Rabi’ah ar-Ra’yi

0

Nama lengkapnya adalah Rabi’ah bin Furukh at-Taimi al-Madani Abu Utsman. Tahun kelahirannya tidak diketahui secara pasti. Beliau dikenal sebagai pakar hadits, fiqih, dan mujtahid yang luar biasa dalam penalarannya terhadap suatu persoalan. Dan ketika tidak ditemukan hadits atau atsar maka Rabi’ah as-Ra’yi akan menggunakan qiyas untuk menyelesaikan persoalaln fiqih. Karena itulah beliau dikenal dengan nama Rabi’ah ar-Ra’yi, atau dengan nama lainnya dalah gelar Rabi’ah Ar-Ra’yi (kata “Ar-Ra’yi”) artinya akal dan logika. Dan menurut para ahli hadits, Rabi’ah ar-Ra’yi adalah termasuk dalam deretan kaum rasionalis (ashhab ar-ra’yi). Pada zamannya, Rabi’ah adalah mufti (shahib al-fatawa) di Madinnah. Salah satu muridnya adalah Imam Malik bin Anas, pendiri Mazhab Maliki.

Guru dan Murid Imam Rabi’ah ar-Ra’yi

Beliau mendapat hadits dari Anas bin Malik, As-Saib bin Yazid, Hanzhalah bin Qais, Sa’id bin Musayib, dan al-Qasim bin Muhammad. Adapun para murid beliau, di antaranya, adalah: Sufyan Ats-Tsauri, Imam Malik, Al-Auza’i, Sulaiman bin Bilal, Ismail bin Ja’far, Anas bin Iyadh, dan beberapa ulama lainnya. Imam Malik bin Anas termasuk orang yang paling banyak belajar dari beliau.

Akidah Imam Rabi’ah ar-Ra’yi

Rabi’ah berakidah ahlus sunnah wal jama’ah, tidak menafsirkan ayat al-Quran tentang sifat Allah di luar makna zahirnya. Sufyan bin Uyainah mengatakan: “Rabi’ah ditanya, ‘Bagaimanakah cara Allah ber-istiwa’ (berada di atas Arsy)?’ Beliau menjawab: ‘Istilah beristiwa (berada di atas Arsy) bukanlah istilah asing, namun bagaimana tata cara Allah beristiwa, tidak bisa digambarkan dengan logika. Risalah itu dari Allah, Rasulullah hanya menyampaikan, dan kewajiban kita adalah membenarkan.”

Pujian untuk Imam Rabi’ah ar-Ra’yi

Beliau memiliki banyak keutamaan dan dihormati para ulama. Ibnu Zaid mengatakan, “Rabi’ah hidup dalam usia yang panjang. Beliau habiskan waktunya untuk beribadah, sholat siang dan malam. Apabila para muridnya telah berkumpul, beliau pun kemudian mulai membahas ilmu dengan logika dan akalnya.” Yahya bin Sa’id mengatakan, “Saya belum pernah melihat ada orang yang lebih cerdas daripada Rabi’ah.” Dari Abdullah bin Wahab, dikabarkan bahwa Rabi’ah adalah orang yang sangat dermawan. Beliau pernah menginfakkan 40.000 dinar. Imam Malik mengatakan, “Ketika Salim dan Al-Qasim meninggal, permasalahan agama banyak dikembalikan kepada Rabi’ah. Ketika Khalifah Abul Abbas As-Saffah datang ke Madinah, beliau ditawari dengan harta yang banyak, namun beliau menolaknya.”

Wafat

Rabi’ah meninggal pada tahun 136 H, di daerah al-Hasyimiyah, negara bagian al-Anbar di Irak. Ketika Rabi’ah meninggal, Imam Malik mengatakan, “Kelezatan fiqih telah hilang sejak kematian Rabi’ah.”
(Adz-Dzahabi, Tadzkirah Al-Huffazh, Al-Maktabah Asy-Syamilah, no. urut 153)