Syekh Imam As-Sanusi

0

Nama dan Nisbatnya

Beliau bernama lengkap Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu’aib as-Sanusi. As-Sanusi merupakan nisbat terhadap suatu kabilah di Maroko. Ia juga disebut al-Hasani, karena penisbatan terhadap Al-Hasan Bin ‘Ali Bin Abi Thalib dari jalur ibunya. Beliau juga bernisbat pada daerah Tilmisan. Beliau merupakan orang alim, shalih, zahid, dan pembesar ulama daerah Tilmisan pada masanya. Beliau Syaikh dengan keilmuan multidisipliner (pakar hadits, kalam, qira`ah, mantiq dan selainnya), pribadi yang ahli ibadah, ustadz, muhaqqiq, yang khusyu’, dan disebut dengan nama Abu Ya’qub Yusuf.

Usia, Tahun Kelahiran, dan Wafatnya

As-Sanusi hidup dalam rentang usia 62 atau 63 tahun. Beliau lahir pada 832 H/1428 M, dan wafat pada 895 H/1490 M.

Guru dan Pendidikannya

As-Sanusi tumbuh dalam suasana yang kondusif, penuh berkah, keutamaan, dan kesalehan. Ia berguru kepada ulama yang di antaranya adalah Asy-Syekh Yusuf bin Umar yaitu ayahnya sendiri, Asy-Syekh Al-‘Allamah Syekh Nashr Az-Zawawi, Al-‘Allamah Muhammad Bin Tuzat, dan As-Sayyid Asy-Sarif Abu Al-Hajjaj Yusuf Bin Abu Al-‘Abbas Bin Muhammad Asy-Syarif Al-Husaini, yang mana ia belajar berbagai ilmu qira’ah darinya. Ia belajar Ilmu Ashtharlab “alat khusus” yang digunakan untuk mengetahui urusan perbintangan secara mudah dari Al-‘Alim Al-Mu’dil Abu ‘Abdillah Al-Habbab, belajar fikih dari Al-Faqih Al-Jallab dan kepada Al-Wali Al-Kabir Ash-Shalih Al-Hasan Abrakan Ar-Rasyidi beliau sering mendatanginya, mengambil manfaat dan berkah darinya, ia sangat mencintainya, mempriaritaskannya daripada dirinya sendiri, dan mendoakannya, sehingga Allah mengabulkan doanya, belajar kitab Ar-Risalah kepada Al-Hafizh Abu Al-Hasan At-Taluti “saudara seibunya”, belajar kitab Al-Irsyad karya Abu Al-Ma’ali (Imam Al-Haramain) dan kitab At-Tauhid dari Al-Imam Al-Wara’ Ash-Shalih Abu Al-Qasim Al-Kanabasyi, belajar Shahih Al-Bukhari Muslim dan kitab hadits lainnya dari Al-Imam Al-Hujjah Al-Wara’ Ash-Shalih Abu Zaid Ats-Tsa’alibi, beliau juga meng-ijazah-kan kepadanya semua ijazah yang di-ijazah-kan kepadanya. Beliau mengambil thariqah dari Al-Imam Abu Zaid Ats-Tsa’alibi dan dari Al-Imam Al-‘Allamah Al-Wali, Az-Zahid An-Nashih Ibrahim At-Tazi yang memakaikan jubah kesufian kepadanya dan menceritakannya dari para gurunya, beliau juga meriwayatkan banyak riwayat yang bersilsilah dan selainnya darinya, belajar Ilmu Faraidh dan Hisab dari Al-‘Alim Al-Ajall Ash-Shalih Abu Al-Hasan Al-Qalshadi Al-Andalusi, beliau juga mengijazahkan seluruh riwayat yang diriwayatkannya, dan belajar dari ulama lainnya. Keilmuan, hidayah, kesalehan, sirah, kezuhudan, kewira’iyyan, dan ketakwaan As-Sanusi sangat terkenal.

Derajat Keilmuan dan Sirrahnya

Beliau menguasai berbagai ilmu lahiriyah secara sempurna, menguasai ushul sekaligus furu’nya. Beliau tidak berbicara tentang suatu disiplin ilmu kecuali orang yang mendengarnya menyangka bahwa beliau tidak menguasai ilmu lain, kecuali ilmu tauhid dan ilmu ‘aqli. Beliau tidak membaca ilmu lahiriyyah kecuali keluar darinya berbagai ilmu akhirat, terlebih tafsir dan hadits, karena seringnya muraqabah terhadap Allah Ta’ala.

Muridnya, al-Malali, berkata:

“Aku mendengarnya berkata : Hendaknya manusia berjalan dengan pelan dan melihat depannya, agar tidak menginjak hewan apapun di permukaan tanah”.

” Ketika ia melihat orang memukul hewan dengan pukulan yang keras, berubahlah raut mukanya, dan berkata kepadanya: Pelanlah wahai orang yang diberkahi. Beliau melarang para guru memukul siswanya”.

Al-Malali berkata:

“Aku mendengar beliau berkata: Allah Ta’ala mempunyai seratus rahmat, dan tidak ada yang dapat mengharapkannya kecuali orang yang bersifat merahmati dan menyayangi seluruh makhluk.”

Wafat

Saat merasakan sakit yang mendekati kematiannya, beliau tidak mampu pergi ke masjid dan selalu di kamarnya sampai meninggal. Beliau menderita sakit selama 10 hari. Menjelang kewafatannya anak saudaranya men-talqin-nya berulang kali, lalu beliau menoleh dan berkata kepadanya: “Adakah selainnya?” Lalu anak perempuannya berkata: “Anda berjalan dan meninggalkan kami.” Beliau menjawab: “Insya allah, surga segera menjadi tempat berkumpul kita.” Saat kewafatannya beliau berdoa:

“Aku memohon kepada Allah Subhanah ridho menjadikan-ku dan orang yang mencintaiku saat mati mampu mengucapkan dan meyakini dua kalimat syahadat.” Orang-orang mencium aroma Misik dari nafas saat beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Karya-Karyanya

Adapun terkait karya-karyanya, al-Malali mengatakan: Di antaranya :

  1. Syarah al-Kabir atas kitab al-Haufiyyah yang disebut dengan judul al-Muqarrab al-Mustaufa, yang sangat tebal dan banyak ilmunya, yang ditulisnya saat berusia 19 tahun. Saat gurunya, al-Hasan Abrakan mengetahuinya, ia sangat kagum, dan memerintah agar merahasiakannya sampai genap berusia 40 tahun, agar terhindar dari serangan ‘ain. Beliau berkata kepadanya: “Sepengetahuanku tidak ada bandingannya”, lalu mendoakan penulisnya.
  2. Al-‘Aqidah Al-Kubra, yang disebutnya dengan judul ‘Akidah Ahli Tauhid dalam beberapa kurrasah (buku kecil) segi empat yang merupakan tulisan pertamanya dalam disiplin ilmu tauhid.
  3. Al-Aqidah Al-Wustha dan Syarahnya dalam Kurrasah. Katakan: “Al-‘Aqidah Al-Wustha ini mempunyai Syarah yang sangat bagus karya Syekh ‘Ulaisy, dan terkait Syarah As-Sanusi pada kitab Al-‘Aqidah al-Wustha ini ada Hasyiyah yang agung derajatnya karya Syekh Yasin Al-Fadhany”.
  4. Al-Aqidah Ash-Shughra (inilah yang disebut Ummul al-Barahin. Yang merupakan pokok-pokok akidah yang biasa disebut dengan nama ‘Akidah, sebagaimana di-isyarat-kan dalam syarahnya atas kitab tersebut. Syekh As-Sanusi berkata: “Kitab itu tiada bandingnya sejauh yang aku tahu”, yang mencukupi bagi orang yang mencukupkan diri dengannya dari akidah-akidah selainnya. Aku katakan: “Benar apa yang dikatakannya. Sebab sungguh orang yang membaca kitab Matan ini dapat mengambil manfaat darinya dan mendapatkan hidayah pada kebenaran yang nyata dalam waktu yang singkat.
  5. Syarah Isaghuji karya al-Burhan Al-Biqa’i yang banyak ilmunya, Mukhtashar-nya yang mengagumkan yang memuat materi lebih daripada Al-Khunaji, dan Syarahnya yang sangat bagus. Telah maklum bahwa Matan Al-Khunaji termasuk kitab ilmu manthiq yang paling dalam. Syarah As-Sanusi tersebut mempunyai Hasyiyah yang agung karya al-Baijuri. Syarahnya yang mengagumkan atas Al-Bukhari, sampai Bab Man Istabra’a Li Dinihi.
  6. Syarah Musykilat Al-Bukhari dalam dua kurrasah.
  7. Mukhtashar Az-Zarkasyi ‘Ala Al-Bukhari.
  8. Syarah Jamal Al-Khunaji Fi Al-Manthiq.
  9. Syarah Mukhtashar Ibnu Rif’ah, yang mampu mengurai kerumitannya.
  10. Tafsir al-Qur’an sampai firman Allah :

    “وأولئك هم المفلحون”

    “dalam tiga kurrasah yang tidak sempat diselesaikannya”.

  11. Tafsir Surat Shad dan lain-lain.”

 

Murid-Muridnya :

Banyak ulama berguru kepadanya. Di antaranya adalah :

  1. Ibnu Sha’d, Abu Al-Qas Az-Zawawi.
  2. Ibnu Abi Madyan.
  3. Syekh Yahya bin Muhammad.
  4. Ibnu Al-Hajj al-Baidari.
  5. Ibnu Al-‘Abbas Ash-Shagir.
  6. Waliyullah Muhammad al-Qala’i, pemuka sufi pada masanya.
  7. Syekh Ibrahim Al-Judaiji.
  8. Syekh ‘Ibnu Malukah dan masih banyak lagi.