Makam Mbah Malik Kedung Paruk Ledok Banyumas

0

Makam Kyai Haji Abdul Malik berada di dalam bangunan cungkup tertutup, persis di belakang masjid di dukuh Kedung Paruk, beberapa puluh meter dari pinggiran Kali Pelus, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Banyumas. Dukuh di perbukitan ini berbatasan dengan Mersi, desa tempat kelahiran saya, dipisahkan oleh Kali Wetan.

 

Letak dukuh Kedung Paruk sekitar 4-5 meter lebih tinggi dari Desa Mersi, sehingga untuk mencapainya orang harus melewati tanjakan tajam selewat jembatan Kali Wetan, kali selebar 3 meter yang ketika masih di SD saya sering nyebur ke dalamnya untuk bermain kunclungan. Kunclungan dilakukan dengan berdiri melawan arus sungai, menyorongkan tangan kanan dengan telapak telentang dan memutarnya secara cepat ketika masuk ke dalam air menciptakan bunyi “clung”, dan lalu menepuk permukaan air dengan tangan kanan tengkurap membuat bunyi “plak”. Selanjutnya tangan kanan dan kiri secara bersamaan menyapu menyilang di dalam air dengan tangan kanan berada sedikit di atas tangan kiri, menciptakan bunyi berat “bleng”.

Peziarah juga tidak diperbolehkan shalat di makam, tidur di makam, atau berlama-lama di makam. Selain diminta untuk menjaga kebersihan, peziarah juga diminta untuk tidak mengambil apa pun yang ada di makam, termasuk kerikil atau benda lainnya.

Sedangkan tulisan di sebelah kiri adalah ajakan dari Kyai Haji Muhammad Ilyas Noor kepada peziarah untuk ambil bagian dalam “Proyek Aku Melu”, untuk ikut menyumbang dalam pembangunan gedung Madrasah Ibtidaiyyah dan Tsanawiyyah yang dibangun di atas tanah seluas 1400 m2 di sebelah timur pondok. Mas Muh, demikian saya biasa memanggilnya, adalah cucu Kyai Haji Abdul Malik atau kakak sepupu saya yang kini memimpin Pondok Pesantren Bani Malik di Kedung Paruk.

Setelah mBah Malik meninggal pada 17 April 1980 dalam usia 99 tahun, yang meneruskan menjadi kyai di Kedung Paruk adalah mas Dul Qadir (KH Abdul Qadir, anak laki-laki tertua). Ketika mas Dul Qadir meninggal pada 19 Maret 2002 dalam usia 60 tahun, tanggung jawab pondok dilanjutkan oleh mas Said (KH Said Alatas, putera lelaki kedua) namun hanya berlangsung 2 tahun karena ia meninggal pada 3 Juli 2004 dalam usia 53 tahun. Sejak saat itulah KH Muh Ilyas Noor yang memegang pimpinan pondok.

Makam KH Said Alatas dan makam KH Abdul Qodir yang berada di sisi depan cungkup makam KH Abdul Malik. Mereka adalah anak-anak bude Chaeriyah, puteri dan anak satu-satunya mbah Dul Malik, dari ayah bernama KH Ilyas Noor.

KH Abdul Malik adalah keturunan Pangeran Diponegoro, karena beliau putera KH Muhammad Ilyas dari ibu Siti Zainab. Ia lahir di Kedung Paruk pada 3 Rajab 1294 H dengan nama Ash’ad, dan menjadi Muhammad Abdul Malik setelah sepulang haji pertama. Kelahiran itu konversinya ke tahun Masehi adalah Sabtu Legi 14 Juli 1877 (bukan Jumat 1881), yang artinya ia meninggal dalam usia 103 tahun.

Sebelum berangkat ke Mekah pada usia 18 tahun, ia berguru kepada KH Abu Bakar bin H Yahya Ngasinan (Kebasen, Banyumas), Kyai Muhammad Sholeh bin Umar Darat Semarang, Sayyid Habib Ahmad Fad’aq, Habib ‘Aththas Abu Bakar al-Atthas, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsyi Surabaya, dan Sayyid Habib Abdullah bin Muhsin Al-Atthas Bogor.

Di Mekah ia belajar berbagai ilmu agama dan tasawuf, diantara kepada Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tirmisi al-Jawi, Umar as-Syatha’ dan Muhammad Syatha’ yaitu ulama besar di Mekah dan Imam Masjidil Haram, serta kepada Alwi Syihab bin Shalih bin Aqil bin Yahya. Di Madinah mBah Malik belajar kepada Sayid Ahmad bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas bin Muhammad Amin Ridwan, Sayid Abbas Al Maliki Al-Hasani (kakek Sayid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al-Hasani), Sayid Ahmad An-Nahrawi Al Makki, serta Sayid Ali Ridha.

Sesudah 15 tahun mukim di Mekah ia pulang ke Sokaraja, lima tahun sebelum sang ayah KH Muhammad Ilyas wafat. Dari sang ayah ia mendapat sanad Thoriqah Naqsabandiyah Kholidiyah, sedangkan sanad Thoriqah Sadzaliyah ia peroleh dari Sayyid Ahmad Nahrawi Al-Makki di Mekkah. Kabarnya mBah Malik mengamalkan lebih dari 12 thariqah, namun hanya 4 yang diturunkan, yaitu naqsyabandi al-khalidi, syadziliyah, qairiyah naqsyabandiyah dan alawiyah.

Setelah sempat berkeliling ke Semarang, Pekalongan, dan Yogyakarta dengan berjalan kaki yang selesai pada seratus hari peringatan wafatnya sang ayah, ia kemudian menetap di Kedung Paruk bersama sang ibu, Siti Zaenab binti Maseh bin KH Abdussamad (Mbah Jombor). Hanya saja sepertinya saya tak sempat mengenal mBah buyut Zainab ini.

Ketika tinggal di Mekah, KH Abdul Malik diangkat oleh pemerintah Arab Saudi sebagai Wakil Mufti Madzhab Syafi’i, dan mendapat kesempatan mengajar berbagai ilmu agama seperti tafsir dan qira’ah sab’ah. Ia juga disediakan rumah tinggal di sekitar Masjidil Haram, dekat Jabal Qubes.

 

Alamat : Dukuh Kedung Paruk, Desa Ledug, Kecamatan Kembaran, Banyumas.