KH Abdullah Salam Kajen (Pati)

0

KH Abdullah Salam dari Kajen Pati, beliau adalah pendiri dan pengasuh Pondok Terbesar di Kajen yaitu Pondok Matholi’ul Falah, Akrab disapa dengan Mbah Dullah. Dilahirkan di desa Kajen-Margoyoso Pati, dengan nama Abdullah, ketika anak beliau di tambahi Zain, menjadi Abdullah Zain untuk membedakan beliau dengan beberapa anak sebaya yang kebetulan bernama sama yaitu Abdullah.
Belum jelas tanggal serta bulan kelahiran beliau, sementara tentang tahun kelahiran beliau ini masih khilaf. KH. Ma’mun Muzayyin menantu Mbah Dullah mengaku bahwa yang dia dengar dari ayah KH. Muzayyin beliau lahir tahun 1917 M/1335 H. Sementara masih menurut KH. Ma’mun Muzayyin, Mbah Dullah sendiri secara langsung pernah mengatakan bahwa tahun kelahiran beliau berkisar antara tahun 1910-1915 M/1328-1333 H.
Beliau adalah salah satu putra dari keluarga dari KH Abdussalam. KH Abdussalam ini beristri empat orang. Dari istri pertama di karunia anak, yakni Nyai Aisyah dan KH.Mahfudz, yang wafat dalam tahanan Ambarawa saat terjadi clash ke-II. Sementara Mbah Dullah sendiri adalah pertama dari istri kedua KH. Abdussalam yaitu Nyai Sumrah, yang seluruhnya empat bersaudara yaitu KH. Abdullah Salam, KH. Ali Muktar, seorang putri yang meninggal pada usia empat tahun dan terakhirnya Nyai Saudah yang bermukim di Jepara. Dua istri terakhir dari KH Abdussalam tak meniggalkan keturunan. Nasab Mbah Dullah dari pihak ayah sampai kepada Syaikh Waliyyullah KH. Abdullah bin Nyai Mutirah binti KH. Bunyamin bin Nyai Thoyyibah binti Kiyai Muhammad Endro Kusumo bin KH.Ahmad Mutamakkin.

Perjalanan Hidup
Sejak kecil Mbah Dullah telah terbiasa hidup terpisah dari keluarga. Sebelum genap tujuh bulan, beliau ikut pamannya dari pihak ibu di jepat yaitu kiai Sholihin untuk mengaji alquran bin nadhor. Saat usianya menginjak tujuh bulan, dia diantar oleh pamannya KH. Mahfudz ke sampang, madura untuk menghafal alquran dibawah bimbingan kiyai Sa’id. Selesai mondok di sampang beliau pun pulang dikajen dan bersekolah di Mathali’ul Falah yang berlakangan beliau sendiri yang menjadi pengasuhnya. Di madrasah inilah beliau mengeyam pendidikan. Menginjak remaja, secara pribadi beliau banyak belajar kepada kakaknya KH. Mahfudz yang usianya terpaut jauh dari beliau. KH. Mahfudz menerapkan disiplin belajar yang sangat ketat kepada abdullah muda, sampai-sampai diatas dokar pun saat dalam perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, Abdullah muda tetap diwajbkan belajar dengan membawa dan membaca kitab. Kecuali pada kakaknya KH. Mahfudz, konon beliau juga sempat belajar pada pamannya KH. Abdussalam, yaitu KH. Nawawi, setelah merampungkan pendidikannya di pesantren Tebuireng, Jombang di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari. Di Tebuireng ini beliau seagkatan dengan teman-teman sesama dari kajen antara lain KH. Duri Nawawi, KH. Ni’am Tamyiz dan KH. Abdul Hadi. Diantara dua yang terakhir, usia beliau yang paling muda ,namun demikian justru beliaulah yang sering mmbantu mencarikan tambahan bekal bila kedua teman tersebut kebetulan kehabisan bekal.Sebenarnya pendidikan beliau Di tebuireng belum rampung, namun ditarik pulang oleh KH.Abdussalam beliau di nikahkan dengan Nyai Aisyah.Yang masih belum jelas : beliau mondok untuk ngaji Qiro’at Sab’ah ditempat KH. Arwani, Kudus, sebelum atau sesudah menikah yang jelas, tempat KH. Arwani inilah KH. Abdullah Salam mngakhiri perjalanan panjang riwayat pendidikannya sebelum kembali ke kajen. Meskipun secara formal pendidikan beliau sudah berakhir ,namun secara informal beliau masih aktif belajar pada beberapa pihak, termasuk pada KH. Muhamadun, kajen pada tahun 1956M (1375 H)/1957 (1376 H). Sepulang dari kudus,beliau mengajar di perguruan islam Mathali’ul Falah serta PMH pusat. Dan setelah wafatnya ayahanda dan kakanda (KH.Abdussalam dan KH.Mahfudz) praktis KH. Abdullah Salam harus menjadi kepala keluarga bagi keluarga besar KH. Abdussalam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here