Pesantren Nurul Huda Pati: Mencetak Generasi Berakhlaqul Karimah, Berilmu Amaliyah dan Menjadi Uswah Hasanah

0

Profil

Dengan niat yang bulat dan tulus maka Kyai Rohmat Noor mengajak lapisan masyarakat khususnya tonggo-tonggonya untuk membangun sebuah mushola. Rencananya moshola tersebut bukan hanya sebagai tempat berjama’ah saja tetapi juga sebagai majlis ta’lim. Karena minimnya dana, beliau dengan ikhlas menjadikan sebagian rumahnya yang sebelah timur untuk menjadi musola, dan mushola tersebut diberi nama”NURUL HUDA” (beberapa cahaya petunjuk). Disinilah para tonggo teparo, sanak kerabat di gladi ngaji mulai dari alif, ba’, ta’dan sampai nawaitul al-wudlu-a yang konon ceritanya masih sangat awam alias abangan itu.
Pada tahun 1982 Alhamdulillah beliau mendapatkan rezeki pergi ke tanah suci untuk menunaikan rukun islam yang ke lima yaitu menunaikan haji. Setelah pulang dari tanah suci, beliau di dibantu keluarganya semakin memfokuskan pada majlis ta’lim yang didirikannya .
Dari waktu ke waktu seiring dengan perputaran zaman, datanglah satu persatu santri dari luar daerah untuk mukim/pondok. Dengan dibuatkan fasilitas alakadarnya yakni dengan dua gotaan (yang bermula musholla sebagai diberi satir-pembatas dari triplek), satu kamar mandi, satu dapur masak dan satu WC ceblung, terpaksa meeka ditampung. Untuk menampung jumlah santri yang semakin bertambah maka dibangunlah asrama guna tempat santri tinggal. Kebradaan asrama ini, selain untuk menampung mereka yang berasal dari tempat yang jauh juga untuk mengontrol secara langsung kegiatan santri sehingga akan menunjang pencapaian tujuan pendidikan secara optimal.
Dari majlis ta’lim hingga berkembang menjadi sebuah pondok pesantren, pesantren Nurul Huda menunjukkan kemajuan yang berarti karena mendapat dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, hingga tidak mengherankan dalam waktu yang relatif singkat pesantren ini memiliki santri yang lumayang jumlahnya. Rata-rata santri yang mondok bermukim pada waktu itu santrinya banyak yang tidak mampu karena mereka dari golongan dibawah garis kemiskinan, atau istilah jawanya “ Ati karep bondo cupet” tapi, kondisi demikian tidaklah menyurutkan niat mereka. Dengan berbekal doa restu dari simbok dan bapaknya segenggam cengkir (kencenging piker). Mereka menghabiskan masanya di Pesantren Nurul Huda.
Untuk mewujudkan impiannnya hiti, mereka terpaksa harus berbaur dengan masyarakat sekelilingnya. Demi sesuap nasi dan segenggam sangu untuk biaya mondok dan sekolahnya, ada yang menjadi pembantu rumah tangga, ada yang ngobok dan ada juga yang jualan kecil-kecilan. Dengan demikian setiap pagi harus berangkat sesuai profesinya dan setelah usai shalat dluhur mereka dihadapkan dengan studinya di madrasah karena rata-rata mereka sekolah pada siang hari. Pada waktu malam mereka dituntut untuk mengikuti aktifitas di pesantren, sehingga dengan biaya dan waktu yang efektif serta efisien mereka berharap tercapai apa yang mereka cita-citakan.
Dengan perkembangan Pesantren Nurul Huda yang signifikan, pada tahun 90-an datanglah segelintir masyarakat untuk menitipkan putrinya di pesantren Nurul Huda. Yang semula ditolak beliau, dengan pertimbangan bahwa bertanya menjaga dan bahayanya permasalahan yang timbul disebabkan oleh anak putri. Akan tetapi setelah memperoleh beberapa masukan dan saran dari berbagai pihak khususnya guru-guru beliau, akhirnya beliau menerimanya juga. Pada waktu itu jumlahnya hanya 5 (lima) santri putri.
Waktu terus bergulir sesuai dengan putaran matahari, pada tahun 1993 beliau KH. Moh Rohmat Noor dinobatkan sebagai guru thoriqoh (mursid) oleh guru beliau KH. Abdullah Zain Abdussalam, dan pada saat itu pula mulai tumbuh besar bagaikan tumbuhan di musim hujan, baik dari santri syari`at maupun thoriqohnya.
Sampai saat ini santri pesantren nurul huda thoriqoh dan syari`at sudah mencapai ribuan jumlahnya dan dengan fasilitas yang Alhamdulillah mentereng, dari pondok putra terdiri dari 9 (sembilan) kamar/gotaan yang berlantai dua dan dilengkapi dengan 7 (tujuh) WC dan 10 (sepuluh) kamar mandi, sedangkan untuk pondok putri yang berlantai 4 (empat) dengan 11 (sebelas) kamar/gotaan dan 1 (satu) auditorium yang berada dilantai 3 (tiga) yang digunakan sebagai tempat beraktivitas seperti : khitobahan, ngaji, diskusi dan lain-lain. Untuk kamar mandi dan WC pondok putri, yang berjumlah 18 (delapan belas) berada dilantai 1 dan 2 sedangkan untuk lantai 3 (tiga) untuk mencuci dan menjemur.
Pada perkembangan selanjutnya Pesantren Nurul Huda mengalami kemajuan yang menggembirakan, sehingga untuk lebih mengoptimalkan atau lebih mengembangkan Pesantren Nurul Huda, maka para pengurus memutuskan untuk membuat sebuah yayasan. Pada tahun 1999 terbentuklah sebuah yayasan dengan nama “ YAYASAN NURUL HASAN ” yang artinya (beberapa cahaya kebaikan). Yayasan ini tepatnya didirikan pada tanggal 2 Pebruari 1999 M. Kata “Nurul” diambil dari nama bapak beliau yang bernama Noor Syam dan “Hasan” diambil dari nama kakek istri beliau yang bernama Markhasan. Yayasan berazaskan pancasila dan berwawasan Ahli Sunnah Wal Jama’ah.

 

Pendidikan

 

Formal:

  1. MI
  2. MTs
  3. MA
  4. RA/TK
  5. PAUD

 

Informal:

  1. Kepesantrenan
  2. Madrasah Diniyah

 

Fasilitas

 

Masjid, pesantren, asrama, kantor, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, aula, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, praktekum bengkel, gedung teater, minimarket, lap. futsal, lap. volley, lap. basket, gudang, kamarmandi/wc, klinik kesehatan.

Ekstrakurikuler

 

1. Kajian kitab-kitab kuning (kitab salaf)
2. Pembinaan Tahfidz dan Tilawatil Al-Qur’an
3. Latihan berpidato dalam tiga bahasa (Indonesia, Inggris dan Arab)
4. berbahasa Arab dan Inggris sehari-hari
5. Diskusi dan Penelitian Ilmiah
6. Kepramukaan
7. Pengembangan Olahraga
8. Pengembangan Seni Drumband, Qashidah dan Marawis
9. Pengembangan Seni Beladiri
10. Tahfidhul Qur’an
11. Pengembangan jurnalistik dan publisistik
12. Pengembangan Exacta (Lab Skill), Ketrampilan, Wirausaha
Keorganisasian
IPNU/IPPNU

 

 

 

Alamat

Jalan Syekh Ahmad Mutamakkin Gg. 02. Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati