. Untuk itu, beliau sering tekankan dalam beberapa ceramah kepondokan (meski dalam bahasa Sunda yang kental dan khas), bahwa Assalam milik umat, bukan miliknya, atau milik keluarganya; tetapi Assalam milik umat Islam; ini artinya bahwa beliau itu telah mewakafkan seluruh tanahnya untuk kepentingan umat banyak yaitu pondok pesantren.

Setelah 14 tahun lamanya, akhirnya KH.’Abdurrahman dapat mewujudkan kembali apa-apa yang dicita-citakanya setelah mengalami kepakuman beberapa saat; namun berkat do’a serta kerja kerasnyalah akhirnya Assalam dapat bangkit kembali dari keterpuraukan, hingga saat ini pondok modern Assalam telah melahirkan puluhan, ratusan bahkan ribuan alumni yang telah berkiprah di masyarakat bahkan sebagian dari mereka ada yang menjadi tokoh masyarakat; inilah yang patut di syukuri dan harus dipertahankan hingga hari akhir kelak.

Keterlibatan KH. ‘Abdurrahman pada titik ini, tak lepas juga dari peran dan dukungan aktif semua komponen di Assalam. Bahkan dalam setiap pembangunan, beliau selalu mengedepankan nilai kebersamaan dan prinsip gotong royong. KH. ‘Abdurrahman juga dikenal sebagai sosok yang amat tegas dan sangat berdisiplin. Suatu ketika; KH. ‘Abdurrahman sedang duduk di atas ‘bale’ depan rumahnya, waktu itu hari Jum’at pukul 07.00 WIB. Saat itu, beliau melihat seorang karyawan yang bekerja sambil merokok; meskipun masih di atas ‘bale’ beliau menegur si-karyawan. Katanya (dalam Bahasa Sunda), “Jangan bekerja sambil merokok! Waktunya bekerja, maka lakukan pekerjaan Anda dengan fokus, waktunya istirahat, boleh Anda Merokok.” Namun PakHaji lebih dikenal sebagai orang yang pemaaf, dan selalu memberi peluang bagi orang yang mau berubah dan ingin berkembang.

Menurut sumber cerita lain yang kami dapatkan bahwa , suatu hari kerja bakti membuat lapangan sepak bola, waktu itu hari sudah sore, salah seorang ustad bertanya kepada KH. ‘Abdurrahman, Pak Haji apa pekerjaan ini sebaiknya diteruskan saja? Mengingat waktu masih senggang, dan waktu belum menunjukan jam 17.00 WIB. Bagaimana Pa. Haji? Dengan bersahaja Pak Haji menjawab. “sudah tinggalkan saja Pa. Ustadz, toh nanti semua ini ada yang melanjutkan!”

Dari cerita tersebut terdapat sejuta makna pilosofis; bahwa sesungguhnya suatu saat nanti akan ada generasi penerus yang akan meneruskannya dalam mengembangkan perkembangn pondok, ternyata terbukti apa yang dikatakannya sampai sekarang As-Salam semakin maju dan berkembang saja, bahkan sarana dan prasarana pondok semakin bertambah; mulai dari lab komputer, lab IPA, lab bahasa, perpustakaan dll; hal ini lah merupakan bukti serta wujud nyata dari apa yang dikatakan KH. ‘Abdurrahman pada saat itu. Di lain cerita, ada seorang ustad pernah berpapasan di jalan dengan KH. ‘Abdurrahman, waktu itu malam hari, pak ustad tersebut bertanya “dengan usia yang sudah begitu tua, apa jalannya kelihatan Pa. Haji?,” beliau pun menjawab, “biarlah mata saya buta sekalipun, asal tidak hati saya!”. Sungguh sosok yang sangat begitu inspiratif, dan langka untuk ditemui pada masa kini.

Sejarah perjalanan Pondok Modern As-Salam tidak mulus begitu saja, dibalik itu semua, dibutuhkan pengorbanan dan air mata untuk memaknai dan mengerti arti dari sebuah perjuangan. Dulu, pada tahun 1984; sarana beribadah santri difokuskan di Balai Pertemuan, karena memang saat itu Pondok Modern As-Salam belum punya Masjid. Tak hanya itu, Balai Pertemuan juga sekaligus menjadi sarana belajar santri. Suatu ketika, KH. ‘Abdurrahman pernah menangis melihat keadaan santri, yang tertetes air hujan saat belajar di serambi Balai Pertemuan.Lalu santri tersebut bertanya kepada beliau. Kenapa Pa. Haji menangis? Jawab beliau sambil menahan air mata, dan menunjukan kebesaran jiwa pada santrinya, “Nanti, 10 Tahun lagi, kita pasti punya Masjid!!” Nampaknya, kalimat itu bukanlah omong kosong belaka. Tahun 1994, pondasi Masjid Jami’ As-Salam telah rampung. Di tahun itu juga KH. Abdurrahamn wafat, tepatnya pada tanggal 17 September 1994. Tahun 1995, Masjid tersebut sudah megah dan dapat dipakai sampai saat sekarang ini.Memang jenazahnya, tidak bisa disholatkan di Masjid. Tetapi Masjid itulah saksi bisu dari petuah Sang visioner. KH. ‘Abdurraham memang telah tiada, namun Jiwa Keikhlasan, Kesabaran, dan ketekunan Beliau akan tetap menjadi teladan.

Akhirnya, Pondok Modern As-Salam hingga saat ini berkembang dan akan selalu maju terus dengan dorongan do’a serta usaha dari semua kalangan terlebih utama dari kiprah alumni-alumninya. As-Salam lama telah tiada namun As-Salam baru akan selalu ada. As-Salam baru tidak akan ada kalaulah pada waktu itu KH. ‘Abdurrahman putus asa dan mengalah bahkan menyerah. Inilah KH. ‘Abdurrahman seorang tokoh masyarakat yang dermawan serta sederhana. Setelah berjuang mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan pesantren, pada 17 September 1994 genap di usia 90 tahun, KH. ‘Abdurrahman meninggal dunia.

Sumber : Rizqi Fauzi Yasin
(Alumni Pondok Pesantren As-Salam. Sukabumi, Jawa Barat)