Berhati-hati Dalam Mengambil Ilmu Agama

0

Suatu keharusan berhati-hati dalam mencari ilmu, dan tidak mengambilnya dari orang yang bukan ahlinya. Ibnu ‘Asakir meriwayatkan dari Imam Malik r.a.

لاَ تَحْمِلِ اْلعِلْمَ عَنْ اَهْلِ اْلبِدَعِ وَلاَ تَحْمِلْهُ عَمَّنْ لَمْ يَعْرِفْ بِالطَّلَبِ وَلاَ عَمَّنْ يَكْذِبُ
فِى حَدِيْثِ النَّاسِ وَاِنْ كَانَ لاَ يَكْذِبُ فِىnحَدِيْثِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمِ.

Artinya : Janganlah kamu menuntut ilmu dari orang ahli bid’ah, maupun dari orang yang tidak selektif mendapatkannya, jangan pula menuntut ilmu dari orang yang berbohong sekalipun tidak sampai mendustakan.

Hadits Rasulallah SAW Ibnu Sirin meriwayatkan bahwa :

هذَاْلعِلْمُ دِيْنٌ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَاءْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ.

Artinya : Ilmu itu sebenarnya adalah agama, lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian. Imam Dailami meriwayatkan dari Ibnu Umar Bahwa :

اَلْعِلْمُ دِيْنٌ، وَالصَّلاَةُ دِيْنٌ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ هذَاْلعِلْمَ، وَكَيْفَ تُصَلُّوْنَ هذِهِ الصَّلاَةِ، فَاِنَّكُمْ تُسْأَلُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، فَلاَ تَرْوُوْهُ اِلاَّ عَمَّنْ تَحَقَّقَتْ اَهْلِيَتُهُ بِاَنْ يَكُوْنَ مِنَ اْلعَدُوْلِ الثِّقَاتِ اْلمُتْقِنِيْنَ

Artinya : Ilmu itu sebenarnya adalah agama, shalat juga pada hakikatnya adalah agama, perhatikan dari siapa kalian memperoleh ilmu itu, dan bagaimana kalian menunaikan shalat, karena kelak kalian akan ditanya (tentang semua itu), janganlah menimba ilmu kecuali dari ahlinya, yakni seorang yang adil dan tsiqah dan bertaqwa kepada Allah. Imam Muslim telah meriwayatkan dalam kitab “Shahih”, bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda :

سَيَكُوْنُ فِى أخِرِ اُمَّتِىْ اُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَاكُمْ مَالمَْ تَسْمَعُوْا انَْتمُْ وَلا ابََاؤُكُمْ فاَيَِّاكُمْ وَايَِّاهُمْ.

Artinya : Akan ada pada generasi akhir umatku orang-orang yang menceritakan sesuatu kepada kalian tentang sesuatu yang tidak pernah kalian dengar begitu juga orang-orang tua kalian, berhati-hatilah kalian dan waspadalah. Dalam “Shahih”nya Imam Muslim juga meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda :

يَكُوْنُ فِى أخِرِ الزَّمَانِ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ يَأْتُوْنَكُمْ مِنْ اَلاَحَادِيْثِ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا اَنْتُمْ وَلاَ اَبَاؤُكُمْ فَاِيَّاكُمْ وَاِيَّاهُمْ لاَ يُضِلُّوْنَكُمْ وَلاَ يُفْتِنُوْنَكُمْ

Artinya : Pada akhir zaman nanti akan ada dajjal-dajjal tukang bohong mereka memberi tahu kalian tentang sesuatu yang tidak pernah kalian dan orang tua kalian dengar, berhati-hatilah dan waspadailah, jangan sampai mereka menyesatkan dan menfitnah kalian. Disebutkan dalam “Shahih” Muslim dari Amr bin al-‘Ash r.a. ia berkata :

اِنَّ فِى اْلبَحْرِ شَيَاطِيْنَ مَسْجُوْنَةً اَوْثَقَهَا سُليَْمَانَ يُوْشِكُ انَْ تَخْرَجَ فَتَقْرَأ عَلىَ النَّاسِ قُرْأنًا

Artinyan : Sungguh dalam lautan terdapat syetan yang dipenjarakan oleh Nabi Sulaiman, mereka hampir saja bebas lalu akan membacakan al-Qur’an (palsu) kepada manusia. Imam Nawawi menjelaskan, bahwa yang dimaksud adalah bukan al-Qur’an yang sesungguhnya, dikatakan sebagai al-Qur’an untuk menipu orang-orang awam. Imam al-Thabrani meriwayatkan dari Abu Darda’ bahwa :

Artinya : Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah keberadaan pemimpin yang menyesatkan. Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar r.a. bahwa :

اِنَّ اَخْوَفَ مَا اَخَافُ عَلَى امَُّتِى كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيْمِ اللِّسَانِ

Artinya : Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap umatku adalah keberadaan orangorang munafik yang fasih lidahnya. Al-Munawi berkata, “begitu banyak orang yang fasih lidahnya, tetapi kosong hati dan amalnya. Ia menukil secuil ilmu untuk mencari sesuap nasi, bahkan jadikan untuk kesombongan, dia mengajak manusia menuju Allah, tetapi ia sendiri berpaling dariNya. Imam al-Tabrani meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib r.a. bahwa : “sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan umatku yang mukmin atau musyrik, adapun yang mukmin akan dilindungi oleh imannya, sementara yang musyrik akan dikendalikan oleh kekafirannya. tetapi yang aku khawatirkan adalah orang-orang munafik yang fasih lidahnya, dia akan berbicara yang sesuai apa.

Sumber: Buku Risalah