Tawasul dan Istighotsah dengan Orang yang telah Meninggal Dunia

0

Sebelum menjelaskan tentang dalil-dalil tentang kebolehan istighotsah dan wasilah atau tawasul terhadap orang yang telah meninggal dunia, ada baiknya terlebih dahulu diajukan pertanyaan-per-tanyaan dibawah ini :

• Apakah orang yang meninggal dunia dalam kuburnya tetap hidup sehingga kita bias bertawasul dan istighotsah terhadapnya ?

• Apakah di dalam kubur mereka dapat mendenganr istighotsah dan wasilah kita ?

• Dan apakah mereka dapat memberikan pertolongan kepada kita ?

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas adalah Ya, dalam artian bahwa mereka di dalam kuburnya tetap hidup, dapat mendenganr dan memberikan pertolongan kekpada orang-orang yang tawasul terhadapnya.

Di bawah ini adalah dalil-dalil al-qur’an yang men-guatkannya.

Surat al-imron ayat 169
Artinya:

Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati akan tetapi mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. (QS. Ali Imron: 169)

Surat al-baqoroh ayat 154
Artinya:

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya. (QS. Al-Baqoroh:154)

Dan lain-lain

Adapun dalil-dalil dari hadis adalah sebagai beri-kut :

Artinya:
Dari Abu Huroiroh RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Tidak seorang pun memberikan salam kepadaku kecuali Allah mengembalikan ruh ku kepadaku, hingga aku membalas salamnya. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Berikut ini adalah pendapat para ulama’ tentang tawasul dan istighotsah.

Syeh Muhammad bin Abdul Wahab, pendiri ger-akan Wahabiah.

Di dalam kitabnya “al-Muwajjahah li ahlil qoshim..” syeh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan bahwa : sesungguhnya sulaiman bin suhaim telah menyandarkan pendapat-pendapat yang tidak pernah saya katakana, di antaranya adalah : saya mengkafirkan orang-orang yang bertawasul ter-hadap orang sholih, dan saya, katanya, mengkaf-irkan syeh Al-Bushoiry, dan telah membakar kitab Dalailul Khoirot. jawaban saya atas tuduhan di atas adalah, bahwa itu merupakan kebohongan yang besar.

Syeh Muhammad bin Abdul Wahab juga pernah ditanya pendapatnya tentang masalah istisqo’, dia menjawab bahwa, di dalam sholat istisqo’ tidak ada masalah diselingi dengan tawasaul kepada orang-orang sholih. Inilah sebagian pendapat syeh Muhammad bin Abdul Wahab tentang kebolehan tawasul13.

Syeh Ibnu Taimiyah.

Syeh Taqiyudin ibnu Taimiyah pernah ditanya pendapatnya tentang boleh tidaknya tawasul kepa-da nabi Muhammad s.a.w. lalu beliau menjawab, “Alhamdulillah, bahwa yang demikian itu dianjur-kan menurut kesepakatan kaum muslimin”14.

Syeh Muhammad Nashirudin al-Albani

Al-Albani menuturkan bahwa diperbolehkan tawa-sul dengan asma’ dan sifat Allah, dengan perbua-tan baik kita sendiri dan dengan amal-amal orang sholih. Al-Albani juga mengatakan bahwa tawasul itu disyariatkan atas dasar nash al-Qur’an dan al-Hadits dan secara terus menerus diamalkan oleh Salafusholih dan disepakati oleh kaum muslimin15.

Imam Ahmad bin Hambal.
Imam Ahmad al-Maruzi berkata, bahwa Imam Ah-mad bin Hambal dalam setiap doanya selalu berta-wasul kepada nabi Muhammad s.a.w16.

Imam Malik bin Anas

Kholifah al-Mansur bertanya kepada imam Malik bin Anas ketika sedang ziyaroh ke makam nabi Mu-hammad bersamanya, “wahai imam apakah saya harus menghadap kiblat kemudian berdoa, atau-kah menghadap makam rosul lalu berdoa ?.””imam Malik kemudian menjawab “jangan pernah kau pallingkan wajahmu dari makam Rasul, karena dia adalah wasilahmu dan wasilahnya bapakmu, Adam, kepada Allah. Menghadaplah kepadanya dan mintalah syafaat kepada-Nya maka Allah akan memberikan pertolongan kepadamu karenanya.17

Imam Taqiyudin as-Subki

Imam Taqiyudin abu Hasan as-Subki berkata : ke-tahuilah bahwa diperbolehkan bahkan dianggap baik melakukan tawasul, istighosah dan meminta syafaat kepada allah dengan perantaraan nabi Mu-hammad s.a.w. beliau juga berkata, bahwa tawasul kepada nabi adalah boleh secara mutlak, sebelum nabi diciptakan maupun setelah diciptakan, ketika masih hidup maupun setelah wafatnya.18

Imam as-Syaukani

Imam Ali as-Syaukani berkata, bahwa tawasul ke-pada nabi itu boleh dilakukan ketika hidupnya maupun setelah matinya, di dekatnya maupun ke-tika jauh darinya. Begitu juga boleh tawasul dengan selain nabi Muhammad s.a.w. dengan dasar ijma’ sahabat, yaitu ijma’ sukuti . sebagai dasar atas ad-anya ijma’ ini adalah diamnya para sahabat ketika Umar bin Khothob berdoa dengan tawasul terha-dap Ibnu Abbas dan dengan orang-orang sholih atas amal-amal mereka. Hal ini telah diceritakan oleh imam Tirmidzi dalam kitab “Ad-da’wat”, Ibnu Majah dalam “Sholatul hajat”, al-Bukhori dan Ibnu Khuzaimah.19

Imam Syihabudin ar-Romli

Imam Syihabudin ar-Romli as-Syafi’i berkata: bah-wa sesungguhnya istighosah dan tawasul dengan para nabi dan rosul, para wali dan orang-orang sholeh adalah diperbolehkan.20

Imam Ibnu Muflih al-Hambali

Imam Ibnu Muflih al-Hambali telah berfatwa atas bolehnya tawasul dengan orang-orang sholeh. Bah-kan hukumnya mustahab.21

Syeh Yusuf an-Nabhani

Syeh Yusuf an-Nabhani berkata, bahwa mayoritas umat Muhammad dari kalangan ahli hadits, ahli fiqh, mutakallimun, dan kalangan ahli tashawuf, baik orang-orang khos maupun awam, semuanya sepakat atas baiknya istighosah dan tawasul kepada nabi untuk mencapai tujuan duniawi dan uhrowi.

Demikianlah pendapat para ulama’ mengenai ke-bolehan bahkan kesunnahan melakukan tawasul dan istighosah kepada para nabi, rasul, dan kepada ulama’ sholihin. Ulalma’-ulama’ yang telah dise-butkan di atas adalah dari berbagai latar belakang madzhab, Syafi’i, Syi’i, dan juga ada yang dari madzhab Hambali.22