KH. Mas Alwi Abdul Aziz

0

Kiyai Mas Alwi Abdul adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama bersama Kiyai Abdul Wahab asbullah dan Kiyai Ridlwan Abdul dan lainnya, yang ketiganya bergerak secara aktif sejak NU belum didirikan. Beliaulah yang pertama mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Kiyai Mas Alwi Abdul merupakan putra Kiyai besar kala itu, yaitu KH. Abdul Aziz yang masuk dalam keluarga Ampel, Surabaya. Beliau pernah belajar di pesantren Syikhona Kholil Bangkalan, Madura. Kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo lalu kemudian di Mekkah.

Sebagaimana disebut dalam kisah berdirinya NU oleh Kiyai’ As’ad Syamsul Arifin bahwa, sebelum tahun 1926 KH. M. Hasyim Asy’ari telah berencana membuat organisasi Jam’iyah Ulama, atau perkumpulan ulama. Saat didirikan dan mau diberi nama, para kiyai berpendapat dan mengusulkan nama-nama yang berbeda. Namun Kiyai’ Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Kiyai Hasyim Asy’ari bertanya : “Kenapa ada Nahdlah, kok tidak Jamiyah Ulama saja?”. Kiyai Mas Alwi menjawab : “Karena tidak semua kiyai memilki jiwa Nahdlah (bangkit). Ada kiyai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak mau perduli terhadap jamiyah”. Akhirnya para kiyai menyepakati nama Nahdlatul Ulama sebagai pilihan untuk nama sebuah organisasi sampai saat ini.

Kelahiran KH. Mas Alwi Abdul Aziz
Tidak ada data yang pasti mengenai kelahiran Kyai Mas Alwi. Hanya ditemukan petunjuk dari kisah Kyai Mujib Ridlwan bahwa ketiga kyai yang bersahabat di masa itu, yakni Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Alwi adalah orang-orang yang tidak terlalu jauh jaraknya dalam hal usia. Disebutkan bahwa di awal-awal berdirinya NU yakni tahun 1926, usia Kyai Ridlwan 40 tahun, Kyai Wahhab 37 tahun dan Kyai Mas Alwi 35 Tahun. Dengan demikian, Kyai Mas Alwi diperkirakan lahir pada sekitar tahun 1890-an.
Kyai Mas Alwi merupakan putra Kyai Besar kala itu, yaitu KH Abdul Aziz yang masuk dalam keluarga besar Ampel, Surabaya. Saya juga belum menemukan data yang cukup mengenai masa kecil beliau dan silsilah keluarganya.

Pendidikan KH. Mas Alwi Abdul Aziz
Ketiga kyai diatas, yakni Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan Kyai Mas Alwi, bukan sosok yang baru bersahabat ketika mendirikan sekolah Nahdlatul Wathon, namun jauh sebelum itu, ketiganya telah bersahabat sejak berada di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, Madura.
Kyai Ridlwan mengisahkan kepada putranya Kyai Mujib bahwa Kyai Wahab dan Kyai Mas Alwi adalah dua kyai yang sudah terlihat hebat sejak berada di pondok, baik kecerdasan dan kepandaiannya. Kyai Mujib kemudian menyebutkan bahwa dua kyai tersebut kemudian melanjutkan ke Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, kemudian ke Makkah termasuk juga Kyai Ridlwan Abdullah.

Perjuangan KH. Mas Alwi Abdul Aziz
Kyai Mas Alwi bersama Kyai Ridlwan Abdullah, Kyai Wahab Hasbullah dan saudara sepupunya Kyai Mas Mansur, turut membidani berdirinya sekolah Nahdlatul Wathon, dan Kyai Mas Mansur lah yang menjadi kepala sekolah sebelum terpengaruh pemikiran pembaharuan Islam di Mesir yang akhirnya menjadi pengikut Muhammadiyah.
Namun, setelah tersiar kabar bahwa Kyai Mas Alwi ikut kerja dalam pelayaran, maka beliau dipecat dari sekolah tersebut, akan tetapi sepulang dari Eropa beliau diterima kembali mengajar di Nahdlatul Wathon, dan justru Kyai Mas Mansur yang akhirnya dipecat oleh para kyai karena telah terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh.

Berlayar Mencari Hakikat “Renaissance”
Saat merebaknya isu “Pembaharuan Islam” (Renaissance), Kyai Mas Mansur, adik sepupu Kyai Mas Alwi mempelajarinya ke Mesir, kepada Muhammad Abduh. Maklum, Mas Mansur adalah keluarga yang mampu secara finansial sehingga beliau dapat mencari ilmu ke Mesir. Sementara Kyai Mas Alwi bukan dari keluarga yang kaya. Oleh karenanya Kyai Mas Alwi berkata: “Apa sih yang sebenarnya dicari oleh Adik Mansur ke Mesir? Renaissance atau pembaharuan itu tempatnya di Eropa”. Maka beliau pun berusaha untuk mengetahui apa sebanarnya renaissance ke Eropa, saat itu beliau pergi ke Belanda dan Prancis dengan mengikuti pelayaran.
Di masa itu, orang yang bekerja sebagai pelayaran mendapat stigma yang sangat buruk dan memalukan bagi keluarga, sebab pada umumnya pekerja pelayaran selalu melakukan perjudian, zina, mabuk dan lain sebagainya. Sejak saat itulah keluarga Kyai Mas Alwi mengeluarkannya dari silsilah keluarga dan ‘diusir’ dari rumah.
Setiba di tanah air, Kyai Mas Alwi dikucilkan oleh para sahabat dan tetangganya. Akhirnya Kyai Mas Alwi membuka warung kecil di daerah Jl. Sasak, dekat wilayah Ampel untuk berjualan memenuhi hajat hidupnya. Mengetahui beliau datang, Kyai Ridlwan mendatanginya, lalu Kyai Mas Alwi berkata: “Kenapa Kang, sampean datang kesini, nanti sampean akan dicuci pakai debu sama kyai-kyai lainnya, sebab warung saya ini sudah dianggap mughalladzah?”
Kyai Ridlwan bertanya: “Dik Mas Alwi, sebenarnya apa yang sampean lakukan sampai pergi pelayaran ke Eropa?”. Kyai Mas Alwi menjawab: “Begini Kang Ridlwan. Saya ini ingin mencari renaissance, apa sih sebenarnya renaissance itu? Lah, Adik Mansur mendatangi Mesir untuk mempelajari renaissance itu salah, sebab tempatnya renaissance itu ada di Eropa. Coba sampean lihat nanti kalau Din Mansur datang, dia pasti akan berkata begini, begini dan begini…” (maksudnya adalah kembali ke al-Quran-Hadis, tidak bermadzhab, tuduhan bid’ah dan sebagainya)
Beliau melanjutkan: “Renaissance yang ada di Mesir itu sudah tidak murni lagi Kang Ridlwan, sudah dibawa makelar. Lha orang-orang itu mau melakukan pembaharuan dalam Islam, apanya yang mau diperbaharui, Islam itu sudah sempurna, sudah tidak ada lagi yang diperbaharui. Al-Quran sudah jelas menyatakan:

ۚالْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا ۚ

“… Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al-Maidah: 3).

Inti dari perjalanan beliau ke Eropa adalah menemukan hakikat renaissance yang ada dalam dunia Islam adalah upaya pecah belah yang dihembuskan oleh dunia Barat, khususnya Belanda dan Prancis. Kyai Ridlwan bertanya: “Dari mana sampean tahu?” Kyai Mas Alwi: “Karena saya berhasil masuk ke tempat-tempat perpustakaan di Belanda”. Kyai Ridlwan bertanya lebih jauh: “Bagaimana caranya sampean bisa masuk?” Kyai Mas Alwi menjawab: “Dengan menikahi wanita Belanda yang sudah saya Islam-kan. Dialah yang mengantar saya ke banyak perpustakaan. Untungnya saya tidak punya anak dengannya”.
Setelah Kyai Mas Alwi menyampaikan perjalanan beliau ke Eropa secara panjang, maka Kyai Ridlwan berkata: “Begini Dik Alwi, saya ingin menjadi pembeli terakhir di warung ini”. Kyai Mas Alwi menjawab: “Ya jelas terakhir, Kang Ridlwan, karena ini sudah malam”. Kyai Ridlwan berkata: “Bukan begitu. Sampean harus kembali lagi ke sekolah Nahdlatul Wathon. Sebab saya sekarang sudah tidak ada yang membantu. Kyai Wahab sekarang lebih aktif di Taswirul Afkar. Sampean harus membantu saya”.
Di pagi harinya, sebelum Kyai Ridlwan sampai di sekolah, ternyata Kyai Alwi sudah ada di sekolah Nahdlatul Wathon. Kyai Ridlwan berkata: “Kok sudah ada disini?” Kyai Alwi menjawab: “Ya Kang Ridlwan, tadi malam saya tawarkan warung saya ternyata laku dibeli orang. Makanya uangnya ini kita gunakan untuk sekolah ini”. Kedua kyai tersebut kemudian kembali membesarkan sekolah Nahdlatul Wathon.
Nama “Nahdlatul Ulama”
Sebagaimana disebutkan dalam kisah berdirinya NU oleh Kyai As’ad Syamsul Arifin bahwa sebelum 1926 Kyai Hasyim Asy’ari telah berencana membuat oraganisasi Jam’iyah Ulama, atau perkumpulan ulama. Saat didirikan dan mau diberi nama, para kyai berpendapat dan mengusulkan nama-nama yang berbeda. Namun Kyai Mas Alwi mengusulkan nama Nahdlatul Ulama. Kyai Hasyim bertanya: “Kenapa ada Nahdlah, kok tidak Jamiyah Ulama saja?” Kyai Mas Alwi menjawab: “Karena tidak semua kyai memiliki jiwa Nahdlah (bangkit). Ada kyai yang sekedar mengurusi pondoknya saja, tidak mau peduli terhadap jamiyah”. Akhirnya para kyai menyepakati nama Nahdlatul Ulama.