K.H. Ahmad Syatibi Cianjur

0

K.H. Ahmad Syatibi
Al-‘Alim Al-‘Allamah Al-Kamil Al-Waro Asy-Syaikh Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa’id Al-Qonturi Asy-Syanjuri Al-Jawi Asy-Syafi’i lahir diCianjur, Hindia Belanda, sekitar tanggal 12-18 tanpa diketahui secara pasti bulan dan tahun kelahirannya – meninggal di Cianjur,Indonesia pada Rabu 14 Jumadil Akhir1365 Hijriyah, tanggal 15 Mei 1946) atau lebih dikenal dengan Mama Gentur adalah salah satu sosok ulama Tatar Pasundan y‎ang bergelar Al-Alim Al-‘Allamah Al-Kamil Al-Wara.
Ahmad Syathibi diperkirakan lahir sekitar tanggal 12-18 tanpa diketahui secara pasti bulan dan tahun kelahirannya di Kampung Gentur, Warungkondang, Cianjur, Jawa Barat, Hindia Belanda. Tetapi, yang jelas ia keturunan Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan,Tasikmalaya, Tatar Pasundan. Nama sewaktu kecilnya adalah Adun, setelah pulang dari Mekkah namanya diganti menjadi Dagustani. Namun, nama masyhurnya sekarang yaitu Al-‘alim Al-‘allamah Syaikh Ahmad Syathibi atau biasa disebut sebagai Mama Gentur kata orang ‎sunda yang jadi anak muridnya. ‎
Ahmad Syathibi adalah anak ketiga dari empat bersaudara buah hati pasangan Mama Hajji Muhammad Sa’id & Ibu Hajjah Siti Khodijah. Kakak kandungnya antara lain Hajjah Ruqiyah (pengajar Pondok Pesantren Cipadang, Cianjur), Mama Hajji Ilyas (alias Mama Hajji Yahya, pengajar Pondok Pesantren Babakan Bandung, Sukaraja, Sukabumi), dan adik kandung yakni Mama Hajji Muhammad Qurthubi (alias Mama Gentur Kidul, pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur).
Mama Ajengan Ahmad Syathibi Gentur Kaler – Cianjur adalah salah satu sosok ulama tanah pasundan yang berpangkat Al-Alim Al- Alamah Al-Kamilil-Wara.
Beliau hidup pada pertengahan kurun ke 13 H, tidak diketahui secara pasti tahun kelahirannya. Tetapi, yang jelas beliau adalah masih keturunan dari Waliyullah Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan – Tasikmalaya.

Silsilah Keturunan Mama Ajengan Kaler (Syekh Ahmad Syatibi Gentur) dari pihak Ibunya

yaitu :

1. Nabi Muhammad Saw
2. Sayyidina Ali karroma Allahu wajhahu dan Fatimati Azzahro’
3. Sayidina Husein As.
4. Sayyidina Ali Zaenal Abidin Ra.
5. Muhammad Al Baqir
6. Ja’far Ashodiq
7. Ali AI’Aridhi
8. Muhammad
9. Isa Albasyari
10. Ahmad Al Muhajir
11. Ubaidillah
12. ‘Uluwi
13. Ali Kholi’i Qosim
14. Muhammmad Shohibul Murobath
15. Uluwi
16. Abdul Malik
17. Abdullah Khona
18. Imam Ahmad Syah
19. Jamaludin Akbar
20. Asmar Kandi Gisik Karjo Tuban
21. Ishak Makdhum
22. Muhammad Ainul Yaqin
23. Sunan Giri Laya
24. Wira Candera
25. Kentol Sumbirana
26. Rd. Ajeng Tanganziah
27. Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan
28. Sembah Dalem Bojong
29. Syekh Nur Katim
30. Syekh Nur Hajid
31.Syekh Abdul Qodir
32.Syekh Muhammad Said
33. Syekh Ahmad Syatibi Gentur (Mama Ajengan Kaler)

Sedangkan dari pihak ayahnya adalah :
1. Nabi Adam As.
2. Nabi Syis As.
3. Anwar ( Nur cahya )
4. Sangyang Nurasa
5. Sangyang Wenang
6. Sang yang Tunggal
7. Sang yang Manikmaya
8. Brahma
9. Bramasada
10. Bramasatapa
11. Parikenan
12.Manumayasa
13.Sekutrem
14. Sakri
15. Palasara
16. Abiyasa
17. Pandu Dewanata
18. Arjuna
19. Abimanyu
20. Parikesit
21. Yudayana
22. Yudayaka
23. Jaya Amijaya
24. Kendrayana
25. Sumawicitra
26. Citrasoma
27. Pancadriya
28. Prabu Suwela
29. Sri Mahapunggung
30. Resi Kandihawan
31. Resi Gentayu
32. Lembu Amiluhur
33. Panji Asmarabangun
34. Rawisrengga
35. Prabu Lelea ( maha raja adi mulya )
36. Prabu Ciung Wanara
37. Sri Ratu Dewi Purbasari
38. Prabu Lingga Hyang
39. Prabu Lingga Wesi
40. Prabu Susuk Tunggal
41. Prabu Banyak Larang
42. Prabu Banyak Wangi / Munding sari I
43. A. Prabu Mundingkawati / Prabu Lingga Buana / Munding wangi (Raja yang tewas di Bubat).
B. Prabu boros ngora / Buni sora suradipati / Prabu Kuda lelean berputra : Ki Gedeng Kasmaya
44. Prabu Wastu Kencana / Prabu Niskala wastu kancana / Prabu Siliwangi I
45. Prabu Anggalarang / Prabu Dewata Niskala/ Jaka Suruh ( Raja Galuh / Kawali )
46. Prabu Siliwangi II / Prabu Jaya dewata / Raden Pamanah rasa / Sri Baduga Maha Raja
47. Ratu Galuh
48. Ratu Puhun
49. Kuda Lanjar
50. Mudik Cikawung Ading
51. Entol Penengah
52. Sembah Lebe Warto Kusumah
53. Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi Pamijahan
54. Sembah Dalem Bojong
55. Syekh Nur Katim
56. Syekh Nur Hajid
57. Syekh Abdul Qodir
58. Syekh Muhammad Said
59.Syekh Ahmad Syatibi Gentur (Mama Ajengan Kaler).

Nama sewaktu kecilnya adalah Agus, setelah pulang dari Mekah namanya diganti menjadi Dagustani. Namun, nama masyhurnya sekarang yaitu Al- alim Al-alamah Syeikh Ahmad As- Syatibi atau Mama Gentur kata orang sunda yang jadi anak muridnya.

Diantara murid-murid beliau adalah :
• Mama Eyang Cijerah (K.H.Muhammad Syafi`i bin K.H. Muhammad Amin)
• Abah Anom Suryalaya
• Mama K.H. R. Sudja’i (Mama’ Sindangsari)
• Mama K.H. Syarifuddin Ponpes Fathul Huda cipaku darajat garut
• Mama K.H. Emed Cimasuk garut bin K.H. Muhammad Rusdi haur kuning
• Dan lain-lain.

Kabar dari KH. Emed cimasuk garut bin KH. Ajengan Muhammad Rusdi Haur Kuning, “Waktu saya ziarah ke Mama gentur, beliau mengisahkan, “Dulu mama ketika sangat mengiginginkan punya ilmu yang besar tapi mama merasa bingung memilih guru untuk ngaji kepadanya? Akhirnya mama berangkat ziarah kubur ke wali luar batang Jakarta. Disitu mama membaca shalawat Nariyah 4444 kali dan tamat sebanyak 44 kali dalam waktu delapan bulan. Kemudian, setelah itu mama mimpi bertemu dengan wali Luar Batang. Wali tersebut berkata : “Kalau kamu benar-benar mau punya ilmu yang besar, segeralah pergi ke daerah Garut”. Maka kemudian mama mulai berangkat ke pesantren Keresek. Kata Mama Keresek : “Kalau Ananda mau punya ilmu yang besar besok mama antar ke paman mama yaitu pangersa ajengan Muhammad Adzro’i di Bojong sebab dalam waktu sekarang ini para sepuh yang punya ilmu yang besar di tiap kabupaten juga kebanyakan adalah yang nyantri ke paman mama tersebut, yaitu Syeikh Muhammad Adzro’i Bojong Garut. Mama Gentur menginap semalam di Keresek, besoknya kemudian diantarkan ke pasantren Bojong.
Diceritakan waktu pertama masuk ke pasantren, oleh guru di pesantren disumpah jikalau tidak mempunyai ilmu sihir. Kemudian beliau melaksanakan sumpahnya tanda tidak memiliki ilmu sihir. Kemudian barulah beliau diterima sebagai murid di pesantren.
Makanan yang biasa beliau makan selama di pesantren cukup dengan talas yang dicuilkan kedalam sambel roay , tidak pernah makan yang enak dengan rupa-rupa makanan.
Ketika mendapati masalah kitab yang susah difaham, beliau langsung menghadiahi mualifnya dengan makanan dan aurod shalawat.
Hanya dalam waktu 40 hari mondok di Bojong beliau sudah hafal kitab nazom yaqulu-kailani-amriti-alfiyah- samarqondy dan jauhar maknun. Keunggulan pesantren Bojong – Garut adalah para santri yang belajar di pesantren tersebut jika sudah belajar selama dua tahun biasanya akan jadi al-alim al-alamah.
Mama Gentur menetap di pesantren Bojong hanya selama satu tahun hingga akhir bulan Sya’ban, karena disuruh gurunya, Syeikh Adzro’i untuk menemani Kiyai Rusdi ngaji di pesantren Gudang Tasikmalaya.
Kiyai Rusdi merupakan santri Bojong yang waktu Mama Gentur mulai mondok di pesantren Bojong disitu ada kiyai Muhammad Rusdi yang sudah menetap selama 3 tahun. Padahal ketika sudah genap dua tahun oleh Syeikh Adzro’i sudah disuruh mukim hanya saja ayahnya belum mengizinkan.
Mama Gentur genap satu tahun di Bojong sedangkan ajengan Muhammad Rusdi genap empat tahun. Dari situ disuruh ngaji ke Mama Syuja’i, Gudang – Tasikmalaya ditemani oleh Mama Gentur.
Kata Mama Gentur, Mama Gudang jika sedang mengajar dihadapan Kiyai Rusdi dagu dan badan beliau bergetar dikarenakan sungkan akan ilmunya Kyai Rusdi. Bahkan, Mama Gudang berkata kepada Mama Gentur “Katakan kepada Ki Rusdi segeralah bermukim.. Bukankah Kang Adzro’i pun sudah menyuruhnya dan sudah ada dalam ridho guru” .Namun, tetap saja ayahnya belum juga menyetujuinya.
Kemudian Kiyai Rusdi setelah mondok di Gudang selanjutnya pindah lagi ke Kiyai Muhammad Shoheh Bunikasih Cianjur, yang disebut Ba’dul Ikhwan oleh Syeih Ibrahim Bajuri dalam kitab Tijan. Syeikh Shoheh dan Syeikh Adzro’i adalah teman sepondok sewaktu ngaji di Syeikh Ibrahim Bajuri.
Mama gentur terus menetap di Gudang hingga sembilan tahun lamanya. Waktu mesantren di Gudang, beliau pernah ziarah ke makam kubur di Geger Manah. Sebelumnya beliau puasa dulu selama 40 hari baru berangkatlah ke Geger Manah dan langsung mendatangi juru kunci makam. Beliau disambut di rumah kuncen sembari ditanya perihal maksud dan tujuannya, yaitu hendak ziarah tabaruk di makam keramat. Kemudian diantarlah beliau menuju makam keramat tersebut.
Kira-kira jam 4 Subuh beliau pulang dari makam dan balik lagi ke tempat kuncen, kemudian kuncen menjamunya dengan rupa-rupa makanan. Selesai makan, beliau bertanya kepada kuncen, “Mang, malem tadi ada hujan kesini gak?” Jawab kuncen “Ah, gak ada. Memangnya ada apa Ajengan….? Kuncen agak heran. “Waktu saya di makam sedang ziarah tiba-tiba ada hujan yang besar sekali, petir menyambar-nyambar disertai angin yang sangat kencang. Saya melihat pohon kayu yang amat besar merunduk-runduk ke tanah seperti mau runtuh.”
Kuncen bertanya, “Terus ada apa lagi? “Jawab Mama Gentur , “Ah rahasia, saya gak sanggup menceritakannya.” Dimalam itu kata penduduk kampung ada suara ayam berkokok yang terdengar jelas oleh semuanya, sedangkan di kampung tersebut tidak ada yang punya ayam yang suaranya seperti itu. Semuanya kaget akan suara ayam tersebut, kemudian diselidiki darimana sumbernya suara. Ternyata yakin bahwa suara ayam tersebut berasal dari atas pasir, tempat makam yang diziarahi oleh Pangersa Mama Gentur.
Kata Mama Gentur, “Setelah 9 tahun di Gudang kemudian Mama berangkat ke Mekkah ngaji ke Syeikh Hasbullah. Pertama ngaji di Syeikh Hasbullah banyak yang menyepelekannya. Suatu hari, Syeikh Hasbullah berkata kepada murid-muridnya, kira-kira begini artinya, “Besok hari Rabu kita akan mulai ngaji kitab tuhfah Muhtaj, tapi sebelumya kalian muthala’ah dulu kitabnya. Hasil muthala’ah tuliskan dalam buku masing-masing. Besok semua harus hadir dan bawalah hasil tulisan tersebut.
Besoknya Syeikh Hasbullah memeriksa buku murid-muridnya. Ketika melihat buku tulisan Mama, Syeikh Hasbullah tertegun, kemudian buku Mama dipisahkan, kemudian melanjutkan pemeriksaannya. Setelah selesai, Syeikh Hasbullah berkata, “Ngaji Tuhfah batal sebab gak pantas Syatibi ngaji ke saya, bahkan seharusnya saya yang ngaji ke Syatibi. Masalah yang belum sampai saya muthala’ah, dalam buku Syatibi sudah ada. Saya gak sanggup mentaswirkan kitab dihadapan Syatibi.
Tetapi, oleh sebab semuanya meminta untuk diteruskan, dan juga Mama memohon supaya diteruskan biarpun dibaca hanya lafadzna, maka barulah Syeikh Hasbullah bersedia walaupun cuma lafadznya hingga tamat.
Kata Mama Gentur, “Ilmu yang dipakai muthala’ah kitab tuhfah tersebut adalah sebagian ilmu yang diterima dari Syaikhuna Bojong”.
Waktu di Mekkah, Mama Gentur suka shalat didepan baitullah, para askar sudah pada tahu dan memberi isyarat kepada jamaah yang lain supaya ada tata hormat kepada beliau sembari berkata, “Hadza ulamaul jawa”.
Setelah sekian lama di Mekkah, kemudian beliau berangkat ke Mesir dengan maksud mau melanjutkan thalab ilmunya. Namun, ulama Mesir sama berkata, “Sudah tidak ada guru buat Ahmad Syatibi”. Hanya ada satu ulama ahli qiro’at Qur’an yang berasal dari Indonesia juga yang bermukim di Mekkah, yaita dari pulau Bawean. Selanjutnya mereka saling menggurui. Mama Gentur ngajar ilmu Mantiq, ulama Bawean ngajar ilmu qiro’at.
Sesudah Mama Gentur mukim di Mekkah selama 3 tahun, kata satu riwayat kemudian ada utusan dari Syeikh Shoheh Bunikasih Cianjur. Amanatnya, “Katakan kepada Syatibi segeralah pulang kemudian mukim di Cianjur, sebab di daerah pasundan sudah tidak ada lagi yang kuat untuk jadi pemimpin dan tauladan dari pengamalan ilmu yang sebenarnya.
Kemudian Mama Gentur pulang ke Cianjur melanjutkan ngaji ke Syeikh Shoheh Bunikasih kemudian mukim di Gentur. Sebelum mukim, beliau membaca shalawat nariyah terlebih dahulu sebanyak 4444 kali dengan maksud supaya mukimnya ditambah-tambah ilmu dan tambah-tambah manfaatnya.
Cara Mama Gentur dalam menyebarkan ilmunya yaitu beliau tidak pernah mengajarkan suatu ilmu kepada murid-muridnya kecuali telah ia amalkan terlebih dahulu. Beliau mengijazahkan shalawat untuk umum sesudah diamalkan terlebih dahulu selama 40 tahun. Beliau pernah diminta ngaji kitab Tuhfah Muhtaj, sebelum diaji beliau puasa dulu selama 40 hari.
Jika makan, beliau cukup dimangkok dengan garam. Beliau tidak pernah makan enak sebagaimana keadaan beliau pada waktu nyantri di pesantren. Suatu ketika, beliau khusus diundang makan-makan oleh Om Muharam. Ia adalah seorang saudagar kaya raya di Cianjur. Segala makanan dan minuman disediakan. Namun, yang dimakan beliau cuma sedikit nasi yang dicuilkan ke garam saja. Begitulah menu beliau makan selamanya. Cuma pernah sesekali makan agak beda, termasuk mewah menurut beliau yaitu waktu makan dengan pepes burayak (ikan kecil) hasil ternak beliau, sebab kasab beliau yaitu ternak telur ikan hingga jadi burayak.
Malah, suatu ketika Mama Gentur nernak telur ikan di kolam. Ketika sudah jadi burayak, tidak biasanya waktu itu bibit telur jadi dan mulus semuanya. Dari situ Mama memanggil pekerjanya yang bernama Ki Yusuf. Kata beliau, “Suf, coba kesini bawa cangkul!” Ki Yusuf menjawab, “Ada apa, Kang?” Kata Mama Gentur, “Kamu lobangi pinggir kolam ini, kemudian buanglah sebagian airnya!” Ki Yusuf heran, “Kalau begitu bukankah burayaknya pasti pada kabur, Kang?” Kata Mama Gentur, “Iya sengaja biar pada kabur ikan-ikannya takutnya ini istidraj karena sadar diri belum bisa ibadah”. Setelah terbuang sebagian air dan ikan-ikannya, barulah Ki Yusuf disuruh menutup kembali lubang air tadi.
Suatu hari, ketika Mama Gentur sedang ngajar para santrinya dan khalayak yang biasa ngaji rutinan, datanglah utusan dari pemerintah kolonial Belanda. Beliau diminta hadir dalam diskusi program perpolitikan Belanda. Mama genturpun menyempatkan diri dulu menghadiri undangan tersebut tanpa didampingi seorangpun. Tidak lama, Mamapun sudah hadir kembali ke madrasah dan melanjutkan kembali pengajarannya. Para santri yang sudah menunggu-nunggu ingin tahu tentang pembicaraan yang didiskusikan oleh kaum Belanda, tapi Mama Gentur tak membahasnya sedikitpun. Inilah ciri Mama Gentur tidak ikut-ikutan dalam soal politik, hingga beliau mendapat penghargaan keamanan tanda bulan-bintang tiga dari Wihalminak, yaitu Gubernur Hindia Belanda.
Di zaman pemerintahan Jepang, Mama Gentur mendapat hadiah dari Kaisar Tenoheka dikarenakan ideologinya yang murni hanya mengamalkan ajaran agama, tanpa ada maksud menyampuradukan politik dan agama.
Semasa hidupnya beliau mengarang rupa-rupa kitab kurang lebih sekitar 80 kitab berbahasa Arab dan Sunda. Diantaranya adalah Sirojulmunir dan Tahdidul Ainain dalam ilmu fikih, Al-mukadimah Samarkandiyah, Al-fathiyah, Dahlaniyah dalam ilmu bayan, Nadzom Addudiyah dalam ilmu munadzoroh, dan lain-lain. Sebagian karangannya dalam ilmu bayan ada yang menyebar sampai tanah arab. Para ulama Mesir banyak yang membaca hasil karya beliau dan memujinya seraya berkata, “Ternyata di tanah Jawa ada juga ulama yang luas ilmunya”.

Putra Beliau :
1. Mama Haji Hidayatullah (Aang Baden) – Pengajar Pondok Pesantren Picung, Warungkondang, Cianjur
2. Mama Haji Rohmatullah (Aang Eyeh) – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur
3. Mama Haji Hasbullah (Aang Abun) – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur
4. Mama Haji Abdul Qodir (Abuya Qodir) – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur
5. Mama Haji Abdul Haq Nuh (Aang Nuh) – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur
6. Hajjah Siti Aminah (Ibu Hajjah Mas Noneh) – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur
7. Hajjah Mas Ucu Qoni’ah – Pengajar Pondok Pesantren Gentur, Warungkondang, Cianjur.

Karya Mama Gentur  :
Semasa hidupnya beliau mengarang rupa-rupa kitab kurang lebih sekitar 80 kitab, berbahasa Arab dan Sunda. Diantaranya adalah. :
1. Sirojul Munir (dalam ilmu fiqih)
2. Tahdidul ‘Ainain (dalam ilmu fiqih)
3. Nadzom Sulamut Taufiq (dalam ilmu fiqih)
4. Nadzom Muqadimah Samarqandiyah (dalam ilmu bayan)
5. Fathiyah (dalam ilmu bayan)
6. Nadzom Dahlaniyah (dalam ilmu bayan)
7. Nadzom ‘Addudiyah (dalam ilmu munadzoroh)
8. Nadzom Ajurumiyah (dalam ilmu nahwu)
9. Muntijatu Lathif (dalam ilmu shorof)
10. Dan Lain-lainnya
Sebagian karangannya dalam ilmu bayan ada yang menyebar sampai Tanah Arab. Para Ulama Arab dan Mesir banyak yang membaca hasil karya beliau dan memujinya seraya berkata, “Ternyata di Tanah Jawa ada juga ulama yang luas ilmunya”.

Murid Murid Beliau :
Beliau memiliki banyak murid, kurang lebih tiga ribu muridnya yang menjadi ulama besar, antara lain :
1. Syekh Tubagus Ahmad Bakri (Mama Sempur),Plered,Kabupaten Purwakarta
2. Syekh Ahmad Eumed (Mama Cimasuk),Karangpawitan,Kabupaten Garut
3. Syekh Zinal ‘Alim (Mama Haur Kuning)
4. Syekh Muhammad ‘Umar Bashri (Mama Fauzan),Sukaresmi,Kabupaten Garut
5. Syekh ‘Izzuddin (Mama Cibatu),Cisaat,Kabupaten Sukabumi
6. Syekh Zain Abdusshomad (Mama Gelar),Cibeber,Kabupaten Cianjur
7. Syekh Muhammad Hasbullah (Mama Babakan Bandung),Sukaraja,Kabupaten Sukabumi
8. Syekh Fudholi (Mama Gentong),Cisaat,Kabupaten Sukabumi
9. Syekh Abdusshobur (Mama Gunung Sumping),Palabuhanratu, Kota Palabuhanratu
10 Syekh Ahmad ‘Inayatullah (Mama Warudoyong),Warudoyong,Kota Sukabumi
11. Syekh Hulaimi (Mama Darmaga),Bojongpicung, Kabupaten Cianjur
12. Syekh Abdullah (Mama Jeungjing),Sukaraja,Kabupaten Sukabumi
13. Syekh Muhammad Syuja’i (Mama Ciharashas),Cilaku,Kabupaten Cianjur
14. Syekh Ahmad ‘Izzuddin (Mama Kubang),Cibeber,Kabupaten Cianjur
15. Syekh Sayuthi (Mama Pawenang),Nagrak,Kabupaten Sukabumi
16. Syekh Ahmad Rosyadi (Mama Cipelang),Cijeruk,Kabupaten Bogor
17. Syekh Muhammad Syafi’i (Mama Cijerah),Bandung Kulon, Kota Bandung
18. Syekh Fakhruddin (Mama Sungapan),Cibeureum,Kota Sukabumi
19. Syekh Ahmad Jajang Jubaidi (Mama Cijambu),Cigombong,Kabupaten Bogor
20. Syekh Hasan Bashri (Mama Obay Kampungsawah),Jayakerta,Kabupaten Karawang
21. Syekh Abdullah Nuh (Mama Cimanggu),Kota Bogor
22. Syekh Sanja (Abuya Kadukaweng), Kaduhejo,Kabupaten Pandeglang
23. Syekh Hambali (Mama Gasol Kaler),Cugenang,Kabupaten Cianjur
24. Syekh Sya’roni (Mama Gasol Kidul),Cugenang,Kabupaten Cianjur
25. Syekh Ahmad Dimyathi (Mama Kedung),Ciranjang,Kabupaten Cianjur
26. Syekh Hasan Hariri (Mama Cipriangan),Sukalarang,Kabupaten Sukabumi
27. Syekh Hasan Musthofa (Mama Cilember),Cisarua,Kabupaten Bogor
28. Syekh Zarnuji (Mama Pamuruyan),Cibadak,Kabupaten Sukabumi
29. Syekh ‘Izzuddin (Mama Cijambe Fauzan),Warudoyong,Kota Sukabumi
30. Syekh Hasan Bolang (Mama Cijambe),Bantargadung, Kota Palabuhanratu
31. Syekh Sya’roni (Mama Cigadog),Sukaraja,Kabupaten Sukabumi
32. Syekh Ahmad Basuni (Mama Baros),Karangtengah, Kabupaten Cianjur
33. Syekh Yasin (Mama Cikadu),Palabuhanratu, Kota Palabuhanratu
34. Syekh Bandaniji (Mama Sadamaya),Cibeber,Kabupaten Cianjur
35. Syekh Muhyiddin (Mama Wangon),Ciawi,Kabupaten Bogor
36. Syekh Badruddin (Mama Cariu),Cugenang,Kabupaten Cianjur.

Mama Gentur wafat pada hari Rabu, 14 Jumadil Akhir 1365 H, bertepatan dengan tanggal 15 Mei 1946 M.