Wisata Ziarah Sunan Bungkul di Surabaya

0

Salah satu tempat wisata religi di Kota Surabaya adalah makam Mbah Bungkul. Tempat itu selalu ramai dikunjungi para peziarah. Terutama menjelang bulan Ramadan. Tak hanya dari Surabaya, orang-orang yang datang ke kuburan itu juga banyak dari luar kota.

Makam Sunan Bungkul ada pada sisi sebelah kanan di dalam cungkup makam di atas. Di area makam juga ada sebuah sumur yang airnya konon memiliki tuah. Karena lebih tua, ada peziarah yang datang lebih dulu ke Makam Sunan Bungkul, sebelum ke Makam Sunan Ampel, meskipun tidak ada nama Sunan Bungkul atau Ki Supo dalam riwayat Sunan Ampel.

Makam Sunan Bungkul kabarnya dikunjungi sekitar 100 orang setiap harinya, dan pada hari libur jumlahnya bisa mencapai ribuan, kebanyakan dari luar kota, ada pula yang dari luar pulau. Adanya pohon beringin besar yang tua seperti biasa dapat membantu memberikan sebuah ‘suasana’ bagi para peziarah yang datang ke tempat seperti ini.

Tokoh Mbah Bungkul memang masih menyimpan banyak misteri. Sebab tak banyak penelitian yang menguak sosok ini. Kisah-kisahnya kebanyakan berasal dari cerita rakyat.

Nama Mbah Bungkul ditemukan pada Babad Ngampeldenta, yang ditulis lebih dari seabad silam. Naskah itu kini terdapat di Yayasan Panti Budaya Yogyakarta. Selain itu, nama Mbah Bungkul juga ada dalam Babad Risakipun Majapahit Wiwit Jumenengipun Prabu Majapahit Wekasan Dumugi Demak Pungkasan.

Sejarawan asal Belanda, GH Von Faber, juga mengakui kesulitan melacak tokoh ini. Pada bukunya, Oud Soerabaia terbitan 1931, Faber mengatakan tokoh ini diliputi oleh misteri.

Sebuah kisah menyebut Mbah Bungkul dulu bernama Empu Supa, tokoh masyarakat semasa Kerajaan Majapahit di abad XV. Tokoh ini disebut-sebut punya andil dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa, khususnya di sekitaran Surabaya.

Mbah Bungkul masuk Islam setelah bertemu dengan Raden Rahmad alias Sunan Ampel. Pertemuan keduanya terjadi saat Sunan Ampel singgah ke Desa Bungkul saat melakukan perjalanan dari Trowulan, Ibukota Majapahit, menuju Kalimas di Ampel Denta.

Sekarang, tak ada nama Desa Bungkul. Tapi konon desa itu masih masuk dalam petaSurabaya pada tahun 1800-an. Dan sekarang makam Mbah Bungkul sendiri terletak di Kelurahan Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya.

Tak hanya berdoa. Banyak peziarah di makam Mbah Bungkul memburu air sumur kuno yang berada di areal makam. Para peziarah yakin air dari sumur yang konon dibuat dalam semalam oleh Sunan Ampel dan Mbah Bungkul ini tersimpan karamah.

Sehingga mereka yakin air sumur ini bertuah dan memiliki khasiat, terutama untuk kesehatan. Mereka meminum air dari sumur ini dan bahkan membawanya pulang dalam kemasan-kemasan botol.

Nama Mbah Bungkul juga diabadikan untuk nama taman yang berada di balik tembok makam. Tahun lalu taman yang disebut Taman Bungkul itu meraih penghargaan The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Taman Bungkul yang diresmikan tujuh tahun silam itu dinilai sebagai taman terbaik se-Asia.