KH. As’ad Humam

0

Kyai Haji As’ad bin Humam lahir di Yogyakarta pada tahun 1933 M/1352 H. Beliau mengalami cacat fisik sejak remaja. Beliau terkena penyakit pengapuran tulang belakang, dan harus menjalani perawatan di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta selama satu setengah tahun. Penyakit inilah yang dikemudian hari membuat KH. As’ad Humam tak mampu bergerak secara leluasa sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan sekujur tubuhnya mengejang dan sulit untuk dibungkukkan. Dala m keseharian, sholatnya pun harus dilakukan dengan duduk lurus, tanpa bisa melakukan posisi ruku’ ataupun sujud. Bahkan untuk menengok pun harus membalikkan seluruh tubuhnya. Beliau juga bukan seorang akademisi atau kalangan terdidik lulusan Pesantren atau Sekolah Tinggi Islam, beliau hanya lulusan kelas 2 Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah Yogyakarta (Setingkat SMP).

Sebenarnya nama asli dari KH. As’ad Humam hanyalah As’ad saja, sedangkan nama Humam yang diletakkan dibelakang adalah nama ayahnya, KH. Humam Siradj. KH As’ad Humam (alm) tinggal di Kampung Selokraman, Kotagede. Yogyakarta. Ia adalah anak kedua dari 7 bersaudara. Darah wiraswasta diwariskan benar oleh orang tua mereka, terbukti tak ada satu pun dari mereka yang menjadi Pegawai Negeri Sipil. KH. Asad Humam sendiri berprofesi sebagai pedagang imitasi di pasar Bringharjo, kawasan Malioboro Yogyakarta. Profesi ini mengantarnya berkenalan dengan KH. Dachlan Salim Zarkasyi.

Tahun 1975, KH. As’ad Humam menggunakan metode Qiro’ati yang disusun KH. Dachlan Salim Zarkasyi dari Semarang. KH. Dachlan Zarkasyi sendiri membukukan Qiro’ati sejak tahun 1963. Pada saat itu KH. Dachlan Zarkasyi melihat pengajaran al-Quran yang tidak tartil, terutama tidak adanya ilmu tajwid. Hubungan silaturahmi antara KH. Dachlan Zarkasyi dengan KH. As’ad Humam pada awalnya berlangsung dengan akrab. Muhammad Jazir mengisahkan bahwa pada tahun 1973 KH. As’ad Humam bertemu dengan KH. Dachlan Salim Zarkasyi, yang merupakan rekan bisnis KH. Humam (ayah dari KH. As’ad Humam) dahulu. KH. As’ad Humam gemar pijat, dan kebetulan KH. Dachlan juga membuka praktik pijat sehingga berawal dari silaturahim ini kemudian KH. As’ad Humam mengenal metode Qiro’ati.

Dari Qiro’ati ini pula kemudian muncul gagasan-gagasan KH. As’ad Humam untuk mengembangkannya supaya lebih mempermudah penerimaan metode ini bagi santri yang belajar al-Quran. Mulailah KH. As’ad Humam ber-eksperimen, dan hasilnya kemudian beliau catat, dan ia usulkan kepada KH. Dachlan Zarkasyi.

Namun gagasan-gagasan tersebut seringkali ditolak oleh KH. Dachlan Salim Zarkasyi, terutama untuk dimasukkan dalam Qiro’ati, karena menurutnya Qiro’ati adalah inayah dari Allah sehingga tidak perlu ada perubahan. Hal inilah yang pada akhirnya menjadikan kedua tokoh ”berkonflik”. Sehingga pada akhirnya muncullah gagasan KH. As’ad Humam dan Team Tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musholla (Team Tadarus “AMM”), Yogyakarta untuk menyusun sendiri dengan pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca al-Qur’an melalui metode Iqro’.

Pengembangan penggunaan cara cepat belajar membaca al-Qur’an dengan metode Iqro’ yang disusun oleh KH. As’ad Humam ini pada awalnya hanya perantaraan dari mulut ke mulut atau getok tular, kemudian dengan ketekunan mampu dikembangkan secara luas dan diterima baik oleh masyarakat di Indonesia bahkan di dunia internasional, dengan dibantu aktivis yang tergabung dalam Team Tadrus AMM Yogyakarta.

Banyak para penguji mencoba mengadakan pengujian terhadap keakuratan metode ini. Ternyata karena selain sederhana dengan metode iqro’ sangat mudah mempelajari al-Qur’an dibanding metode yang lain. Singkatnya, setelah melalui studi banding dan uji coba tersebut, maka pada tanggal 21 Rajab 1408 H atau bertepatan dengan tanggal 16 Maret 1988, didirikanlah Taman Kanak-Kanak al-Qur’an (TKA) “AMM”, Yogyakarta. Setahun kemudian, tepatnya tanggal 16 Ramadhan 1409 H/23 April 1989 didirikan pula Taman Pendidikan al-Qur’an (TPA) “AMM”,  Yogyakarta.

Antara TKA dan TPA tidaklah memiliki perbedaan dalam sistem, keduanya hanya berbeda dalam hal usia anak didiknya. TKA untuk anak usia TKA (4,0 – 6,0 tahun) sedangkan TPA, untuk anak usia SD (7,0 – 12,0 tahun). TKA-TPA “AMM” ini terletak di Kampung Selokraman, suatu kampung di pinggiran kota Yogyakarta yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Bantul. Selokraman ini masuk wilayah Kalurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede Yogyakarta.

Pada awal berdirinya yaitu pada tahun 1988, TKA-TPA “AMM” ini belum memiliki gedung sendiri. Mula-mula hanya menempati beberapa ruang (salah satunya adalah ruang garasi) dari rumah milik pribadi KH. As’ad Humam. Baru kemudian pada tahun 1991 bisa membangun sebuah gedung yang memiliki 15 ruang, 4 ruang diantaranya berada di lantai 2. Diantaranya, 11 ruang untuk kegiatan belajar (ruang kelas), 2 ruang untuk kantor, 1 ruang untuk sekretariat Team Tadarus “AMM” dan 1 ruang untuk ruang tamu. Di sebelah kiri ruang-ruang kelas terdapat kamar kecil dan halaman samping, sedang di depan gedung terdapat halaman yang cukup luas untuk bermain dan upacara.

Atas hasil karya beliau tersebut, tahun 1991 Menteri Agama RI, KH. Munawir Sjadzali MA., menjadikan TKA /TPA yang didirikan K.H. As’ad Humam di kampung Selokraman Kotagede Yogya sebagai balai litbang LPTQ Nasional. Dan selanjutnya, perkembangan Iqro’ pun meluasa tidak hanya di di Yogyakarta dan Jawa Tengah saja, namun sudah sampai ke pelosok-pelosok tanah air dan mancanegara. Bahkan di Malaysia, metode Iqro’ ditetapkan sebagai kurikulum wajib di sekolah.

Metode Iqro’ sendiri telah sering diteliti Dan dijadikan objek penelitian. Hasilnya, efektivitas metode Iqro’ dalam pembelajaran membaca al-Qur’an di TKA-TPA “AMM” Kotagede, Yogyakarta bagi anak usia TK (4-6 tahun) dalam waktu 6-18 bulan sudah mencapai angka 89,9% yang bisa diantarkan memiliki kemampuan membaca al-Qur’an. Sedang untuk anak usia SD (mayoritas usia 7-9 tahun) ternyata lebih cepat lagi. Dalam waktu 12 bulan, mayoritas dari mereka (84,31%) telah lancar membaca al-Qur’an. Waktu yang relatif cepat bila dibandingkan dengan metode (kaidah) Baghdadiyah melalui sistem pengajian “tradisional” yang memerlukan waktu 2-5 tahun.

Kesemuanya itu ternyata mampu menggairahkan kembali umat Islam untuk mempelajari Al Quran. Bahkan dari data yang ada pada Balai Penelitan dan Pengembangan (Balitbang) Lembaga Pengajaran Tartil Quran (LPTQ) Nasional di Yogyakarta, tercatat pada tahun 1995 diseluruh Indonesia kurang lebih telah tumbuh unit-unit TKA-TPA sebanyak 30.000 unit dengan santri mencapai 6 juta anak (sumber : Balitbang LPTQ Nasional: 1995). Tak hanya di dalam negeri, buku Iqro ini juga sudah dipakai di luar negeri seperti negeri Jiran Malaysia, Singapura, Bruney Darussalam, Arab Saudi, bahkan Amerika.

K.H. As’ad Humam wafat hari Jum’at sekitar Pukul 11:30 pada tanggal 2 Februari tahun 1996 M/1417 H di Yogyakarta  dalam usia 63 tahun. Jenazah KH. As’ad Humam disholatkan di Mesjid Baiturahman, Selokraman, Kota Gede. Yogyakarta tempat dimana beliau mengabdi.

Iqro’ (Salah satu metode pembelajaran untuk anak-anak yang dikarang oleh KH. As’ad Humam)