Abu al-Qasim al-Qusyairi (Imam al-Qusairy)

0

Nama al-Qusyairi tidak asing lagi di kalangan pengkaji tasawwuf. Tambahan pula ianya sering disebut-sebut dalam kitab-kitab tasawuf, terutama sekali berkaitan dengan kitabnya, Ar-Risalah.

Bahkan nama al-Qusyairi digandingkan dan disatukan dengan nama kitab tersebut dan terkenal dengan sebutan ‘ar-Risalah al-Qusyairiyyah’ yang tak asing lagi bagi para pengkaji tasawwuf. Begitu terkenalnya penyatuan dua nama tersebut, hingga terkesan bahwa ar-Risalah adalah satu-satunya kitab al-Qusyairi yang pernah ditulis sepanjang hidupnya. Hal itu tentu saja tidak benar. Al-Qusyairi telah menulis sekitar dua puluh buku, dan ar-Risalah sebenarnya juga bukan karyanya yang terpenting. Ada kitab lain yang lebih penting dan lebih agung, yaitu ‘Lath’aif al-Isyarat’. Sebuah kitab tafsir qur’an yang masuk dalam kategori Tafsir Isyari.

Beliau dilahirkan di Ustua (Astawa), Naisabur, daerah Khurasan, Iran pada bulan Rabi`ul Awwal 376 H./986 M. Beliau meninggal di Naisabur pada 16 Rabi`ul Akhir 465 H. Atau sekitar 1074 M. Beliau hidup sekitar 90 tahun, dan menghabiskan sebahagian masa hidupnya di Naisabur.

Nama beliau adalah Abdul karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thohah bin Muhammad al-Qusyairi. Bermadzhab Syafi`i dalam fiqihnya dan Asy`ari dalam ilmu kalam(Aqidah). Panggilannya Abul Qasim, sedangkan gelarnya cukup banyak, antara lain yang bisa kita sebutkan: an-Naisaburi.

Dihubungkan dengan Naisabur atau Syabur, sebuah kota di Khurasan, salah satu ibu kota terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw. Kota di mana Umar Khayyam dan penyair sufi Fariduddin ‘Atthaar lahir. Dan kota ini pernah mengalami kehancuran akibat perang dan bencana. Sementara di kota inilah hidup Maha Guru asy-Syeikh al-Qusyairi hingga akhir hayatnya.

al-Qusyairi.

Dalam kitab al-Ansaab’ disebutkan, al-Qusyairy sebenarnya dihubungkan kepada Qusyair. Sementara dalam Ta’ajul Arus disebutkan, bahwa Qusyair adalah marga dari suku Qahthaniyah yang menempati wilayah Hadhramaut. Sedangkan dalam Mu’jamu Qabailil ‘Arab disebutkan, Qusyair adalah Ibnu Ka’b bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Qais bin Ailan. Mereka mempunyai beberapa cucu cicit. Keluarga besar Qusyairy ini bersemangat memasuki Islam, lantas mereka datang berbondong bondong ke Khurasan di zaman Umayah. Mereka pun ikut berperang ketika membuka wilayah Syam dan Irak. Di antara mata rantai keluarganya adalah para pemimpin di Khurasan dan Naisabur, namun ada juga yang memasuki wilayah Andalusia pada saat penyerangan di sana.

al-Istiwaiy

Mereka yang datang ke Khurasan dari Astawa berasal dari Arab. Sebuah negeri besar di wilayah Naisabur, memiliki desa yang begitu banyak. Batas batasnya berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Dan dari kota itu pula para Ulama pernah lahir.

asy-Syafi’y

Dihubungkan pada mazhab asy-Syafi’y yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’y. (150-204 H./ 767-820 M.).

Gelar Kehormatan

Ia memiliki gelar gelar kehormatan, seperti : al-Imam, al-Ustadz, asy-Syekh (Maha Guru), Zainul Islam, al-jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat), dan seterusnya.

Nama nama (gelar) ini diucapkan sebagai penghormatan atas kedudukannya yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan di dunia islam dan dunia tasawuf.

Nasab Ibundanya :

Beliau mempunyai hubungan dari arah ibundanya pada as Sulamy. Sedangkan pamannya, Abu Uqail as Sulamy, salah seorang pemuka wilayah Astawa. Sementara nasab pada as Sulamy, terdapat beberapa pandangan.

Pertama, as-Sulamy adalah nasab pada Sulaim, yaitu kabilah Arab yang sangat terkenal. Nasabnya, Sulaim bin Manshur bin Ikrimah bin Khafdhah bin Qais bin Ailan bin Nashr. 

Kedua, as-Salamy yang dihubungan pada Bani Salamah. Mereka adalah salah satu keluarga Anshar. Nisbat ini berbeda dengan kriterianya.

Kehidupan Al-Qusyairi

Awal Kehidupan.

Beliau telah menjadi yatim piatu ketika masih kecil. Kemudian beliau dirawat oleh Abul Qasim Al-Alimani seorang sahabat karib keluarga Qusyairi. Di sinilah beliau belajar bahasa dan sastra Arab.

Pada masa itu, kondisi pemerintahan tidak berpihak pada rakyat, para penguasa berlomba-lomba menaikkan pajak. Hal itu berpengaruh pada jiwa al-Qusyairi yang bercita-cita untuk meringankan beban rakyat. Karena itu, beliau pergi ke Naisabur untuk belajar ilmu hitung yang berkaitan dengan pajak.

Sesampainya di Naisabur, beliau belajar berbagai macam ilmu kepada maha guru Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisabur, yang lebih dikenal dengan Ad-Daqaq. Asy-Syaikh mempunyai firasat bahwa pemuda ini seorang murid yang cerdasb dan brilian, karena itu beliau mengajarkan berbagai macam bidang ilmu. Sehingga Al-Qusyairi mencabut cita-citanya menguasai peran pemerintahan dan memilih thariqah sebagai garis perjuangan.

Kepiawaian Berkuda.

Asy-Syaikh termasuk orang yang pandai menunggang kuda. Kepiawaiannya telah dibuktikan dalam berbagai lapangan pacuan kuda. Beliau juga seorang yang tangkas memainkan senjata, bahkan sangat tangkas. Permainannya benar-benar sangat mengagumkan.

Pendamping Hidup.

Asy-Syaikh menikah dengan Fatimah, puteri guru sejatinya yang bernama Abu Ali Al-Hasan bin Ali An-Naisaburi Ad-Daqaq. Dia seorang wanita berilmu, beradab, dan termasuk ahli zuhud yang diperhitungkan di zamannya. Banyak hadits yang diriwayatkan olehnya. Beliau hidup bersamanya semenjak tahun 405 H / 1014 M. hingga 412 H / 1021 M.

Keturunan.

Asy-Syaikh meninggalkan 6 orang putera dan seorang putri. Kesemuanya adalah ahli-ahli ibadah. Secara berurutan mereka adalah :

  1. Abu Said Abdullah.
  2. Abu Said Abdul Wahid.
  3. Abu Manshur Abdurrahman.
  4. Abu Nashr Abdurrahim.
  5. Abu-Fatih Ubaidillah.
  6. Abu-Mudzaffar Abdul Mun’im, dan seorang putri yang bernama :
  7. Ummatul Karim.

Pelayan.

Banyak pelayan yang mengabdi kepada asy-Syaikh, di antaranya Abul-As’ad, pelayan pemberian Abdurrahman bin Sa’id bin Abul Qasim al-Qusyairi.

Menunaikan Ibadah Haji.

Asy-Syaikh berangkat menunaikan ibadah haji berulang kali. Kebanyakan tidak dilakukan sendirian. Di antaranya dengan :

  1. Asy-Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf Al-Juwaini, meninggal tahun 438 H / 1047 M. Beliau termasuk ulama tafsir, bahasa, dan fiqih.
  2. Asy-Syaikh Abu Bakar Ahmad bin Husin Al-Baihaqi, seorang pengarang besar yang hidup antara tahun 384 H / 994 M. hingga 458 H / 1066 M.
  3. Dan, rombongan ulama besar yang masyhur.

Disamping berguru pada mertuanya, Imam Al-Qusyairy juga berguru pada para ulama lain. Diantaranya, Abu Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (325-412 H/936-1021 M), seorang sufi, penulis dan sejarawan. Al-Qusyairy juga belajar fiqh pada Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr at-Thusy (385-460 H/995-1067 M, belajar Ilmu Kalam dari Abu Bakr Muhammad ibn al-Husain, seorang ulama ahli Ushul Fiqh. Ia juga belajar Ushuluddin pada Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad, ulama ahli Fiqh dan Ushul Fiqh. Al-Qusyairy pun belajar Fiqh pada Abu Abbas ibn Syuraih, serta mempelajari Fiqh Mazhab Syafi’i pada Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.

Al-Qusyairy banyak menelaah karya-karya al-Baqillani, dari sini ia menguasai doktrin Ahlusunnah wal Jama’ah yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ary (w.935 M) dan para pengikutnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Kitab Risalatul Qusyairiyah yang merupakan karya monumentalnya dalam bidang Tasawwuf dan sering disebut sebagai salah satu referensi utama Tasawwuf yang bercorak Sunni-, Al-Qusyairy cenderung mengembalikan Tasawuf ke dalam landasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dia juga penentang keras doktrin-doktrin aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, Al-Qusyairy pernah mendekam dalam penjara selama sebulan lebih, atas perintah Taghrul Bek, karena hasutan seorang menteri yang beraliran Mu’tazilah yaitu Abu Nasr Muhammad ibn Mansyur al-Kunduri.

Perburuan terhadap para pemuka aliran Asy’ariyah itu berhenti dengan wafatnya Taghrul Bek pada tahun 1063 M. Penggantinya, Alp Arsalen (1063-1092 M), kemudian mengangkat Nizam al-Mulk sebagai pengganti al-Khunduri. Kritik terhadap para Sufi Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Guru Besar Filsafat Islam dan Tasawwuf pada Universitas Kairo, yang juga tokoh dan Ketua Perhimpunan Sufi Mesir (Robithah al-Shufihiyah al-Mishriyah) menulis, Imam al-Qusyairy mengkritik para sufi aliran Syathahi yang mengungkapkan ungkapan-ungkapan penuh kesan tentang terjadinya Hulul (penyatuan) antara sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat-sifat barunya, dengan Tuhan. Al-Qusyairy juga mengkritik kebiasaan para sufi pada masanya yang selalu mengenakan pakaian layaknya orang miskin. Ia menekankan kesehatan batin dengan perpegang pada al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini lebih disukainya daripada penampilan lahiriah yang memberi kesan zuhud, tapi hatinya tidak demikian.[1]

Dari sini dapat dipahami, al-Qusyairy tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak memalingkan manusia dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para sufi yang mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama. Karena itu al-Qusyairy menyatakan, penulisan karya monumentalnya Risalatul Qusyairiyah, termotinasi karena dirinya merasa sedih melihat persoalan yang menimpah dunia Tasawwuf. Namun dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan seorang pun para sufi ketika itu. Penulisan Risalah hanya sekadar pengobat keluhan atas persoalan yang menimpa dunia Tasawwuf kala itu.

Imam al-Qusyairy merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang berkembang pada masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang tercantum pada pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.

Murid-muridnya yang Terkenal

  1. Abu Bakr – Ahmad bin Ali bin Tsabit al-Khatib al-Baghdady (392-463 H./1002-1072 M.).
  2. Abu Ibrahim – Ismail bin Husain al-Husainy (w. 531 H./137 M.)
  3. Abu Muhammad – Ismail bin Abul Qasim al-Ghazy an-Naisabury.
  4. Abul Qasim – Sulaiman bin Nashir bin Imran al-Anshary (w. 512 H/118 M.)
  5. Abu Bakr – Syah bin Ahmad asy-Syadiyakhy.
  6. Abu Muhammad – Abdul Jabbar bin Muhammad bin Ahmad al-Khawary.
  7. Abu Bakr bin Abdurrahman bin Abdullah al-Bahity.
  8. Abu Muhammad – Abdullah bin Atha’al-Ibrahimy al-Harawy.
  9. Abu Abdullah – Muhammad ibnul Fadhl bin Ahmad al-Farawy (441-530 H./1050-1136 M).
  10. Abdul Wahab ibnus Syah Abul Futuh asy-Syadiyakhy an-Naisabury.
  11. Abu Ali – al-Fadhl bin Muhammad bin Ali al-Qashbany (444 H/ 1052 M).
  12. Abul Tath – Muhammad bin Muhammad bin Ali al-Khuzaimy.

Keilmuan al-Qusyairi

  1. Ushuluddin, yang diperolehnya dari guru-guru bermazhab Abu Hasan al-Asy’ari, seorang imam teologi sunni.
  2. Ilmu Fiqih, yang beraliran mazhab Syafi’i.
  3. Ilmu Tasawuf, asy-Syaikh adalah seorang sufi sejati, murni dalam laku sejatinya, dan tulus dalam perjuangannya mempertahankan ajaran tasawuf sejati dari praktek-praktek tasawwuf pada umumnya. Di antara karya beliau adalah al-Risalah al-Qusyairiyah.

Di samping itu asy-Syaikh juga seorang ahli bidang filosofis Ketuhanan, penghafal hadits yang kuat, sastrawan yang menguasai bidang gramatika susastra Arab, penulis sekaligus penyair, dan seorang penunggang kuda yang tangkas dan berani. Namun, ilmu tasawwuf merupakan keahlian yang paling dikuasai dan dia lebih dikenal dengan atribut ini.

Majelis Imla’

Beliau memang seorang imam yang pengajarannya banyak memakai sistem majelis imla’. Beliau mengadakan majelis imla’ bidang hadits di Baghdad pada tahun 432 H / 1040 M. Beberapa paradigma yang dibuatnya dilampiri sejumlah gubahan religius. Kemudian beliau menghentikan kegiatan ini dan pulang ke Naisabur tahun 455 H / 1063 M. untuk merintis kegiatan semacamnya.

Majelis Takdir.

Di zamannya, Beliau adalah seorang imam dalam majelis takdir. Pembicaraannya amat berpengaruh hingga meresap ke dalam sanubari para jamaahnya. Abu Hasan Ali bin Hasan Al-Bakhirizi yang hidup di tahun 462 H / 1070 M, sering menyebut-nyebut kehebatannya, bahkan memujinya dengan sanjungan yang amat istimewa.

Ajaran-ajarannya benar-benar terpercaya, berbobot, dan isyaratnya sedap. “Begitu pula Ibnu Khalkan dalam kitab Wafiyatul A’yan banyak menyebut-nyebut kehebatannya, juga dalam kitab Thabaqat Asy-Syafi’iyah, Tajuddin As-Subki seringkali menyinggung kelebihan-kelebihannya.

Makna Risalah Qusyairiyah

Secara terminologi, kata risalah berarti suatau pembahasan, tema bahasan atau kajian. Keberadaannya mungkin sebagai jawaban suatu pertanyaan, pemecahan suatu masalah, atau jalan keluar dialog kajian. Ukurannya ( jumlah halaman dan ukuran kertas ) terkadang kecil, seperti RisalahaAl-Qadhi al-Fadhil milik Hasan Basri, terkadang pula berukuran besar, seperti Risalah Ghufran milik Al-Ma’ri.

Latar Belakang Penyusunan.

Risalah ini oleh penyusunnya, Imam Qusyairi sengaja ditujukan kepada kelompok masyarakat yang berkecimpung dalam dunia tasawwuf secara taklid;  suatu kelompok yang mempraktekkan ajaran tasawwuf  tanpa pengetahuan hakikat dasar-dasar thariqah; mereka yang mengamalkan ritual sufistik di tengah kekeliruan-kekeliruan sebagai kaum yang mendakwakan diri sebagai kelompok sufi; atau di dalam kungkungan paham-paham sufistik yang seolah memiliki dasar keagamaan, tapi sebenarnya tidak memiliki landasan hukum, akal, dan argumen.

Inilah salah satu permasalahan tiap mazhab;  pemikiran dan thariqah. Di antara pengikut-pengikut paham-paham itu, ada yang memperbaiki pemahaman dan pemaparannya, ada pula yang justru memperburuknya dengan berbagai tindakan amoral dan penyimpangan. Sesungguhnya ruh Islam sebagaimana yang tergambar dalam beberapa ayat berikut :

ونفس وما سواها . فألهمها فجورها وتقواها . قد أفلح من زكها . وقد خاب من دسها.

( الشمس : 7 – 10 ).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya ( ciptaannya ). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu ( jalan ) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa, dan sesungguhnya amat merugikanlah orang yang mengotori jiwa”. ( Q.S Asy-Syams : 7 – 10 ).

قد أفلح من تزكى . وذكر اسم ربه فصلى .

( الاعلى : 14-15).

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri ( dengan beriman ), dan ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang”. ( Q.S Al-A’la : 14 – 15 ).

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا وإن الله لمع المخسنين

( العنكبوت : 69 ).

“Dan orang yang berjihad untuk ( mencari keridhaan ) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik”. ( Q.S Al “Ankabut ).

واذكر ربك فى نفسك تضرعا وخيفة ودون الجهر من القول بالغدو والاحصال ولاتكن من الغافلين

( الأعراف : 205 ).

“Dan, sebutlah nama Tuhanmua dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut serta tidak dengan mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. ( Q.S Al A’raf : 205 ).

واتقوا الله ويعلمكم الله والله بكل شيء عليم

( البقرة : 282 ).

“Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”. ( Q.S Al Baqarah : 282 ).

الإحسان أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك

 ( رواه مسلم والترمذى وابو داود والنسائي ).

“Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau belum melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu”.

Imam Qusyairi bermaksud memberitahukan mereka bahwa kebenaran yang sebenarnya bukan seperti yang mereka ketahui : bahwa pengikut thariqah yang sesungguhnya adalah mereka yang berjalan di atas dasar Al-Qur’an dan hadits;  tidak keluar darinya, meski seujung jari. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan ulama salaf, baik dalam keimanan, akidah, maupun praktek ritual. Ketahuilah, sesungguhnya ahli hakikat sebagian besar telah punah;  tidak ada yang tersisa di masa kita dari kelompok ini kecuali hanya bekas-bekasnya.

Sungguh, kelemahan telah terjadi di kelompok ini, bahkan mereka terkikis dari peran kehidupan. Para guru sufi yang memberikan petunjukk kebenaran telah lewat. Sedikit sekali para pemuda yang mengikuti jejak dan prilaku kehidupan mereka. Sehingga , sifat wara’ menjadi tergeser dari nilai kehidupan; kesederhanaan menjadi tergulung; sifat tamak menjadi lebih dominan dan kuat ; hati terjauh dari rasa hormat pada syari’at, dan sedikit yang bisa dihitung dari mereka yang benar-benar menaruh perhatian pada agama, dan akhirnya banyak manusia yang menyepelekan batas ketentuan hukum antara yang haram dan halal.

Sebagaimana sikap mereka yang meremehkan pelaksanaan ibadah, maka terhadap kewajiban puasa dan salat pun mereka berbuat sama. Manusia ini membiarkan langkah-langkahnya menjelajahi lapangan yang menyebabkan dirinya lupa; menekuni kecondongan yang mengikuti hawa nafsu; sedikit menaruh perhatian pada pemberian yang belum jelas status hukumnya; dan mencari perlindungan dari legitimasi dukungan rakyat, wanita, dan pemegang kekuasaan.

Karya al-Qusyairi

al-Qusyairi dapat mengarang dalam kitab-kitabnya yang berisi masalah tasawuf dan ilmu-ilmu Islam. Antara lain:

  1. Ahkam al-Syar’i.
  2. Adab al-Shufiyah.
  3. Al-Arba’un fi al-Hadits.
  4. Istifadhah al-Muradat.
  5. Balaghah al-Maqashid fi al-Tasawuf.
  6. at-Tahbir fi Tadzkir.
  7. Tartib al-Suluk, fi Thariqillahi Ta’ala.
  8. al-Tauhid al-Nabawi.
  9. at-Taisir fi ‘Ilmi al-Tafsir.
  10. al-Jawahir.
  11. Hayat al-Arwah dan al-Dalil ila Thariq al-Shalah.
  12. Diwan al-Syi’ri.
  13. al-Dzikr wa al-Dzakir.
  14. al-Risalah al-Qusyairiyah fi ‘Ilmi al-Tasawwuf,
  15. Sirat al-Masayikh.
  16. Syarâh Asma al-Husna.
  17. Syikuyat Ahl al-Sunnah bi Hikayati ma Nalahun min al-Mihnah.
  18. Uyun al-Ajwibah fi Ushul al-Asilah.
  19. Lathaif al-Isyarat.
  20. al-Fushul fi al-Ushul.
  21. al-Luma’ fi al-I’tiqad.
  22. Majalis Abi Ali al-Hasan al-Daqaq
  23. al-Mi’raj.
  24. al-Munajah.
  25. Mantsuru al-Khitab fi Syuhub al-Albab.
  26. Nasikhu al-Hadits wa Mansukhuhu.
  27. Nahw al-Qulub al-Shaghir.
  28. Nahw al-Qulub al-Kabir.
  29. Nukatu Uli al-Nuha.

Sanjungan Para Ulama 

Berbicara tentang beliau tentu tak lepas dari penilaian para sejarawan muslim tentangnya. Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya yang sangat fenomenal, Siyar a’lam an-Nubala, beliau menulis :

الإِمَامُ، الزَّاهِدُ، القُدْوَةُ، الأُسْتَاذُ، أَبُو القَاسِمِ عَبْدُ الكَرِيْمِ بنُ هَوَازِن بنِ عَبْدِ المَلِكِ بنِ طَلْحَةَ القُشَيْرِيُّ، الخُرَاسَانِيُّ، النَّيْسَابُوْرِيُّ، الشَّافِعِيُّ، الصُّوْفِيُّ، المُفَسِّرُ، صَاحِبُ الرِّسَالَة.

“Seorang imam yang zahid, qudwah (panutan), ustadz Abul Qasim Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah al-Qusyairi al-Khurasani an-Naisaburi, asy-Syafi’i, ash-Shufi, Al-Mufassir, penulis kitab ar-Risalah.”

Mengenai keilmuan beliau, adz-Dzahabi menulis :

وَتَفَقَّهَ عَلَى:أَبِي بَكْرٍ مُحَمَّدِ بن أَبِي بَكْرٍ الطُّوْسِيّ، وَالأُسْتَاذِ أَبِي إِسْحَاقَ الإِسفرَايينِي، وَابْن فُورك.وَتَقدم فِي الأُصُوْل وَالفروع

“Beliau mendalami ilmu fiqh (din) kepada Abu Bakr Muhammad bin Abu Bakr Ath-Thusi, Ustadz Abu Ishaq Al-Isfirayini dan Ibnu Furak. Beliau unggul dalam bidang ushul (ilmu-ilmu pokok) dan furu’ (ilmu-ilmu cabang).”

Ibnu Khallikan juga berkata:

“Dahulu Abul Qasim adalah seorang yang sangat berilmu dalam bidang fiqih, tafsir, hadits, ushul, adab (sastra), syair dan karya tulis. Beliau menulis kitab at-Tafsir al-Kabir, salah satu kitab tafsir terbaik. Beliau juga menulis kitab ar-Risalah yang berisi tentang tokoh-tokoh Tarekat. Beliau pernah pergi haji bersama Imam Abu Muhammad al-Juwaini dan Imam Abu Bakr al-Baihaqi.”

Imam adz-Dzahabi menceritakan bahwa dahulu Imam al-Qusyairi bergabung dengan halaqoh Ath-Thusi lalu berpindah ke majelis Ibnu Furak sehingga dari situ beliau mahir dalam ilmu kalam. Beliau juga mulazamah dengan Ustadz Abu Ishaq mengkaji kitab-kitab karangan Ibnul Baqillani sehingga akhirnya beliau menjadi Syaikh rujukan di Khurasan dalam masalah Tasawwuf dan melahirkan banyak murid.

Imam al-Qusyairi dikenal sebagai sosok murabbi dan pembimbing tarekat yang luar biasa. Imam adz-Dzahabi memuji kehebatan beliau dalam masalah nasehat:

وَكَانَ عَديم النّظير فِي السّلوك وَالتَّذكير، لطيفَ العبَارَة، طَيِّبَ الأَخلاَقِ، غوَّاصاً عَلَى المَعَانِي

“Beliau tiada tandingannya dalam masalah suluk (akhlak) dan tadzkir (nasehat). Beliau adalah sosok yang lembut kata-katanya, luhur budi pekertinya, serta pakar dalam menyelami makna-makna.”

Abu Sa’d as-Sam’ani juga memuji Imam al-Qusyairi, beliau mengatakan :

“Ustadz Abul Qasim belum pernah tertandingi dalam hal kesempurnaan dan kehebatannya. Beliau mampu menggabungkan antara Syariat dan Hakikat.”

Syariat adalah ilmu dzhohir (tampak) sedangkan Hakikat adalah ilmu bathin (tak tampak).

Imam Abu Bakr Al-Khathib berkata :

“Kami dahulu menulis dari beliau. Beliau adalah seorang yang tsiqoh (terpercaya), indah nasehatnya, manis isyaratnya. Beliau dalam masalah ushul (akidah) mengikuti madzhab Al-Asy’ari, sedangkan dalam masalah furu’ (fiqih) mengikuti madzhab Asy-Syafi’i.”

Bahkan Abu Bakr Al-Bakharzi mengatakan :

“Beliau (Imam Al-Qusyairi) mahir dalam ilmu kalam sesuai madzhab Abul Hasan Al-Asy’ari. Dalam masalah wawasan keilmuan, beliau keluar dari batasan manusia. Kalimat-kalimatnya bari para penuntut ilmu merupakan faedah. Mimbar beliau bagi para peniti jalan akhirat ibarat bantal.”

Kesholehan Imam al-Qusyairi bukan hanya dirasakan oleh manusia saja. Bahkan hewan pun merasakan efek kesholehan tersebut. al-Muayyad dalam kitab Tarikhnya menulis:

“Syekh Abul Qasim pernah diberi hadiah seekor kuda. Beliau mengendarai kuda tersebut sekitar dua puluh tahun lamanya. Ketika beliau wafat, kuda itu tidak mau makan. Seminggu berikutnya kuda itu pun mati.”

[1] Lihat, Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ilaa al-Tasawwuf al-Islam, cetakan ke-IV. Terbitan Dar al-Tsaqofah li an-Nasyr wa al-Tauzi, Kairo, 1983.