KH. Ruhiat Abdul Ghofur

0

Pahlawan di Tatar Sunda

Kelahiran

Kiai Ruhiyat Abdul Ghafur lahir pada tanggal 11 November 1911 M/1329 H di Cisaro, Cipakat, Cipasung Singaparna, Tasikmalaya dari pasangan ibu Hj. Umayah yang wafat pada tahun 1932 dan ayah H. ‘Abdul Ghofur yang wafat pada tahun 1937.

Kiai Ruhiyat Abdul Ghafur wafat pada tanggal 17 Dzulhijah 1397 H/28 November 1977 M, hari selasa pukul 13.00 dimakamkan di kompleks Pesantren Cipasung yg menjadi gerbang utama NU di Jawa Barat.

Beliau Semasa kecilnya dikirim oleh kedua orangtuanya ke Pesantren terkenal di Singaparna saat itu, Pesantren Cilenga, yang diasuh oleh Kiai Sobandi atau Syabandi, murid Syekh Mahfudz At-Tarmasi (Termas). Di Cilenga pada saat itu didirikan Sekolah tingkat menengah Matla’ An Najah, Syekh Ruhiat mengaji di Cilenga pada tahun 1922-1926 M. Selama tahun 1927 s.d. 1928 ia berkeliling ke pesantren Sukaraja, Garut asuhan Kiai Emed, pesantren Kubang, Cigalontang, Tasikmalaya asuhan Kiai Abbas Nawawi, dan pesantren Cintawana Singaparna asuhan Kiai Toha yang pernah pula menjadi santri Syekh Mahfudh al-Tarmasi.

Kiai Sobandi adalah alumni Pesantren Kudang Tasikmalaya, yang meneruskan pendidikannya di Masjid Al-Haram, Makkah, di bawah asuhan Syekh Mahfudh At-Tarmasi. Syekh Mahfudh At-Tarmasi inilah yang menjadi guru dari sejumlah santri yang kemudian menjadi tokoh-tokoh penting NU seperti Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Tidak mengherankan kalau kiai Sobandi mengadopsi sistem madrasah dan mendukung kelahiran NU, seperti di Tremas dan Tebuireng, dan dalam pengajiannya sudah menggunakan bahasa Sunda.

Pernikahan

Melalui Kiai Sobandi dan Kiai Toha, silsilah keilmuan Ruhiat sampai pada Syekh Mahfudh Termas. Setelah menikah dengan Aisyah, Ruhiat kembali mengaji kepada kiai Sobandi Cilenga seraya membawa serta istrinya. Aisyah adalah anak pasangan H. Muhammad Sayuti (Kepala Desa Cikunten Kecamatan Singaparna) dan Sarimaya.

Selama tahun 1927-1928 M, beliau berkeliling ke Pesantren Sukaraja, Garu asuhan Kiai Emed. Pesantren Kubang Cigalontang, Tasikmalaya asuhan Kiai Abbas Nawawi dan Pesantren Cintawana, Singaparna asuhan Kiai Toha yang pernah juga menjadi santri Syekh Mahfudz At-Tarmisi. Melalui kiai Sobandi dan kiai Toha, silisilah keilmuan Ruhiat sampai pada Syekh Mahfudz At-Tarmasi (Termas).

Setelah menikah dengan Aisyah, kiai Ruhiat kembali mengaji kepada Kiai Sobandi Cilenga seraya membawa serta istrinya. Kemudian pada tahun 1931 beliau mulai mendiami rumah yang dibangun untuknya di Cipasung, disertai sejumlah santri yang dititipkan oleh Kiai Sobandi Cilenga.

Warga Cipasung dan sekitarnya menjadi santri angkatan pertama Kiai Ruhiyat muda. Beliau memberikan pengajian di masjid dan mulai memikirkan pendirian Pesantren. Ia kemudian memutuskan untuk memperluas dukungan dengan menikahi Badrian binti Kosasih (Abah Engko). Abah Engko adalah petani kaya dari Cipancur, Singaparna.

Kiai Ruhiyat juga meneruskan sitem ngaloghat Sunda, para santri lebih mudah dalam mengaji. Santri berasal dari Sunda, Kiai-nya juga Sunda maka pengajian akan lebih lancar jika menggunakan Bahasa Sunda. Ruhiat muncul ke permukaan seraya berpijak pada basis pendukung yang tak mudah rapuh. Warga tidak hanya mengaji pada kiai, tetapi juga merasa memiliki pesantren. Santri angkatan pertama sebanyak 40 orang, sebagian besar santri yang dibawa dari Cilenga dan selebihnya warga sekitar Cipasung.

Menjadi Tokoh NU dan Pejuang NU

Kiai Ruhiyat termasuk kader yang didorong oleh Abah Sobandi untuk mengembangkan Nahdlatul Ulama (NU) di Tasikmalaya, dengan menyertakannya dalam kongres NU ke-5 di Pekalongan (1930). Kehadiran syekh Ruhiyat di Pekalongan itu dicermati oleh KH. ‘Abdul Wahid Hasyim. Sejak saat itu, Kiai Ruhiyat menjadi sahabat dekat Kiai Wahid. Apalagi tiga Muktamar berikutnya berlangsung di Cirebon (1931), Bandung (1932), dan Jakarta (1933).

Kepribadian Kiai Ruhiyat memenuhi harapan Kiai Wahid untuk mengembangkan NU yang dapat mengimbangi gerakan kaum modernis. Dalam beberapa hal, pandangan dua sahabat ini sama. Misalnya soal berpakaian dan pembaruan pengajian pesantren. Ketika menjadi mentri agama, Kyai Wahid kerap berkunjung ke Cipasung.

Tak lama setelah berita proklamasi kemerdekaan sampai di Cipasung, Kiai Ruhiyat segera pergi ke Tasikmalaya. Dengan menghunus pedang, beliau berpidato di babancong (sejenis podium permanen) alun-alun Tasikmalaya. Beliau menyatakan dengan tegas bahwa kemerdekaan yang telah diraih cocok dengan perjuangan Islam sehingga harus dipertahankan dan jangan sampai jatuh kembali ketangan penjajah. Beliau meneriakkan pekik merdeka seraya menghunus pedangnya. Kiai Ruhiyat adalah tokoh Islam pertama yang melakukan hal itu di Tasikmalaya.

Kiai Ruhiyat konsisten dengan pernyataannya itu. Ketika pemberontakan DI/TII berlangsung, ia tak goyah sekalipun gangguan dari pihak DI sangat kuat. Secara halus beliau pernah ditawari untuk menjadi salah seorang imam DI, tetapi ia menampiknya. Dengan tegas ia menolak perjuangan DI yang disebutnya “mendirikan Negara di dalam Negara” itu. Puncaknya ia hampir diculik oleh satu regu DI pada suatu malam. Delapan orang berusaha mengangkat dipan tempat Kiai Ruhiyat bermunajat. Namun, berkat lindungan Allah dipan itu tidak bergeser sedikit pun. Karena gagal mengangkat tubuh kiai, pimpinan DI lalu memaksa meminta cincin dan pena merek Parker milik kiai.

Menghadapi situasi yang tidak nyaman itu, Kiai Ruhiyat menggerakkan sejumlah jawara untuk melatih silat para santri dan warga sekitar Cipasung. Diantara pelatih silat itu adalah Kiai Mapruh, pengasuh pesantren Gentur Rancapaku yang kelak menjadi besannya.

Pada masa itu, beliau juga menjalani keprihatinan luar biasa, setelah peristiwa penculikan yang gagal itu, ia terpaksa mengungsi setiap malam hari selama tiga tahun. Selama mengungsi, pengajian digantikan oleh putra beliau KH. Ilyas Ruhiyat. Kiai Ilyas saat itu masih muda, jadi belum diperhitungkan oleh pasukan DI/TII.

Kiai Ruhiyat keluar-masuk penjara tak kurang dari empat kali. Pada 17 November 1941 ia ditangkap dan ditahan bersama ulama lain seperti KH. Zainal Mustofa dipenjara Sukamiskin dan dibebaskan tanggal 10 Januari 1942. Alasan penahanan ini adalah karena Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda cemas melihat kemajuan Pesantren Cipasung dan Sukamanah. Keduanya dinilai telah menghasut rakyat untuk bersikap anti-penjajahan yang dianggap dapat mengganggu stabilitas.

Bersama puluhan kiai, pada akhir Februari 1942 ia dijebloskan ke penjara di Ciamis. Ia hanya tiga hari didalamnya karena keburu datang bala tentara Jepang yang mengambil alih kekuasaan atas Hindia Belanda pada awal Maret 1942.

Pada 1944, beliau dipenjara oleh pemerintah bala tentara Jepang selama dua bulan, sebagai dampak dari pemberontakan KH. Zainal Mustafa di Sukamanah pada 25 Februari. Pada saat itu, kiai Cipasung dan kiai Sukamanah lazim disebut dua serangkai dan sama-sama aktif dalam organisasi NU. Namun, ketika kiai Sukamanah bertekad melawan Jepang, keduanya membuat kesepakatan. Kiai Sukamanah tidak akan melibatkan NU secara organisasi dan perjuangannya bersifat pribadi. Secara organisasi, Kiai-kiai Sukamanah menyatakan keluar dari NU. Dengan kesepakatan ini, jika terjadi akibat buruk dari perlawanannya, maka organisasi NU tidak akan terbawa-bawa dan Kiai Ruhiat tetap bisa mengembangkan NU di Tasikmalaya serta Jawa Barat. Kesepakatan ini dibuktikan oleh Kiai Ruhiyat lewat keterlibatannya di NU sampai tingkat pusat (PBNU). Ia pernah menjadi A’wan (anggota pleno) Syuriyah PBNU periode 1954-1956 dan 1956-1959, serta perkembangan NU di Tasikmalaya dan jawa Barat yang ditunjang oleh para alumni Cipasung.

Kiai Ruhiyat dijebloskan lagi kepenjara Tasikmalaya lalu pindah ke Sukamiskin selama sembilan bulan pada Agresi Militer Belanda II (1948-1949), dan dibebaskan setelah penyerahan kedaulatan. Ini membuktikan bahwa kiai Ruhiat seorang tokoh non-kooperatif sejati yang sangat dibenci penjajah. Sebelum masuk penjara yang terakhir itu, pasukan tentara Belanda datang ke pesantren pada waktu ia sedang sembahyang Ashar bersama tiga orang santri. Tanpa peringatan apa pun, tentara Belanda itu memberondongkan peluru kea rah mereka yang sedang shalat. Kiai luput dari tembakan, tetapi dua santrinya tewas dan seorang lagi cedera di kepala.

Sekalipun mendukung sepenuhnya perjuangan Partai NU, ia tak mau menjadi politisi yang berjuang di parlemen. Menurutnya, bagian politik itu sudah ada ahlinya dan ia cukup memintin pesantren saja. Kalau pesantren ditinggalkan, ia khawatir pengajar masyarakat di bidang agama akan semakin berkurang.

Kiai Ruhiyat adalah sosok yang selalu menginginkan perdamaian jika ada konflik diantara pemimpin umat. Jika sejumlah tokoh yang membawa konflik organisasi atau partai dan memintanya mendukung salah satu pihak datang ke rumahnya, maka kiai Ruhiyat konsisten mendukung upaya islah. 

Kiai Ruhiat konsisten memilih jalur pesantren sebagai perjuangan sebagai pengabdiannya, bahkan sebagai tarekatnya. “Tarekat Cipasung adalah mengajar santri” demikian kesaksian HM. Ihrom, salah seorang pengagum Ajengan Ruhiat dari Paseh, Tasikmalaya. Syekh Ruhiat adalah ayahanda Rais Aam PBNU 1994-1999 KH. Ilyas Ruhiat atau kakeknya pelukis dan penyair Acep Zamzam Noor. Dalam NU, Syekh Ruhiat pernah jadi A’wan Syuriyah PBNU periode 1954-1956 dan 1956-1959.