Kitab Sullamur Raja lil Wushul Ila al-Fazh Safinatin Naja – Karangan Syekh ‘Utsman bin Muhammad Sa’id Tunkal al-Indonisi

0

Nama Kitab : Sullamur Raja lil Wushul ila Alfazh Safinatin Naja.
Pengarang  : Syekh ‘Utsman bin Muhammad Sa’id Tunkal al-Jambi al-Indonisi al-Makki.

Dapat didownload di :
http://bit.ly/Kitab-Sullamur-Raja-lil-Wushul-ila-al-Fazh-Safinatin-Naja

Kitab ini berjudul Sullamur Raja lil Wushul ila Alfazh Safinatin Naja karangan seorang ulama Nusantara asal Tungkal (Jambi, Sumatera). Beliau seorang pengajar di Masjidil Haram dan Madrasah al-Shaulatiyah di Makkah pada paruh pertama abad ke-20 M, yaitu Syekh ‘Utsman bin Muhammad Sa’id Tunkal al-Jambi al-Indonisi al-Makki.

Sullamur Raja merupakan syarah atau penjelasan berbahasa Arab atas teks Safinatun Naja yang berisi kajian dasar-dasar ilmu fiqih madzhab Syafi’i yang dikarang oleh Syekh Sumair bin Salim al-Hadhrami, ulama besar asal Hadramaut, Yaman, yang kemudian menetap dan meninggal di Batavia (Jakarta).

أما بعد. فهذه تقريرات نفيسة بعبارات منيفة سهلة التناول والهجا على ألفاظ سفينة النجا في الفقه على مذهب الإمام الشافعي رضي الله عنه لجامعها الفقير الى عفو من عليه يتوكل عثمان بن محمد سعيد تنكل الاندونيسي ثم المكي طويلب العلم بالمدرسة الصولتية الهندية المباركة بمكة المكرمة. وسميتها سلم الرجا للوصول الى حل ألفاظ سفينة النجا. أثابه الله على عمله خيرا وجعله خالصا لوجهه الكريم وسببا للفوز بجنات النعيم

“Amma ba’du. Ini adalah sebuah ulasan yang ber-nas, dengan ungkapan kalimat yang tangkas, yang mudah untuk disimak dan difahami, atas matan (teks) kitab Safinah al-Naja dalam fiqih madzhab Imam Syafi’i R.A., yang diupayakan oleh seorang hamba yang fakir kepada pengampunan Dzat yang kepada–Nya ia berserah diri, yaitu ‘Utsman anak Muhammad Sa’id dari Tungkal (Jambi), Indonesia, yang kemudian menjadi penduduk Makkah, seorang pelajar kecil di Madrasah al-Shaulatiyyah al-Hindiyyah yang diberkahi di kota Makkah al-Mukarramah. Aku menamakan risalah ini dengan Sullamur Raja lil Wushul ila Hill Alfazh Safinatin Naja. Semoga Allah berkenan menjadikannya sebagai karya yang beroleh ganjaran kebaikan bagi penghimpunnya, menjadikannya tulus ikhlas hanya semata-mata untuk Allah Yang Mulia, dan menjadi sebab atas memperoleh surga yang penuh kenikmatan.”

Kitab Sullamur Raja ini berkerabat dengan kitab Kasyifatus Saja karangan Syekh Nawawi Banten (w. 1897)  yang juga merupakan syarah teks Safinatun Naja. Dua kitab tersebut memiliki keistimewaan masing-masing. Kitab yang pertama (Sullamur Raja), populer di kalangan pelajar Madrasah al-Shaulatiyyah di Makkah karena memang pengarangnya mengajar di institusi tersebut serta kitab karangannya dijadikan bahan acuan pelajaran di sana. Sementara kitab kedua, yaitu Kasyifatus Saja, yang merupakan karangan Syaikh Nawawi Banten, dikaji di hampir semua pesantren tradisional di Nusantara sebagai bahan utama acuan kajian fikih untuk kalangan pelajar pemula.

Selain Sullamur Raja karangan Syekh Utsman Tungkal dan Kasyifatus Saja karangan Syaikh Nawawi Banten, terdapat juga karya lain yang ditulis oleh ulama Nusantara dalam bahasa Arab yang merupakan pengembangan dari teks Safinatun Naja. Di antaranya adalah Nailur Raja fi Manzhumah Safinatun Naja karangan Syekh Siraj Cirebon, yang kemudian disyarah oleh KH. Sahal Mahfuzh dengan judul Syarh Faidhul Hija ‘ala Nailir Raja. Ada juga Tanwirul Hija fi Manzhumah Safinatin Naja karangan Syekh Ahmad Qusyairi bin Shidiq Pasuruan, yang kemudian disyarah oleh Syekh Muhammad ‘Ali bin Husain al-Maliki al-Makki, Mufti Madzhab Maliki di Makkah, dengan judul Syarh Inaratud Duja ‘ala Tanwiril Hija.

“Kitab Sullamur Raja juga mendapatkan taqrizh (semacam endorsement) dari tiga orang ulama besar Makkah, yaitu Syekh Hasan Fad’aq, Syekh Abu Bakar bin Salim al-Bar, dan Syekh ‘Abdullah bin Ahmad al-Haddar.”

Syekh Utsman Tungkal dilahirkan di Kampung Tungkal, Jambi, pada 1320 H (1903 Masehi). Ayahnya, Syekh Muhammad Sa’id, merupakan salah satu ulama terkemuka di kampung halamannya. Pada 1336 Hijri, Syekh Muhammad Sa’id mengirimkan Utsman kecil untuk mendalami ilmu agama di Madrasah Nurul Islam di Tanjung Pasir, Jambi. Pada 1341 H, Utsman muda pergi ke Makkah untuk naik haji dan melanjutkan pengembaraan ilmiahnya di Kota Suci itu.

Di sana, Syekh Utsman belajar di Madrasah al-Shaulatiyyah hingga lulus pada 1348 H. Di antara kawan satu angkatan beliau di madrasah tersebut adalah Syekh Muhsin bin ‘Ali al-Musawa al-Falambani, ulama asal Palembang yang kemudian mengajar di Masjidil Haram dan termasuk salah satu pendiri utama Madrasah Dar al-‘Ulum, Makkah pada 1936.

Di antara guru-guru Syaikh Utsman Tungkal di Makkah adalah Syekh Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughuri al-Makki (Syekh Mukhtar Bogor), Syekh Mahmud Zuhdi al-Fathani (Syekh Mahmud Pattani), Syekh ‘Abd al-Qadir al-Mandaili (Syekh Abdul Qadir Mandailing Tua), Syekh Hasyim Syatha, Syekh ‘Umar Hamdan al-Mahrasi, Syekh Habibullah al-Sinqithi, Syekh Hasan al-Masyath, Syekh Sa’id al-Yamani, Syekh Hasan bin Sa’id al-Yamani, Syekh ‘Ali bin Husain al-Maliki al-Makki, dan lain-lain.

“Syekh Utsman Tungkal kemudian mendapatkan lisensi untuk mengajar di beberapa madrasah di Makkah, seperti Madrasah al-Shaulatiyyah, Madrasah al-Fakhriyyah, Madrasah Dar al-‘Ulum, Madrasah al-Sa’diyyah, termasuk mengajar di Masjdil Haram.”

Selain Sullamur Raja, Syekh Utsman Tungkal juga menulis beberapa karya lainnya, yang kesemuanya dalam bahasa Arab, seperti Manhajut Thullab fi Fadhlil ‘Ilm wal Adab dalam bidang ilmu pedagogik dan etika pendidikan, al-Jauharuts Tsamin fi Ma ‘alal ‘Abd lir Rabbinal  Mu’in dalam bidang teologi Islam (dua karya ini dicetak di Mesir pada 1382 H), Bughyatul Muhtaj bi Kull Ma Yahtaj li Kull Mu’tamir wa Haj dalam bidang panduan dan tata cara umrah dan haji, juga Arba’un Haditsa fi Ba’dh Ma Yata’allaq bis Shalat wal Masajid dalam bidang kajian hadits.