Syekh Ibrahim Al-Kurani

0

Syekh Ibrahim Al-Kurani lahir pada tahun 1025 H, dan dikenal sebagai ahli Fiqih, pakar Hadits dan juga sebagai ulama yang mampu menggabungkan antara ilmu agama (al-‘ulum an-‘aqliyyah) dan sekuler (al-‘ulum al-‘aqliyyah). Syekh Ibrahim Al Kurani datang ke Baghdad dan melawat ke Damaskus, Mesir, dan Hijaz.

Syekh Ibrahim Al Kurani Tinggal di Madinah dan berguru kepada:

1. Shafiyyuddin Ahmad bin Muhammad Al-Qusyasyi (w. 1071 H)
2. Abu Al-Mawahib Ahmad bin ‘Ali Asy-Syanawi (w. 1027)
3. Al-Mulla Muhammad Syarif bin Yusuf Al-Kuri (w. 1078 H)
4. ‘Abdul Karim bin Abu Bakar (w. 1050 H)
5. Najmuddin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazzi (w. 1061 H).

Di Mesir Syekh Ibrahim Al Kurani belajar kepada :

  1. Syekh Abu Al-‘Azaim Sulthan bin Ahmad Al-mizahi (w. 1075 H).
  2. Syekh Muhammad bin ‘Alauddin Al-Babili (w. 1077 H).
  3. Syekh Taqiyyuddin ‘Abdul Baqi bin ‘Abdul Baqi Al-Hanbali (w. 1071 H).

Nama Al-Kurani semakin harum, kemuliannya semakin tinggi, dan para santri mulai berdatangan dari penjuru negeri untuk belajar agama Islam kepadanya. Syekh Ibrahim Al-Kurani mempunyai majelis pengajian di Masjid Nabawi, Madinah.

Di antara santri-santri Syekh Ibrahim Al-Kurani adalah :

  1. ‘Ali bin Al-Hasan bin ‘Izzuddin Al-Hasani Al-Yamani Asy-Syami (w. 1120 H).
  2. dan ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Jawi As-Sinkili Al-Fanshuri penulis tafsir terlengkap pertama di Nusantara, Turjuman Al-Mustafid fi Tafsir Al-Quran Al-Majid.

Syekh Ibrahim Al-Kurani mempunyai banyak karya ilmiah yang bermanfaat mencapai kurang lebih sekitar 100 karya yang sudah beliau buat. Di antaranya, Kitab Ittihaf Al-Khalaf bi Tahqiq Madzhab As-Salaf (Bingkisan Untuk Generasi Belakangan Dalam Bentuk Perwujudan Madzhab Generasi Salaf). Al-Amam li Iqazh Al-Himam yang merupakan tsabatnya, Nawal Ath-Thaul wa Al-Amam li Iqazh Al-Himam.

Karya lainnya:

  1. Dzail ‘ala Al-Umam li Iqazh Al-Himam.
  2. Ittihaf Rafi’ Al-Himmah bi Washli Ahadits Syafi’ Al-Ummah yang juga disebut Masalik Al-Abrar.
  3. Iqazh Al-Qawabil li At-Taqarrub bi An-Nawafil.
  4. Lawami’ Al-Lali fi Al-Arba’in Al-‘Awali yang juga disebut Janah An-Najah bi Al-‘Awali Ash-Shihhah (salah satu manuskribnya ada di perpustakaan Batavia Jakarta).
  5. Nazh Az-Zabarjad fi Al-Arba’in A-Musalsalah bi Ahmad.

Syekh Ibrahim Al-Kurani wafat di Madinah pada tahun 1101 H dan dimakamkan di pekuburan Baqi’.

Hubungan Syekh Ibrahim Al Kurani Dengan Aceh

Yang menarik pada sosok seorang Syekh Ibrahim Al Kurani ialah hubungannya yang cukup harmonis dengan penunut ilmu Aceh. Sebagain sejarawan menyebutkan bahwa seorang Aceh yang berguru padanya ialah Syekh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Jawi Al-Fanshuri yang biasa dikenal dengan sapaan Syekh Kual. Beliau adalah ulama yang pertama kali penulis tafsir lengkap pertama di kepulauan Nusantara, yaitu kitab Turjuman Al-Mustafid fi Tafsir Al-Quran Al-Majid, cetakan Bombay. India.

Diriwayatkan bahwa Al-Fanshuri ini jika menjumpai permasalahan keislaman di negeri Aceh, beliau kerap kali mendatangi Syekh Ibrahim Al Kurani guna mencari jalan keluar dan jawaban apa yang dihadapinya. Oleh karena beberapa permasalahan yang dibawa Al-Fanshuri ini, Syekh Ibrahim Al Kurani berkenan menuliskan satu kitab khusus membahas permasalahan-permasalahan ini. Kitab itu selanjutnya diberinya tajuk “Al-Jawâbât Al-Gharâwiyyah ‘an Al-Masâil Al-Jâwiyyah Al-Jahriyyah”.

Penisbatan bahwa kitab Al-Jawabat ini adalah milik Syekh Ibrahim Al Kurani telah disepakai ulama-ulama yang merekam perjalanan hidup beliau. Di antaranya Al-Muradi dalam Silk Ad-Durar, Al-Baghdadi dalam Hadiyyah Al-‘Arifin, dan penulis Idhah Al-Maknun.

Lantas, apakah kitab beliau ini di mana bisa disaksikan untuk zaman sekarang ini?.
Pentahqiq I’mal Al-Fikr wa Ar-Riwayat menyebutkan bahwa kitab yang membahas Fiqih Syafi’i ini naskahnya bisa dijumpai di Markaz Raja Faishal di bawah no. 0582-5-F.

Kenyataan ini menunjukkan akan keakraban Markaz Raja Faishal dengan negeri ini dan kejayaan intelektualitas di masa Kerajaan Aceh.