Ibrahim an-Nakha’i

0

Tabi’in bernama lengkap Abu ‘Ammar Ibrahim bin Yazid bin al-Aswad bin Amr bin Rabiah bin Haritsah bin Sa’ad bin Malik bin an-Nakha’i lahir pada tahun 46 H. Beliau adalah tabi’in yang piawai dalam kajian hadits dan dikenal sebagai salah satu tabi’in besar dan banyak menghafal hadits. Menurut ash-Shalah ash-Shafdi, Ibrahim an-Nakha’i adalah ahli fiqih iraq dan imam mujtahid yang sangat luar biasa. dan dikenal sebagai salah satu tabi’in digambarkan sebagai ulama sepandai gurunya yaitu Ibnu Mas’ud. Kontribusinya dalam periwayatan hadits cukup banyak, melebihi ulama tabi’in lainnya semisal al-Qamah, al-Aswad, Masruq, dan yang lainnya. Kecerdasannya begitu mumpuni, dan budi pekertinya sangat santun. Ulama yang berasal dari Kufah ini bertemu dengan sejumlah sahabat Rasulullah Saw semisal Abu Sa’id al-Khudri dan Ummul Mukminin Aisyah RA. Bahkan dalam sebuah riwayat, Ibrahim menjadi referensi kajian hadits di kalangan tabi’in.

Ismail bin Abi Khalid berkata, “Suatu ketika asy-Sya’bi, Ibrahim an-Nakha’i, dan Abu adh-Dhuha berkumpul di sebuah masjid untuk mengkaji hadits. Jika mereka mendapatkan hal-hal yang tidak diketahui, maka mereka mengarahkan pandangan ke Ibrahim an-Nakha’i.” Tidak hanya menguasai kajian hadits dan persoalan intelektual, Ibrahim juga rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Beliau dikenal rajin berpuasa Nabi Daud AS. Jika tengah malam kebanyakan manusia terlelap dalam mimpi, Ibrahim justru khusyuk melaksanakan shalat malam (qiyamullail).

Diceritakan, tiap hendak shalat malam di masjid, Ibrahim selalu mengenakan pakain yang terbaik dan memakai wewangian. Begitu asyiknya qiyamullail, Ibrahim tidak pernah meninggalkan masjid kecuali jika fajar menjelang. Beliau tipikal tabi’in yang tawadhu, tidak menyukai publisitas dan ketenaran, banyak diam, dan hanya terfokus untuk peningkatan ibadah dan kapasitas pribadi. Semangatnya dalam berinteraksi dengan al-Qur’an perlu diacungi jempol. al-‘Amasy berkata : “Suatu hari aku sedang bersama Ibrahim an-Nakha’i, lalu dia membaca al-Qur’an. Lalu seseorang datang, dan Ibrahim pun menutup al-Qur’an. Ibrahim berkata, ‘Janganlah engkau melihatku seperti itu, aku terbiasa membaca al-Qur’an setiap jam’.” Begitu pun demikian dengan sikap tawadhunya. Hingga diceritakan, ada seorang pemuda yang mendatangi Ibrahim untuk bertanya mengenai sesuatu hal, namun Ibrahim balik bertanya, “Apakah engkau tidak mendapatkan seseorang untuk ditanyai selain diriku?”. Ini menggambarkan betapa Ibrahim selalu menjaga lisannya dan berhati-hati untuk berfatwa. Bahkan terkadang, jika ada orang yang datang, Ibrahim kerap merendahan diri. “Kadang aku berharap untuk tidak dapat berbicara. Jika engkau bertanya kepadaku, terkadang aku tak berhasrat untuk menjawab.” Bagi Ibrahim, ilmu dicari bukan untuk dipamerkan dan mendapat kehormatan serta pujian di mata masyarakat. Lebih dari itu, mencari ilmu merupakan salah satu pintu mendapatkan pahala Allah Swt. “Barangsiapa mencari ilmu yang dengannya berharap untuk mendapatkan keridhaan Allah, maka Allah akan memberinya ilmu yang bisa mencukupinya,” ujarnya suatu ketika. Begitu banyaknya ulama dan kerabat yang menyanjung dan memberikan pengakuan kepadanya. Dalam kitab Tadzkirh al-Huffazh diceritakan, Said bin Jubair pernah didatangi sekelompok orang yang hendak meminta fatwa kepadanya. Alih-alih memberi fatwa, Said malah berkata, “Kalian meminta fatwa kepadaku, padahal di antara kalian terdapat Ibrahim an-Nakha’i.” Dalam al-Farhu wa at-Ta’dil dikisahkan, sesesorang mendatangi Abu Wail untuk meminta fatwa. Abu Wail menyuruhnya untuk mendatangi Ibrahim dan berkata: “Tanyalah kepadanya lalu beritahukan kepadaku apa yang dikatakannya.”

Ketika ajal menjelang, Ibrahim sempat menangis. Para kerabat yang ada di sekitanya berkata: “Apa yang membuatmu menangis?” Ibrahim menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, saat ini aku sedang menantikan utusan dari Allah yang akan memberi kabar. Apakah surga ataukah neraka.” Demikian, Ibrahim meninggal dunia pada tahun 96 H dalam usia 50 tahun. Kepergian Ibrahim bin an-Nakha’i menyisakan kesedihan dan kepiluan di hati masyarakat. Betapa tidak, ketakwaan, keilmuan, dan kezuhudannya begitu berkesan. Syu’aib bin al-Habhab berkata: “Aku termasuk salah sesorang yang menguburkan Ibrahim an-Nakha’i. Lalu asy-Sya’bi bertanya : ‘Apakah kalian ikut menguburkan sahabat kalian?. Maka aku menjawab : “Ya”. Lalu asy-Sya’bi berkata : “Sungguh Ibrahim tidak mewariskan sesuatu kepada seseorang. Tidak ada orang yang lebih berilmu dan faqih dari beliau”. Bahkan bagi asy-Sya’bi, sepeningal Ibrahim, tidak ada seorang pun di Jazirah Arab yang dapat mengungguli keilmuan Ibrahim. asy-Sya’bi berkata: “Ya, tidak ada penduduk Basrah, Kufah, Hijaz, dan Syam yang lebih berilmu dan memahami agama kucuali Ibrahim.” Dan asy-Sya’bi berkata: “Demi Allah, setelah dia (Ibrahim an-Nakha’i) wafat, tidak ada ulama yang sekaliber dengannya”.