KH. Dimyati Rois

0

KH. Muhammad Dimyathi yang biasa dipanggil dengan Abuya Dimyathi atau Mbah Dim merupakan sosok Ulama Banten yang memiliki karismatik nan bersahaja. Beliau lahir sekitar tahun 1925 anak pasangan dari H.Amin dan Hj.Ruqayah. Sejak kecil Abuya Dimyathi sudah menampakan kecerdasannya dan keshalihannya, beliau belajar dari satu pesantren ke pesantren lainnya mulai dari Pesantren Cadasari, Kadupeseng Pandeglang, ke Plamunan hingga ke Pleret Cirebon. KH Dimyati Rois merupakan salah satu mustasyar PBNU. Beliau merupakan pengasuh pesantren Al-Fadlu wal Fadilah yang ia dirikan di Kp. Djagalan, Kutoharjo, Kaliwungu pada 1985.
Sebagaimana tradisi santri pada zaman dahulu, ia menjadi santri kenala dengan nyantri di berbagai pesantren seperti pesantren Lirboyo dan APIK Kaliwungu. Atas prestasi yang dimilikinya, ia diambil menantu oleh KH. Ibadullah Irfan, sesepuh dan tokoh masyarakat Kaliwungu. Kiai Dimyati sendiri dilahirkan di daerah Brebes Jawa Tengah. Akhirnya ia menetap di daerah tersebut.

Semasa hidupnya, Abuya Dimyathi dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai, sehingga tak berlebihan kalau disebut sebagai tipe ulama Khas al-Khas. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten, di samping sebagai pakunya negara Indonesia. Di balik kemasyhuran nama Abuya, beliau adalah orang yang sederhana dan bersahaja. Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Ke-semua guru-guru beliau bermuara pada Syekh Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiyai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafah-an atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’.

Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar. Hal ini pun diterapkan kepada para santri. Dikenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi, tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca Al-Quran.

40 THN PESANTREN TAPI BELUM PERNAH MENGAJI

Kata Abuya Dimyathi ketika mengajar di majelis pengajiannya dulu: Saya dulu pesantren di beberapa pesantren di pulau Jawa selama 40 tahun, tapi saya belum pernah mengaji kepada guru-guru saya. Hanya saja saya pernah sekali mengaji hanya sekali pertemuan saja ketika pembacaan kitab Shohih Muslim di pondok pesantren Muntilan – Magelang. Itu pun saya tidak punya kitabnya dan saya hanya mendengarkan saja ketika guru saya sedang membacakan kitab Shohih Muslim itu di hadapan santri-santri. Saya lakukan itu, karena saya hanya ingin mengambil sanadnya saja.

Padahal Abuya Dimyathi berangkat dari rumahnya menuju pesantren ingin mengaji kitab-kitab besar. Tapi ketika berada di pesantren, justru Abuya Dimyathi di suruh mengajar kitab-kitab besar itu. Memang guru-guru Abuya Dimyathi itu sangat awas sekali terhadap beliau, sehingga guru-gurunya sangat sayang dan segan sekali pada beliau, bahkan kalau guru-gurunya mempunyai masalah-masalah agama yang sulit, beliau lah yang memecahkannya atas permintaan guru-gurunya sendiri.

Di setiap pesantren Abuya Dimyathi itu pekerjaannya hanya beribadah saja, seperti melakukan shalat, puasa dsb dan tidak pernah tidur di waktu malam hari. Makanya beliau tidak pernah mengaji dan guru-gurunya pun sangat memakluminya dengan tingkah-laku muridnya yang zuhud dan rajin beribadah itu. Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyathi ini menempuh jalan spiritual yang unik. Beliau secara tegas menyeru: “Thariqah aing mah ngaji!” (Jalan saya adalah ngaji). Sebab, tinggi rendahnya derajat keualamaan seseorang bisa dilihat dari bagaimana ia memberi penghargaan terhadap ilmu. Sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Mujadilah ayat 11, bahwa Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan. Dipertegas lagi dalam hadits nabi, al-Ulama’u waratsatul anbiya’, para ulama adalah pewaris para nabi. Ngaji sebagai sarana pewarisan ilmu. Melalui ngaji, sunnah dan keteladanan nabi diajarkan. Melalui ngaji, tradisi para sahabat dan tabi’in diwariskan. ilmu adalah suatu keistimewaan yang menjadikan manusia unggul atas makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya.Saking pentingnya ngaji dan belajar, satu hal yang sering disampaikan dan diingatkan Mbah Dim adalah: “Jangan sampai ngaji ditinggalkan karena kesibukan lain atau karena umur”. Pesan ini sering diulang-ulang, seolah-olah Mbah Dim ingin memberikan tekanan khusus; jangan sampai ngaji ditinggal meskipun dunia runtuh seribu kali.

Beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah :

  1. Kitab Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang hidzib nashr dan hidzib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/ 1959 M.
  2. Kitab Aslul Qodr yang didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr.
  3. Kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hidzib Nasr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hidzib Nasr. Selanjutnya kitab Bahjatul Qooalaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul Al-Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah.

Pengalaman Organisasi

  • Mustasyar PBNU

Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/ 07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul 03:00 wib. KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin Al-Bantani wafat, tepatnya di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here