Hadits dan Atsar dicabutnya Ilmu, dan Mewabahnya Kebodohan

0

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam “Fath al-Bari” berkata : Allah akan mewafatkan para ulama’ dan mengambil ilmu bersamanya, lalu akan terjadi peristiwa di mana sebagian orang menyerang sebagian yang lainnya, dan para sesepuh hanyalah orang yang lemah di antara mereka.

Abu Umamah r.a. meriwayatkan, bahwa ketika haji wada’ Rasulullah berdiri di atas unta berwarna kecoklatan lalu bersabda :

يَااَيُّهَاالنَّاسُ خُذُوْا مِنَ اْلعِلْمِ قَبْلَ اَنْ يُقْبَضَ وَقَبْلَ اَنْ يُرْفَعَ مِنَ اْلاَرْضِ، اَلاَ اَنَّ ذِهَابَ اْلعِلْمِ ذِهَابَ حَمَلَتِهِ، فَسَأَلَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ كَيْفَ
يُرْفَعُ اْلعِلْمَ مِنَّا، ؟ وَبَيْنَ اظَْهرَِناَ الْمصََاحفُِ وَلمَ يتَعََلقَّوُْا منِهْاَ بحَِرْفٍ فِيْمَا جَاءَهُمْ بِهِ اَنْبِيَاؤُهُمْ

Artinya : Wahai sekalian manusia, belajarlah sebelum ilmu itu dicabut dari bumi, ingatlah hilangnya ilmu adalah bersamaan dengan wafatnya ulama. Lalu ada seorang Baduwi bertanya, ya Rasul bagaimana bisa ilmu dicabut dari kita, sedangkan di antara kita terdapat mushaf yang tidak pernah berubah sedikitpun semenjak ditrunkan kepada para nabi ? Ibnu Mas’ud berkata : umat ini akan selalu dalam kebaikan selama masih berpegang pada ajaran para sahabat, dan jika mereka berpegang kepada orang-orang bodoh, dan terpecah belah, maka akan binasa. Al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab “Shahih” dari Abu Hurairah dari Rasulullah s.a.w. beliau bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ اُمَّتِىْ بِأَخْذِاْلقُرُوْنِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، فَقِيْلَ يَا رَسُوْلَ الله كَفَارِسٍ وَالرُّوْمِ ؟، فَقَالَ وَمَنْ النَّاسُ اِلاَّ هُمْ ؟.

Artinya : Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti perilaku umat sebelumnya sedikit demi sedikit, lalu Rasul ditanya, apakah seperti orang Persia dan Rumawi ?, Rasul menjawab, siapa lagi kalau bukan mereka?.

Diriwayatkan dari Abi Sa’id al-Khudri dari Nabi s.a.w. beliau bersabda :
لَتَتْبَعَنَّ سُنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا ذِرَاعًا حَتَّى لَوْ دَخَلُوْا فِى حِجْرِ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوْهُمْ قُلْنَا يَارَسُوْلَ اللهِ اَلْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ ؟

Artinya : Niscaya kalian akan mengikuti sedikit demi sedikit kebiasaan umat sebelum kalian, sampai andai kata mereka masuk ke lubang biawakpun kalian juga akan tetap mengikutinya, kami bertanya, wahai Rasul, apakah itu Yahudi dan Nashrani ?, Rasulullah menjawab, siapa lagi ?

Al-Thabari meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dari Nabi s.a.w. beliau bersabda :
انَِّ اوََّل هذهِ الْامُةَّ خيِاَرهُمُ وَاخَرَِهاَ شِرَارهُمُ مُخْتَلِفِيْنَ مُتَفَرِّقِيْنَ، فَمَنْ يُؤْمِنُ بِااللهِ وَاْليَوْمِ اْلاَخِرِ فَلْتَأْتِهِ مَيْتَتُهُ وَهُوَ يَاءْتِى اِلَى النَّاسِ مَا يُحِبُّ اَنْ يُؤْتَى اِلَيْهِ

Artinya : Sesungguhnya generasi awal umat ini adalah orang-orang pilihan, dan generasi akhir adalah orang-orang yang buruk, mereka saling berselisih dan terpecah belah. Oleh karena itu barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir semoga saja segera dijemput ajalnya. Dia akan memperlakukan manusia sesuai dengan yang ia sukai dari mereka. Hisyam bin Urwah pernah mendengar ayahnya berkata bahwa : “persoalan Bani Israel akan lurus-lurus saja sampai banyak anak yang terlahir dari budak perempuan. Mereka akan mengatakan sesuatu yang baru berdasarkan pendapat mereka sendiri, mereka juga akan menyesatkan orangorang Bani Israel itu sendiri. Peganglah ajaranajaran Sunah, karena itu adalah pilar agama.

” Ibnu Wahab telah meriwayatkan dari Ibnu Syihab al-Zuhri, ia berkata :
“sesungguhnya orang orang Yahudi dan Nashrani kehilangan ilmu yang berada dalam genggaman mereka ketika mulai berani berfikiran bebas dan mempraktikkannya. Al-Bukhari dalam “Shahih”nya meriwayatkan dari Urwah sebagai berikut :

حَجَّ عَلَيْنَا عَبْدُاللهِ بْنِ عُمَرْ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ اِنَّ الله لا ينَْزِعُ الْعِلمْ بعَْدَ انَْ اعَْطَاكمُوُْه انِْتزَِاعًا وَلكَنِْ ينَتْزَِعهُ منِهْمُ معََ قبَضِْ الْعلُمَاَء بعِلِمْهِمِ فَيَبْقَى نَاسٌ جُهَّالٌ يُسْتَفْتَوْنَ فَيُفْتُوْنَ بِرَأْيِهِمْ فَيُضِلُّوْنَ وَيَضِلُّوْنَ، فَحَدَّثْتُ بِهَا عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيّ صلى الله عليه وسلم، ثُمَّ اَنَّ عَبْدَ اللهِ بْنِ عُمَرَ حَجَّ بَعْدَ فَقَالَتْ : يَاابْنَ اخُْتىِ انِْطَلقِْ الِىَ عَبْدِالله فَااسْتَشْبتِْ لىِْ مِنْهُ الَّذِىْ حَدَّثْتَنِىْ عَنْهُ، فَجِئْتُهُ فَسَأَلْتُهُ فَحَدَّثَنِىْ
بهِِ كَنَحْوِ مَا حَدَّثَنىِْ فَأتََيْتُ عَائشَِةَ فَأخَْبَرْتُهَا فَقَالَتْ وَاللهِ لَقَدْ حَفِظَ عَبْدُاللهِ بْنِ عُمَرَ

Artinya : Abdullah bin Umar singgah kepada kami ketika musim haji, lalu aku mendengar ia berkata, ‘aku telah mendengar Nabi s.a.w. bersabda, sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara mendadak setelah memberikannya kepada manusia. Namun Allah akan mencabut ilmu dengan cara mencabut nyawa para ulama’. Lalu tersisalah orang-orang bodoh yang ketika dimintai fatwa mereka berfatwa dengan pendapatnya sendiri yang ternyata sesat dan menyesatkan. Lalu saya (Urwah) beritahukan hal itu kepada A’isyah r.a.. Pada tahun berikutnya Abdullah bin Umar menunaikan Haji lagi, maka A’isyah berkata kepadaku, ‘wahai keponakanku pergilah menjumpai Abdullah, tanyakan padanya tentang hadits yang telah kau beritahukan kepadaku. Lalu aku menjumpai Abdullah dan menanyakan riwayat hadits tersebut. Abdullah tetap meriwayatkan hadits sebagaimana yang dulu ia beritahukan kepadaku. Lalu aku mendatangi A’isyah untuk memberitahukan hal tersebut, lalu ia berkata, “Abdullah benar-benar memiliki hafalan yang baik.”

Dalam kitab “Fath al-Bari” dari Masyruq dari Ibnu Mas’ud ia berkata : “tidak akan datang sebuah masa kecuali lebih buruk dari sebelumnya. Ingatlah bukanlah aku maksudkan membandingkan pemimpin yang satu dengan yang lainnya, dan orang awam yang satu dengan yang lainnya. Akan tetapi para ulama’ dan ahli fiqh di antara kalian akan meninggal dunia, lalu kalian tidak mendapatkan gantinya. Lalu datanglah orang-orang yang berfatwa dengan pendapatnya sendiri. Mereka itulah orang yang akan mencoreng dan menghancurkan Islam.