Syekh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani

0

Nama lengkap beliau adalah Abdul Wahab bin Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Musa Asy-Sya’rani Al-Anshari Asy-Syafi’i Asy-Syadzili Al-Mishri. Abdul Wahab Asy-Sya’rani terkenal dengan panggilan Imam Asy-Sya’rani, yaitu salah seorang sufi terkenal yang diakui sebagai wali quthub pada zamannya yang memperoleh gelar sufistik Imamul Muhaqqiqin wa Zudwatul Arifin (pemuka ahli kebenaran dan teladan orang-orang makrifat). Beliau dilahirkan di desa Qalqasyandah – Mesir pada tanggal 27 Ramadhan 989 H. / 12 Juli 1493 M.

Nasab Syekh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani

Nasab beliau dapat diketahui dengan melihat di dalam kitab beliau sendiri, Lataif al-Minan, beliau berkata : “Sesungguhnya aku, dengan memuji Allah Ta’ala, Abdullah bin Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Zarfa bin Musa bin Sultan Ahmad bin Sultan Sa’id bin Sultan Fashin bin Sultan Mahya bin Sultan Zaufa bin Sultan Rabban bin Sultan Muhammad bin Musa bin Sayyid Muhammad bin al-Hanifah bin Imam Ali bin Abi Thalib.”

Nama Asy-Sya’rani adalah panggilan yang diberikan kepadanya yg diambil dari nama sebuah desa tempat tinggalnya di mana dia dibesarkan, yaitu Sya’rah, sebuah desa di wilayah Mesir.

Menuntut Ilmu

Beliau menghafaz al-Quran ketika berumur lebih kurang 7 atau 8 tahun. Kemudian beliau menghafal Matan al-Ajrumiyyah dalam ilmu Nahwu dan matan Abi Syuja’ dalam Fiqh asy-Syafi’e. Kemudian beliau pergi ke masjid al-Ghamri untuk menuntut ilmu dan beliau bersungguh-sungguh menghafal kitab Minhaj at-Thalibin karya Imam an-Nawawi, Alfiyyah Ibnu Malik, at-Taudhih Syarh Alfiyyah Ibnu Malik karya Ibnu Hisyam, Alfiyyah al-‘Iraqi, kitab at-Talkhis dalam ilmu balaghah karya al-Quzwini, matan as-Syatibiyyah dalam ilmu qiraat, Qawaid Ibnu Hisyam, sehingga beliau menghafal kitab Raudhah at-Thalibin karya Imam an-Nawawi sehingga bab Qadha. Usaha beliau untuk menghafal kitab Raudhah at-Thalibin ini bukanlah usaha yang mudah kerana kitab ini sangat tebal dan sekarang kitab ini dicetak lebih kurang 8 jilid. Ini menunjukkan karamah beliau.

Beliau telah menuntut dengan Syeikh Aminuddin, Imam masjid al-Ghamri dan beliau membaca kepadanya kitab Kutubus Sittah.

Kemudian, beliau turut belajar dengan Syeikh as-Syams ad-Dawakhili, Syeikh an-Nur al-Muhalla, Syeikh an-Nur al-Jawarihi, Syeikh Mulla Ali al-‘Ajmi, Syeikh Ali al-Qasthalani, Syeikhul Islam Zakariyya al-Ansari, al-Asymawi, dan Syihabuddin ar-Ramli.

Beliau kemudiannya jatuh cinta kepada ilmu hadith dan sentiasa menyibukkan diri dengannya dan mengambil hadith dari ahlinya. Kemudian beliau melalui jalan ahli tasawwuf melalui Syiekh Ali al-Marsufi, Syeikh Muhammad asy-Syanawi dan Syeikh Ali al-Khawas.

Syaikh Asy-Sya’rani sejak kecil sangat cinta akan ilmu dan gemar sekali menuntut ilmu khususnya ilmu-ilmu dunia dan sufistik. Karena kemuliannya, jika dia sedang berjalan banyak orang menghampirinya dan berebut tangan untuk menyalami dan mencium tangannya hanya sekadar untuk memperoleh berkah dari sang wali. Banyak dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menyatakan bertaubat dan akhirnya berbaiat masuk islam dan menjalani amalan sufi yang dibimbing langsung oleh Syaikh Asy-Sya’rani. Demikian pula banyak para penjahat dan pelaku maksiat yang akhirnya sadar dan bertaubat dari perbuatan buruknya setelah mendengar pengajian-pengajian yang disampaikan oleh Syaikh Asy-Sya’rani.

Selain itu, dia seorang Syaikhul Islam, faqih, Ushuli, Muhaddits (pakar hadits), dan Shufi. Dia dikenal sebagai ulama yang arif dalam khazanah keilmuan Islam. la menulis lebih dari 60 buah kitab, kebanyakan bercorak tasawuf. Di antara karyanya yang paling menarik adalah yang berupa otobiografi, al-Lathaiful Minan. Dalam kitab al-Lathaiful Minan itu diterangkan tentang perjalanan hidup seorang sufi yang penuh dengan keteladanan. Dan yang patut menjadi contoh suri tauladan dalam awal kehidupannya adalah, beliau hafal Al-Qur’an pada usia delapan tahun.

Karomahnya sudah terlihat sejak masa kanak-kanak. Dia tidak pernah takut dengan makhlauk apapun, seperti ular, kalajengking, buaya, pencuri, jin dan sebagainya (pada kitab Jami’u Karamatil Aulia jilid 2 halaman 277, cetakan Darul Fikr, Beirut – Libanon). Pada suatu hari ketika dia tenggelam di Sungai Nil, dengan sangat menakjubkan, dia diselamatkan oleh seekor buaya, yang disangkanya sebongkah batu.

Syaikhul Islam Zakaria Al-Anshari (W. 916 H/1511 M) memberi izin kepadanya untuk mengajarkan fiqih. Sejak kecil ia sudah bergaul dengan para ‘arifin. Semua gurunya mengajarkan syariat dan tasawwuf, dan meninggal dalam keadaan ridha terhadap dirinya. Dia dikenal sebagai ulama yang tidak fanatik buta dalam menganut kepercayaan tertentu. Akhlaqnya sangat mulia, baik sebagai sufi, maupun sebagai orang shalih. Ia menolak memakan sesuatu yang telah disedekahkannya. Dia sangat berlapang dada dalam segala urusannya dengan sesama muslim, bahkan dengan musuh yang paling membecinya sekalipun. Da tidak pernah berlama-lama dalam mengunjungi sahabat. Dan sepanjang hidupnya, ia terpelihara dari keinginan meminta-minta. Bahkan, ia belum pernah mengungkapkan godaan-godaan batin yang telah membuatnya menderita kepada seorang manusia pun, sehingga kerap keluar asap dari mulut, telinga, dan hidungnya. Asap yang keluar itu dikenali muridnya sebagai bentuk nafsu buruk yang dapat dikendalikan, sehingga keluar sebagai semacam kotoran dari tubuhnya. la tidak pernah mengejar kedudukan tinggi dan derajat duniawi.

Beliau sadar akan zaman yang melahirkannya, dan tak pernah mencoba hidup menurut masa lalu atau masa mendatang. Bila menghadapi kesulitan, ia selalu berserah diri kepada Allah, tidak kepada manusia. Sepanjang hidupnya, ia meng­habiskan seluruh waktunya di lingkungan kefakiran dan kezuhudan.

Mendengar Binatang Bertasbih

Sejak umur empat puluh, Asy-Sya’rani tidak lagi tergoda untuk berbuat dosa. Ia merasa, Allah telah memeliharanya dari melakukan segala perbuatan tak terpuji.

Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan melihat jauh, dalam ilmu waktu.Dari sinilah ia memberikan keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang luar biasa itu kepada orang lain.

Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika menjamu tetamunya, selalu makanan yang dihidangnya tiba-tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah.

Asy-Sya’rani dikenal ‘alim dan wara’. la tidak pernah melupakan shalat wajibnya. la menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya mahupun di masjid lain. la selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan isterinya sebagaimana ketika bersembahyang.

Terhadap para muridnya, ia senantiasa berbuat adil. la juga merasa enggan dicium tangannya.Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan menanyai mereka perihal suasana-suasana di alam kubur. la telah melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka. Sebaliknya,banyak juga orang bermimpi tentang dia, di antaranya para gabenor. Dan ini menambahkan kepercayaan mereka terhadapnya.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia dapat melihat jauh ke depan, dalam arti waktu. Dan dari sinilah ia memberikan keteladanan-keteladanan. Namun di hadapan umum, ia tidak pernah memperlihatkan kemampuan yang dimilikinya kepada orang lain. Meskipun begitu, orang sering mengenali karamahnya. Seperti ketika dia menjamu tamu-tamunya, sering makanannya tiba­ tiba berlipat ganda. Secara menakjubkan ia juga mampu mendengar binatang-binatang atau benda-benda mati bertasbih memuji Allah swt.

Syaikh Asy-Sya’rani dikenal alim dan wara’. Dia tidak pernah melupakan kewajiban-kewajibannya sebagai hamba Allah. Ia selalu menghindari buang angin di dalam masjid, baik di masjidnya maupun di masjid lain. Dia selalu menghadap Allah, juga ketika berbaring dengan istrinya sebagaimana kala bersembahyang. Terhadap para muridnya, dia senantiasa berbuat adil. Dia juga merasa enggan dicium tangannya. Dalam tidurnya, ia sering bergaul dengan orang-orang yang telah mati dan bertanya kepada mereka tentang keadaan di alam kubur. Dia dapat melihat arwah para wali dan disambut ramah oleh mereka.

Perjalanan Rohani Syekh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani

Beberapa mimpi beliau sebagaimana dituliskan dalam biografi Syekh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani : “Dulu aku mempunyai seorang tetangga yang suka menghina sesamanya. Allah melaknatnya dengan penyakit asma dan lumpuh. Selama kira-kira sepuluh tahun, ia tidak dapat berbaring, dagunya bertumpu di atas lutut, otot-ototnya kian melemah. Kemudian ia mati, dan dikuburkan. Aku bertemu dengannya setelah kematiannya, dan bertanya, “Apakah kau masih lumpuh?” “Ya, dan kelak aku akan dibangkitkan seperti ini pula. Semua ini lantaran kau dan Syaikh Syu’aib si ‘tukang khutbah’ itu,” jawabnya. Tatkala hal ini kusampaikan kepada Syaikh Syu’aib, ia berkata, “Ya, hal itu memang benar. Bila aku lewat di depannya, ia selalu membuang ingus dan melemparkan dahaknya ke wajahku karena benci.” Demikian pula dengan diriku, setiap kali lewat di hadapannya, ia mengumpatku dengan kata-kata yang tak patut ditunjukkan kepada kawanan sapi pun. Semoga Allah mengampuni dan mengasihinya.

Syaikh Abdul Wahhab Asy-Sya’rani meninggal di Mesir pada bulan Jumadil Awal 973 H./ November 1565 M.

Karya Kitab Syekh ‘Abd al-Wahhab asy-Sya’rani :
1. Kitab Al-Jawahir wa al-Durar al-Kubra (Mutiara-mutiara dan Permata-permata agung).
2. Kitab Al-Yawaqit wa al-Jawahir fi Aqa’id al-Akabir (Permata-permata Yakut dan Mutiara-mutiara tentang Akidah-akidah para ulama Besar [kalangan sufi]).
3. Kitab Al-Tabaqat al-Kubra (peringkat-peringkat atau generasi-generasi yang Agung) atau disebut juga Lawaqih al-Anwar fi Tabaqat al-Akhyar (kilatan-kilatan Cahaya tentang Peringkat-peringkat atau generasi-generasi Orang-orang Terpilih).
4. Kitab Al-Anwar al-qudsiyyah fi ma’rifat qawa’id al-Sufiyyah (cahaya-cahaya kudus dalam hal mengenal kaidah-kaidah para sufi).
5. Kitab Lawaqih al-Anwar al-Qudsiyyah fi Bayan al-Uhud al-Muhammadiyyah (kilatan-kilatan kudus dalam meenjelaskan jani-janji (pesan-pesan) Muhammad.
6. Kitab Al-Kibrit al-Ahmar fi Uluww al-Syaikh al-Akbar (belerang Merah (pemaparan) tentang kemuliaan Syaikh al-Akbar [ibnu Arabi].
7. Kitab Al-Qawa’id al-Kasfiyyah fi al-Illahiyyah (kaidah-kaidah Ketersingkapan tetang sifat-sifat Ketuhanan).
8. Kitab Masyariq al-Anwar al-Qudsiyah fi Bayan al-Uhud al-Muhammadiyyah (pancaran cahaya-cahaya kudus tentang penjelasan janji-janji [pesan-pesan] Muhammad).
9. Kitab Madarik al-safilin ila Rusum Tariq al-Arifin (alur pengetahuan kelas rendah munuju sketsa Jalan orang-orang Arif).
10.Kitab Lata’if al-Minan (kelembutan-kelembutan karunia).
11.Kitab Mizan al-Kubra (Neraca yang Agung).