Hadlratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (1287 H-1367 H)

0

Hadlratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari (1287 H-1367 H)

Hadlratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Organisasi kemasyarakatan terbesar di Indonesia. Ia juga pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum, berorganisasi, dan berpidato.

M. Hasyim Asy’ari, lahir pada hari selasa tanggal 24 Dzulqo’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. Ayahnyan bernama Kiyai’ Asy’ari, pemimpin pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Sedangkan ibunya bernama Halimah. Dari garis ibu, KH. M. Hasyim Asy’ari merupakan keturunan raja Brawijaya VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).

Ketika masih dalam kandungan ibunya, sudah menunjukkan adanya isyarat kebesaran KH. M. Hasyim Asy’ari. Di antaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh kedalam kandungan. Ketika melahirkan bayi yang dikandungnya Nyai Halimah tidak merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita lain yang pernah melahirkan.

Di masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya yang pindah ke Desa Keras terletak di selatan kota Jombang dan desa tersebut kiysi Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.

Dalam usia yang cukup muda, KH. M. Hasyim Asy’ari sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik bimbingan keluarga guru, atau belajar otodidak. Ketidakpuasannya terhadap apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Sekitar umur 15 tahun KH. M. Hasyim Asy’ari mulai melakukan pengembaraannya menuntut ilmu keluar dari lingkungan keluarganya. Di awali belajar ke pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah jawa, khususnya Jawa Timur. Di antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Tuban (sekarang diasuh oleh KH. Abdullah Faqih), kemudian Bngkalan Madura, di bawah bimbingan Kiyai’ Muhammad Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).

Setelah sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307 H/1891 H), akhirnya beliau kembali ketanah jawa, belajar di pesantren Siwalan, Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan KH. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu shorofnya. Selang beberapa lama, Kiyai’ Ya’qub semakin mengenal dekat santri tersebut dan semakin menaruh minat untuk menjadikan menantunya.

Pada tahun 1303 H/1892 M., KH. M. Hasyim Asy’ari yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah dengan Nyai Nafisah, putri Kiyai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut, beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan adalah haji bersama istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilikinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya sejak di tanah air.

Kepada ulama-ulama besar yang tersohor dizaman itu selalu didatangi untuk belajar sekaligus mengambil berkah. Diantaranya adalah Syeikh Sua’ib bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas (dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki Al-Hasani (dalam ilmu hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minangkabawi (dalam segala bidang keilmuan).

Setelah sekian tahun berada di Mekkah, beliau pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang bersifat ma’qul maupun manqul, sebagai bekal untuk beramal dan mengajar di kampung halaman.

Ketika telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren, dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang kemaksiatan dan kekacauan. Tepatnya pada tanggal 26 Robi’ul Awal 1317 H/1899 M berdirilah Pondok Pesantren Tebuireng, bersama rekan-rekan seperjuangannya, seperti Kiyai’ Abbas Buntet, Kiyai’ Sholeh Benda Kerep, Kiyai’ Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiyai’ lainnya, segala kesulitan dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan islam di Tebuireng dapat diatasi.

Dari pesantren inilah KH. M. Hasyim Asy’ari memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu keistimewaan beliau yaitu mengkhatamkan kitab Syaikhihaina “Al-Bukhori” dan “Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadhan yang konon diikuti oleh ratusan kiyai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini berjalan hingga sampai sekarang (pengasuh PP. Tebuireng KH. Shalahuddin Wahid).

Pada awal santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan orang, alumnus-ulumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ‘ulama besar dan menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok pesantren.

Pada tanggal 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 M, di Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ (kebangkitan ulama) bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar lainnya, dengan azaz dan tujuannya : “Memegang dengan teguh pada salah satu dari madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’I, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan kemaslahatan agam islam”. KH. M .Hasyim Asy’ari terpilih menjadi Rois Akbar NU, sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli sunnah waljama’ah.

Nahdlatul Ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berijtihad untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk menytukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan KH. M. Hasyim Asy’ari kalau menyerah begitu saja. Menurut beliau, bahwa perjuangan yang dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk menghancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan syiar islam di Indonesia, untuk mengadu domba antar sesame. Sebagai orang yang tajam dan berfikiran jauh kedepan, KH. M. Hasyim Asy’ari melihat bahaya yang akan dihadapi umat islam. Oleh karena itu beliau mencari jalan keluarnya dengan membentuk sebuah organisasi NU dengan dasar-dasar yang dapat diterima para ulama’.