Majalah Risalah Edisi 82 Tahun XII 1439 H/Mei 2018

0

Ada NU Ada Pula Muhammadiyah

Sekitar tahun 1964, warga sebuah desa diujung timur Jawa Timur dikejutkan pemandangan baru. Beberapa anak muda salat Jum’at di masjid dengan mengenakan celana panjang dan tanpa peci. Mata beberapa orang memandang “nyalak”. Selama ini mereka salat mengenakan sarung dan peci.

Selanjutnya, di rumah seorang tokoh, tiba-tiba diselenggarakan pengajian dengan bahasa Indonesia yang diikuti laki-laki dan perempuan. Selama ini pengajian di desa itu selalu diselenggarakan dalam bahasa Jawa atau Madura. Ketika masuk bulan Ramadhan, rumah itu menyelenggarakan salat tarawih sendiri. Sesuatu yang aneh, sebab, semua orang biasanya menunaikan salat tarawih di masjid atau musalla.

Rekaat salat tarawih sudah mulai dikorting. Di lingkungan mereka salat tarawih itu 20 rakaat tambah witir tiga rekaat, dan diselenggarakan dua rekaat salam. Kini, berubah. Mereka melaksanakan salat empat rakaat salam. Jumlah tarawihnya hanya delapan rakaat, dan witirnya tiga rakaat langsung. Heboh. Anak-anak nonton mereka yang dianggap belum jamak. Adakah aliran baru keagamaan mulai masuk desa di kaki gunung Raung itu ?.

Tiba-tiba seorang melaporkan kepada ulama di desa itu bahwa kelompok itu mulai melarang tahlilan, manakiban, maulid nabi, ziarah kubur yang dianggap bid’ah. Anak-anak muda mulai diajak dan tertarik. Gurunya dari luar kota. Ternyata kemudian diketahui namanya perkumpulan Muhammadiyah.

Maka para ulama pun dibuat sibuk menjawab pertanyaan dan rujukan. Pada setiap kesempatan, para ulama selalu menjawab keresahan itu dengan jawaban-jawaban berdasar kitab kuning. Memang, tak terjadi bentrok fisik. Tapi, satu hikmahnya, para ulama menemukan jawaban semua tuduhan itu berdasarkan literatur yang mereka miliki.

Lama kelamaan, wilayah pemahaman NU dan Muhammadiyah seperti terkristal sendiri. Masing-masing saling memahami dengan dalil sendiri-sendiri. Apalagi KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy’ari (pendiri NU) adalah teman seperguruan baik di Mekkah dan ketika menimba ilmu dari Kiai Muhammad Sholeh Darat, Semarang. Keduanya belajar Ihya Ulumiddin karya monumental Imam Ghazali.

Dikisahkan, Kiai Hasyim sempat meminta muridnya di Tebuireng yang bernama Basyir untuk pulang membantu pamannya. Kiai Dahlan di awal berdirinya Muhammadiyah. Basyir adalah ayah KH Azhar Basyir, ketua PP Muhammadiyah pengganti KH AR Fachruddin tahun 1990.

Masyarakat juga dicerdaskan dengan mengalirnya buku-buku karya A. Hasan, Buya Hamka, dan lain sebagainya. Pada satu posisi juga muncul KH Siradjuddin Abbas (ulama asal Payakumbuh, Sumatera Barat) menulis buku “40 Masalah Agama” dalam empat jilid untuk menjawab itu semua. Mulai soal talqin dikuburan, tahlilan, tarawih, dan lain sebagainya. Bahkan media masing-masing juga menyajikan ‘perbedaan’ itu. Majalah Berita NU pernah menjawab serangan soal azimat yang dimuat majalah Adil, Surakarta serta menjawab soal terekat untuk menjawab tulisan Hamka tahun 1940.

Meskipun Muhammadiyah lebih tua 14 tahun dibandingkan NU, namun ’paham’ itu baru menyebar masuk di wilayah NU sejak tahun 1960-an. Selalu ada reaksi karena masuknya Muhammadiyah melalui pintu ‘faham’. Berbeda ketika Muhammadiyah masuk melalui pendidikan, maka warga Nahdliyyin menerimanya dengan dua tangan terbuka. Bukankah sekolah dan universitas Muhammadiyah maju pesat di wilayah Nahdliyyin ?.

Orang sudah lupa dengan perbedaan itu. Namun kemudian datang lagi penyerang baru dari Timur Tengah sejak tahun 2000. Mereka lebih kejam karena menuduh amaliyah Nahdliyyin sesat, bid’ah dan bahkan dimusyrikkan dan telah mengimbas jauh. Mereka menyebutnya Wahabi atau Salafi.

Maka, ketika kemudian NU dan Muhammadiyah duduk semeja, makan bersama, memberi makna besar bagi bangsa ini. Seolah meneguhkan kembali pernyataan Kapolri Tito Karnavian, dua ormas penyanggah NKRI yang telah ditorehkan melalui perjalanan sejarah. Pernyataan bersama dua organisasi itu memiliki makna penting dan kuat, harus didengar sebagai suara umat mayoritas Indonesia.

Untung ada NU dan Muhammadiyah dinegeri ini.