Syekh Ahmad Bin Siddiq Al-Ghumari Al-Maghribi

0

Syekh Ahmad Bin Siddiq al-Ghumari al-Maghribi At-Tonjawi. Ulama pakar Hadits dan Tasawwuf dari kota Tanger-Maroko (1320 H- 1380 H).

Sangatlah pantas jika gelar “Negeri para ulama” itu disandang oleh Maroko. Terutama ulama-ulamanya yang menonjol dalam dunia tasawwuf. Lihat saja, berapa banyak aliran Tariqah yang berkembang di Negeri yang bermadzhab Maliki tulen ini, ada Tariqah Tijaniyah, Syadziliyah, Masyisyiyah, Siddiqiyah, Kattaniyyah, dsb. Dalam bidang hadits pun, Maroko adalah gudangnya ulama hadits.  Disini ada pakar hadits yang sangat terkenal, yaitu Muhammad Siddiq al-Ghumari. Bahkan karya-karya beliau sudah menjadi santapan para santri di Indonesia.

Keluarga al-Ghumari ini selain dikenal sebagai ahli Hadits, mereka juga menonjol dalam bidang tasawwuf dan Fiqih.  Nah, disini saya akan mencoba membaca biografi singkat salah satu putra dari Muhammad Sidddiq Al-Ghumari, yaitu Ahmad ibn Siddiq al-Ghumari.

Ahmad ibn Siddiq Al-ghumari At-Tonjawi lahir di desa Bani Sa’iid, wilayah Ghumarah, sebelah utara Maroko, pada hari Jum’at 27 Ramadlan 1320 H /1901 M. Setelah 2 bulan kelahiran beliau, ayahnya membawa beliau pulang ke kota Tonjah (Tanger). Ayah beliau merupakan salah seorang Babat kota Tanger atas perintah gurunya (1319 H). Kota Tanger adalah kota wisata pantai yang terletak dekat Jabal Thoriq, sebelah utara Maroko. Nasab beliau masih memiliki keturunan dengan Nabi Muhammad Saw. yaitu dari cucu Beliau, Hasan Bin Ali bin Abi Thalib.[1]

Ahmad Bin Siddiq al-Gumari merupakan anak sulung dari 7 orang bersaudara. Bukan hanya sulung dari sudut susunan keluarga, bahkan sulung dari sudut keilmuan sehingga adik-adiknya berguru dengan beliau. Ayah beliau, Muhammad Siddiq al Ghumari merupakan tokoh ulama’ yang menjadi rujukan para ulama’ Maroko. Dan ibunya, Al-Zahra’ binti Abdul Hafizh bin Ahmad ibn ‘Ajibah juga merupakan wanita sholehah yang taat beragama. Kakek beliau dari ibunya, Syekh Ibnu ‘Ajibah al-Hasani (W. 1224 H.) merupakan seorang ulama’ yang tidak asing lagi bagi masyarakat Maroko. Beliau adalah penulis kitab tafsir al-Quran yang berjudul al-Bahrul Madid Fi Tafsiril al-Qur’anil al-Majid” dan kitab tasawwuf yang berjudul Iqozul Himamyang merupakan syarah kitab al-Hikam karangan Imam al-‘Allamah al-Faqih as-Sufi Ahmad ibn ‘Athoillah al-Sakandari. [2]

Setelah Beliau berusia lima tahun, ayahnya memasukkannya di pesantren Tahfizh, yang diasuh murid ayahnya sendiri, al-Arabi ibn Ahmad Budarah. Pada usia 9 tahun, yaitu tahun 1329 H/1909, beliau naik Haji bersama ayahnya. Kemudian setelah pulang dari Makkah, ayahnya menganjurkan beliau untuk belajar di Al-Azhar, Mesir. Saat itu usia Beliau masih 19 tahun.[3] Ketika di Mesir beliau mempelajari kitab-kitab hadits hingga 2 tahun tidak keluar rumah kecuali untuk sholat Jum’at.[4]

Di mata para ulama, beliau merupakan ahli hadits yang mumpuni sehingga medapatkan gelar “al-Hafizh”[5], “al-Muhaddits”, dan “al-Imam”. Beliau termasuk orang yang sangat wara’ dan zuhud. Sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Taqiyuddin al-Hilali (seorang tokoh Salafi):

إنه كان زاهدا في الدنيا ولو أراد أن يعيش كالملوك لفعل

(Syekh Ahmad ibn Siddiq al-Ghumari itu adalah orang yang benar-benar zuhud terhadap dunia walaupun sebenarnya beliau bisa hidup layaknya seorang raja). Syekh Ahmad ibn Shiddiq al-Ghumari sangat membenci kepada orang islam yang meniru cara berpakain dan berperilaku layaknya orang kafir. Sehingga beliau mengarang kitab yang berjudul al-Istinfar Li Ghazwi at-Tasyabbuh Bil Kuffar”.[6]

Menurut as-Syarif Muhammad Hasan Ibn ‘Ali al-Kattani al-Atsari, dalam tesisnya yang berjudul “Fiqh al-Ghumari” mengatakan : “Syekh Ahmad Shiddiq al-Ghumari merupakan satu-satunya keluarga Al-Ghumari yang bermadzhab Syafi’i. Beliau telah meningggalkan Madzhab Maliki dan berpindah ke Madzhab Syafi’i, barang kali hal itu dilakukan karena buah cintanya terhadap hadits dan atsar sahabat.”[7]

Syekh Ahmad telah banyak memiliki murid, diantaranya adalah saudara-saudaranya sendiri seperti : ‘Abdullah, Muhammad Zamzami, ‘Abdul Hay, ‘Abdul Aziz,  al-Hasan, dan Ibrahim. ‘Abdullah bin Abdul Qadir at-Talidi al-Idrisi al-Hasani ia sekarang menjadi Muhaddits yang memiliki sekolah khusus dalam bidang hadits di kota tanger. Sedangkan Syekh Muhammad al-Muntashir bin Muhammad az-Zamzami bin Muhammad bin Ja’far al-Kattani ia telah belajar di Univeritas Damaskus dan Ummul Qura’ serta menjadi penasehat Raja Faisal (W. 1419).

Beliau memiliki lebih dari 100 guru yang terbagi menjadi dua. Pertama, beliau belajar dengan mereka secara dirayat. Kedua, beliau belajar hanya secara riwayat dan meminta ijazah dari mereka. Diantara guru-guru beliau adalah:

– Ayahnya sendiri, Muhammad bin Shiddiq al-Ghumari, beliau adalah guru Thariqah Siddiqiyyah yang beraliran Syadziliyyah di kota Tanger (W 1354 H).

– Al-Imam al-Muhaddits al-Hafizh al-Faqih as-Sufi Muhammad bin Ja’far bin Idris al-Kattani yang merupakan ulama besar dari kota Qurawiyyin, Fes-Maroko (W 1345 H). dan masih banyak lagi.

Syekh Ahmad bin Siddiq al-Ghumari mempunyai 250 karya tulis ada yang berupa kitab dan makalah-makalah yang tertulis dalam lembaran-lembaran kertas. Berikut ini diantara karya-karya Beliau :

  1. (درء الضعف عن حديث (من عشق فعف      –  (Dalam bidang Hadits).
  2. هداية الرشد لتخريج أحاديث بداية ابن رشد     –  (Dalam bidang Hadits).
  3. البرهان الجلي في تحقيق انتساب الصوفية لعلي  – (Dalam bidang Tasawwuf). dan masih banyak lagi.

Beliau wafat pada hari Ahad, awal bulan Jumadi ats-Tsaniyah tahun 1380 H/1960 M. setelah terbaring di atas kasur selama delapan bulan karena menderita penyakit jantung, yang sebelumnya juga pernah menimpanya.[8] Kemudian Jenazah beliau dimakamkan di Kairo, Mesir.

[1] Abdullah Ibn Al-Ghumari, Sabil at-Taufiq Fi Tarjamati ‘Abdullah Ibn Siddiq, Cetakan Pertama, Daarul Bayan, Cairo 1984 hal. 55.
[2] Ibid, hal. 9.
[3] Mustofa Sibri, muqoddimah al-Madawi, hal. 54.
[4]  Mahmud Sa’id , Tasynif al-Asma’.
[5] Gelar tertinggi yang diberikan kepada ahli Ilmu Hadits.
[6] Fiqih al-Ghumari, hal. 61.
[7] As-Syarif Muhammad Hasan Ibn ‘Ali al-Kattani al-Atsari, Fiqh Al-Ghumari, Hal 203. Daarul Kutub , Beirut Libanon, 2005.
[8] At-Talidi, Hayatus Syaikh, Hal. 113.