Al-Bawaithi

0

Nama lengkap beliau adalah Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al Buwaithi, lahir di desa Buwaith (Mesir) wafat 231 H. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Namun kendati demikian beliau adalah tokoh besar dalam Mazhab Imam Syafi’i.

Beliau adalah murid langsung dari Imam Syafi’i R.A yang dianggap paling ‘alim  dan sederajat dengan ar-Rabi’i bin Sulaiman al Muradi. Kapasitas intelektualnya tidak diragukan lagi. Bahkan sang guru sendiri mengakui kehebatan intelektualnya.

Hal ini dapat dapat kita lihat dalam komentar beliau (Imam Syafi’i) atas al-Bawaithi :

“laisa ahadun ahaqqu bi majlisi min yusuf bin yahya, wa laisa ahadun min ashhabi a’lamu minhu”

“Imam Syafi’i berkata : “Tidak seorang juga yang lebih berhak atas kedudukanku melebihi dari Yusuf bin Yahya al-Buwaithi”, dan Imam Syafi’i Rhl. berwasiat, dan tidak ada seorangpun dari para pengikut setiaku yang lebih ‘alim darinya”.

“Manakala beliau wafat, maka yang akan menggantikan kedudukan beliau sebagai pengajar adalah al-Buwaithi ini”.

Dan terbukti setelah wafatnya Imam Syafi’i, al-Bawaithi menggantikan posisinya dalam mengajar dan member fatwa. Beliau menggantikan Imam Syafi’I R.A berpuluh tahun dan pada akhir umur beliau ditangkap lantaran persoalan “fitnah Qur’an”, yaitu tentang makhluk atau tidaknya Quran yang digerakkan oleh kaum Mu’tazilah.

Akhirnya al Buwaithi ditangkap oleh Khalifah yang pro faham Mu’tazilah, lalu dibawa dengan ikatan rantai pada tubuhnya ke Baghdad. Beliau meninggal dalam penjara di Baghdad tahun 231 H.

Beliau syahid karena mempertahankan kepercayaan dan i’tiqad beliau, yaitu i’tiqad kaum ahlussunnah wal jama’ah yang mempercayai bahwa al-Qur’an itu adalah kalam Allah yang Qadim, bukan “ciptaan Allah” (makhluk). Al-Bawaithi memiliki “al-Mukhtashar” dalam bidang fiqih, yang diambil (iqtibas) dari pendapat-pendapat Imam Syafi’i.