Tawasul dan Istighosah

0

Tawasul adalah salah satu jalan dari berbagai jalan tadzorru’ kepada Allah. Sedangkan Wasilah adalah setiap sesuatu yang dijadikan oleh Allah sebagai sabab untuk mendekatkan diri kepadanya. Sebagaimana firmannya :


Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah ke-pada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah.35).

Adapun istighotsah adalah meminta perto-longan kepada orang yang memilikinya, yang pada hakikatnya adalah Allah semata. Akan tetapi Allah membolehkan pula meminta pertolongan (istig-hotsah) kepada para nabi dan para walinya.

Dalil-dalil Tawasul Dan Istighosah

Diperbolehkanya tawasul dan istighosah ini oleh ulama salaf tidaklah terjadi pertentangan. Karena dalam tawasul itu sendiri seseorang bukanlah me-minta kepada sesuatu yang dijadikan wasilah itu sendiri, akan tetapi pada hakikatnya meminta ke-pada Allah dengan barokahnya orang yang dekat kepada Allah, baik seorang nabi, wali maupun orang-orang sholeh dan juga dengan amal sholeh.

Artinya:

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh be-rat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (Q.S. Al-Baqoroh: 45)

Dan nabi bersabda :

Artinya :
Ya Allah berikanlah kepada kami hujan yang mem-berikan pertolongan. (HR. Bukhori /967,968)

Dalil tentang kebolehan bertawasul dengan amal

sholeh ini sangat masyhur karena telah diriway-atkan oleh Imam al-Bukhori, Muslim dan Ahmad. Yaitu hadist tentang tiga orang dari Bani Israil yang terjebak dalam goa dan kemudian bertawasul den-gan amal sholehnya masing-masaing agar selamat. Ini adalah penjelasan tentang tawasul dengan amal sholeh.

Sebagaimana diperbolehkan tawasul dengan amal sholeh, tawasul dengan orang-orang sholehpun diperbolehkan, karena pada hakekatnya bukan orangnya yang dijadikan tawasul tetapi amalnya. Sebab seseorang tidak dikatakan sholeh ketika ti-dak melakukan amalan-amalan baik.

Berikut ini adalah dalil-dalil yang menjelaskan ten-tang kebolehan wasilah.

Dalil al-Qur’an

Surat al-Maidah ayat 35

Artinya:

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah ke-pada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (Q.S.al-Maidah.35).

Surat al-Isro’ ayat 56

Artinya:

Katakanlah: “Panggillah mereka yang kamu ang-gap (tuhan)856 selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak pula memindahkan-nya.” (QS. Al-Isro’: 56)

Surat al-Qoshosh ayat 15

Artinya:

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika pen-duduknya sedang lengah1116, maka didapatinya didalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah mu-suhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya). (QS. Al-Qoshosh: 15)

Surat al-Baqoroh ayat 248

Artinya:

Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peningga-lan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat. Sesungguhnya pada yang demiki-an itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.(QS. Al-Baqoroh: 248)

Surat al-Anfal ayat 9

Artinya:

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan ke-pada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala ban-tuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.(QS. Al-Anfaal: 9)

Surat an-Nisa’ ayat 63

Artinya:

Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Kare-na itu berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. Al-Anfaal: 43)

Dalil-dalil dari hadits

Diriwayatkan dari sahabat ali karomallahu wajhah, bahwa rasulullah Muhammad s.a.w ketika mengu-burkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa :

Artinya:

Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi se-belumku, Ampunilah dosa ibuku dan orang-orang setelah kau ampuni ibu kandungku. (HR.Thobroni, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain.

Sumber : Buku Amaliah NU dan Dalilnya