Syekh ‘Abul Fadhl As-Senory At-Tubany

0

Senori, salah satu Kota Kecamatan di Kabupaten Tuban Jawa Timur. Namanya harum seharum nama ulama guru para ulama Indonesia. Syekh ‘Abul Fadhl As-Senory At-Tubany. Meski beliau sudah wafat, namanya tidak bisa hilang dari ingatan semua orang. Bahkan berkat beliau, nama Senori juga ikut harum. Kiai Fadlol memang fenomenal, kisahnya dari kecil hingga besar sebagaimana yang dituturkan oleh putra pertamanya, KH. Abdul Jalil selalu menarik untuk disimak dan di-suritauladani.

Syekh ‘Abul Fadhl As-Senory At-Tubany bernama lengkap Syekh Abul Fadhol Bin KH. Abdus Syakur Bin Muhsin Bin Saman Bin Mbah Serut. Lahir tahun 1921 M di Sedan Rembang Jateng kemudian pindah ke Kebonharjo Kecamatan Jatirogo, dan meninggal tahun 1991 M di makamkan di Senori Tuban Jatim. Beliau terlahir dari pasangan Kiai Abdus Syakur dan Nyai Sumiah Binti Kiai Ibrahim. Dan ayahnya, Kiai Syakur adalah santri Kiai Shaleh Darat Semarang serta pernah belajar di Haramain kepada Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Abu Bakar Syata, Syekh Sayyid Zaini Dahlan dan lain-lain. Menarik dari Kiai Syakur adalah kesadaran Literasinya, setiap kali selesai membaca kitab di depan para santrinya, selalu disertai anjuran agar para santrinya menuliskan kembali apa yang dibaca beliau, termasuk anjuran itu berlaku kepada putranya; Kiai Fadhol.

Di saat usia baru 9 tahun sudah hafal Al-Quran  dalam waktu dua bulan. Padahal rata-rata orang menghapal al-Qur’ an itu butuh waktu 3 sampai 4 tahun. 15 juz yang awal ditempuh dalam satu bulan setiap satu juz dibaca 3 kali dalam satu jalsah dan langsung hapal dan 15 juz yang akhir juga ditempuh satu bulan dengan metode setengah juz di baca 3 kali dan langsung hapal.

Beliau ketika kecil sering nguping saat abahnya mbalah kitab bersama santri-santri. Bila sang abah sudah selesai, gantian beliau yang membaca kitab yang sama sambil menerangkan isinya persis seperti keterangan abahnya. Beliau mengaji hanya kepada abahnya, KH. Abdusy Syakur dan kepada Hadlratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang. Itu pun hanya ditempuh selama tujuh bulan. Pada saat khatam ngaji Jurumiyyah, beliau bisa baca kitab Taqrib dan kitab Fathul Mu’in. Sewaktu khatam Kafrawi, beliau bisa baca Fathul Wahab. Dan ketika khatam Al-Fiyyah di saat usianya baru 11 tahun beliau sudah bisa ngajar sekaligus menulis kitab. Ketika khatam Uqudul Juman, gaya dan tata bahasa karangan beliau menjadi penuh warna dan bernilai sastra tinggi. Metode yang digunakan dalam mengajar santri-santrinya adalah sorogan dengan satu judul kitab sampai khatam, baru setelah itu ganti kitab lain. Hal ini bertujuan agar benar-benar bisa difaham dan meresap dalam dada. Menurut beliau Al-Ilmu Fir Ro’si Laa Fil Karrosi (Ilmu itu ada di kepala bukan dilampiran kitab).

Bila jam menunjuk pukul satu malam, beliau bangun untuk melakukan qiyamullail sampai pagi. Malam-malam yang sepi dan sunyi itu diisi dengan zikir pada sang khalik. Sayup-sayup terdengar lantunan zikir dan bacaan Al-Quran dari kamar pribadinya. Ketika menjelang subuh, zikir itu ditutup dengan bacaan Hizib Saifi Mughni, Hizib Nashor, dan Hizib Bahr.

Dalam sebulan beliau bisa khatam Al-Quran sebanyak 60 kali. Sedangkan dalam menambah keilmuan, setiap 10 hari bisa khatam satu kitab besar. Itupun dalam keadaan setengah hapal isinya. Hal ini terbukti bila ada persoalan, beliau mampu menunjukkan jawaban disertai ta’birnya. Bagi beliau seakan-akan tidak ada masalah yang musykil apalagi mauquf. Sehingga KH. Maimun Zubair, Pengasuh PP. Al-Anwar, Sarang, Rembang menjulukinya dengan “Sang Kamus Berjalan”. Bila melakukan sholat selalu di awal waktu. Dalam memberi maui’dzoh atau khutbah, beliau bersikap serius namun mengena dan menyentuh perasaan. Sehingga para pendengarnya dibuat hening dan tak jarang menangis tersedu-sedu karena terbawa perasaan.

Kendati demikian, Mbah Dhol juga manusia biasa, punya anak dan keluarga yang butuh untuk di nafaqohi. Oleh sebab itu beliau juga bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Berbagai pekerjaan yang pernah dilakukaan dan dijalaninya antara lain: jadi buruh jahit, penjahit, bahkan jualan benang. Ada cerita menarik ketika beliau jualan benang. Dari daerah Kerek Tuban sampai Sedan Rembang beliau tempuh dengan jalan kaki sambil memikul benangnya. Sebuah jarak yang sangat jauh dengan beban di punggung yang tidak ringan.

Selain itu beliau juga pernah jualan kain, membuka toko, reparasi sepeda pancal dan sepeda motor, membuat barang-barang elektronik, meski beliau tidak pernah belajar elektro sama sekali. Beliau juga pernah menjadi bos becak, mendirikan pabrik rokok dan lain sebagainya.

Yang mengherankan, setiap usahanya berkembang pesat, seketika itu juga dihentikan dan ganti pekerjaan lain yang dimulai dari nol lagi. Hal ini semakin menguatkan keyakinan banyak orang bahwa beliau adalah sosok kyai yang zuhud. Tujuannya bekerja hanyalah ibadah dan sekadar menuruti perintah Allah SWT semata, bukan untuk mencari harta. Dengan memulai dari nol lagi tentu banyak kesulitan yang dihadapi, semakin banyak kesulitan, kian banyak pahala yang kan didulang, al-ajru biqodri ta’ab (pahala tergantung dari nilai kepayahannya).

Jadi menurut beliau segala sesuatu mesti diniati ibadah bahkan sampai dalam memberi nafaqoh istrinya pun tidak lepas dari dimensi ibadah. Beliau dalam memberi nafaqoh harian pada istrinya tidak memberikannya sekaligus sehari, tapi nafaqoh pagi di berikan pada waktu pagi, nafaqoh siang di berikan di siang hari dan nafaqoh sore diberikan sore. Ketika hal itu di tanyakan, jawab beliau “agar banyak niatnya sehingga banyak pula pahalanya”.

Dalam keseharian beliau sangat sederhana dan bersahaja, saking sederhananya ketika ta’ziah dalam wafatnya KH. Zubair Sarang, Rembang beliau sempat dicueki atau tidak dihormati oleh orang karena songkok hitam yang dipakai tidak lagi hitam tapi telah berubah warna menjadi merah. Baju yang di kenakan lusuh, hingga orang acuh memandangnya. Orang-orang baru tahu kalau itu adalah Mbah Dlol yang sangat terkenal itu. Setelah tanpa sengaja KH. Maimun Zubair memergokinya di tengah jalan. Karuan saja KH. Maimun Zubair langsung menciumi tangan beliau dan menempatkannya pada tempat yang layak.

Puluhan karya tulis yang telah beliau hasilkan. Beliau sudah menulis sejak masih remaja. Hanya yang patut disayangkan adalah karya tulisnya banyak yang tidak bisa dimanfaatkan sebab sebagaian ada yang terkena banjir tatkala banjir besar tahun 1971 melanda Tuban dan yang sebagaian lagi dibawa oleh murid-muridnya yang tersebar di mana-mana, sehingga sulit untuk melacaknya sekarang. Beliau dalam mengajar santrinya selalu mengarangkan materi pelajarannya baik yang berbentuk nas maupun nadzom, setelah selesai, kitab karangannya diberikan pada muridnya yang mengaji. Di antara karangan beliau yang sudah beredar adalah:

  1. Kitab Tashilul Masalik Syarah Al-Fiyyah Ibnu Malik.
  2. Kitab Kasfyfuttabarih Fi Sholatittaroweh.
  3. Kitab Ahli Musamaroh Fi Bayani Auli’il Asyroh.
  4. Kitab Durrul Farid Fil limit Tauhid.

Dan beberapa karangan yang belum selesai seperti Kitab Nadzom Bahjatul Hawi, Kitab Nadzom Jam’ul Jawami’.

Sumber : MAJALAH KAKI LANGIT Edisi 8 Th 2 2004 M.