KH. DR. Idham Khalid

0

KH. DR. Idham Khalid

Dilahirkan di desa kecil Setui, Kalimantan Selatan, 86 tahun lalu, KH. DR. Idham–yang berjuang sejak remaja dan dua kali dipenjara masa pendudukan NICA–memegang jabatan penting pada masa Soekarno dan Soeharto. Pada usia sangat muda, 30 tahun, KH. DR.  Idham sudah dipercaya sebagai sekretaris jenderal PB Nahdlatul Ulama. Empat tahun kemudian, 1956, menjadi ketua umum Tanfidziah PBNU.

Pada tahun yang sama, 1956, Pak Idham dari unsur NU menjadi Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Ali Sastroamidjojo II bersama Mr Mohammad Roem. Kabinet ini dikenal sebagai kabinet Ali-Roem-Idham. Dalam kabinet ini, Pak Idham bertugas pula sebagai kepala Badan Keamanan.

Penyusunan kabinet hasil Pemilu 1955 ini sangat alot. Presiden Soekarno mendesak agar unsur PKI masuk dalam kabinet, yang disebutnya sebagai Kabinet Kaki Empat (PNI, Masjumi, NU, PKI). Namun, Ali Sastroamidjojo (PNI), Mohammad Roem (Masjumi), dan Idham Chalid (NU) menolak dengan keras usul Soekarno itu. Ali bahkan sampai pada keputusan: take it or leave it!

Setelah setengah bulan, Soekarno akhirnya menerima susunan kabinet yang diajukan Ali itu. Namun, Soekarno tidak bersedia memimpin pengambilan sumpah menteri kabinet. Presiden hanya menyaksikan setiap menteri membaca teks sumpah sendiri-sendiri. Ini tidak pernah terjadi. “Kalau beliau (Soekarno) tidak senang, memang begitu,” kata Ali pada Pak Idham yang menanyakan keganjilan tersebut.

Kabinet yang tak direstui Presiden ini hanya bertahan setahun. Menyusul penarikan dukungan Masjumi dan PSII terhadap kabinet, Ali dan KH. DR.  Idham akhirnya mengembalikan mandat. Kabinet berakhir, 14 Maret 1957. Ini disusul keputusan Soekarno memberlakukan keadaan bahaya perang (SOB–Staat van Oorlog en van Beleg). Presiden kemudian menunjuk dirinya sendiri menjadi formatur kabinet. Ini dianggap melanggar konstitusi. Dalam kabinet ini, Djuanda menjadi Perdana Menteri, Pak Idham kembali dipercaya menjadi wakil Perdana Menteri.

Dalam perkembangan politik yang berlangsung sangat cepat, Pak Idham tetap mengambil peran penting. Beliau dipercaya menjadi wakil ketua MPR-S (1963-1966), menteri Kesejahteraan Rakyat (1966-1967; 1967-1968; dan 1968-1973). Pada 1971-1977, KH. DR. Idham dipercaya sebagai ketua DPR/MPR.

Pada masa itu pula, 1973, Pak Idham menjadi ketua umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pertama. Di NU, posisinya sebagai ketua umum berakhir pada 1984. Terakhir, 1978-1983, Pak Idham menjadi ketua Dewan Pertimbangan Agung dan Mudir’Am Jam’iyyah Ahlith Thariqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah.

KH. DR. Idham Chalid kelahiran Satui, Kalimantan Selatan, 27 Agustus 1921, seorang ulama dan politikus pelaku filosofi air. Dia seorang tokoh Indonesia yang pernah menjadi pucuk pimpinan di lembaga eksekutif, legislatif dan ormas (Wakil Perdana Menteri, Ketua DPR/MPR, dan Ketua Umum PB Nahdlatul Ulama). Juga pernah memimpin pada tiga parpol berbeda yaitu Masyumi, NU dan PPP.

Laksana air, peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Al-Azhar University, Cairo, ini seorang tokoh nasional, yang mampu berperan ganda dalam satu situasi, yakni sebagai ulama dan politisi. Sebagai ulama, ia bersikap fleksibel dan akomodatif dengan tetap berpegang pada tradisi dan prinsip Islam yang diembannya. Demikian pula sebagai politisi, ia mampu melakukan gerakan strategis, kompromistis, bahkan pragmatis.

Dengan sikap dan peran ganda demikian, termasuk kemampuan mengubah warna kulit politik dan kemampuan beradaptasi terhadap penguasa politik ketika itu, ulama dari Madrasah Pondok Modern Gontor, ini tidak kuatir mendapat kritikan dan stereotip negatif sebagai tokoh yang tidak mempunyai pendirian, bunglon bahkan avonturir.

Peran ganda dan kemampuan beradaptasi dan mengakomodir itu kadang kala membuat banyak orang salah memahami dan mendepksripsi diri, pemikiran serta sikap-sikap socio-polticnya.
Namun jika disimak dengan seksama, sesungguhnya KH. DR. Idham Chalid yang berlatar belakang guru itu adalah seorang tokoh nasional (bangsa) yang visi perjuangannya dalam berbagai peran selalu berorientasi pada kebaikan serta manfaat bagi umat dan bangsa.
Dengan visi perjuangan seperti itu, pemimpin NU selama 28 tahun (1955-1984), itu berpandangan tak harus kaku dalam bersikap, sehingga umat selalu terjaga kesejahteraan fisik dan spiritualnya. Apalagi situasi politik di masa demokrasi terpimpin dan demokrasi Pancasila, tidak jarang adanya tekanan keras dari pihak penguasa serta partai politik dan Ormas radikal.

Sebagaimana digambarkannya dalam buku biografi berjudul “Idham Chalid: Guru Politik Orang NU” yang ditulis Ahmad Muhajir (Penerbit Pustaka Pesantren, Yogyakarta, Cetakan Pertama, Juni 2007) bahwa seorang politisi yang baik mestilah memahami filosofi air.
“Apabila air dimasukkan pada gelas maka ia akan berbentuk gelas, bila dimasukkan ke dalam ember ia akan berbentuk ember, apabila ia dibelah dengan benda tajam, ia akan terputus sesaat dan cepat kembali ke bentuk aslinya. Dan, air selalu mengalir ke temapat yang lebih rendah. Apabila disumbat dan dibendung ia bisa bertahan, bergerak elastis mencari resapan. Bila dibuatkan kanal ia mampu menghasilkan tenaga penggerak turbin listrik serta mampu mengairi sawah dan tanaman sehingga berguna bagi kehidupan makhluk di dunia. (Hal. 55)

Dr Idham Chalid merupakan salah seorang tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mewakili pemerintah di Istana Negara, Jakarta.

Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua MPR/DPR mendapat gelar Pahlawan Nasional karena dianggap berjasa luar biasa bagi kepentingan bangsa dan negara.

DR. Idham Chalid meninggal dunia pada usia 88 tahun. Ia meninggal di kediamannya di kawasan pendidikan Darrul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Minggu 11 Juli 2010, karena sakit yang diderita selama 10 tahun terakhir.

Bahkan sebagai tokoh yang berpengaruh, namanya ditabalkan menjadi nama Gedung Sekretariat serta Gedung Serba Guna di Perkantoran Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan pada 14 Agustus 2011.

Riwayat Pendidikan :
1. Madrasah Mualimin Tinggi Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur
2. Doktor Honoris Causa Al-Azhar University, Mesir.

Riwayat Pekerjaan :
-1940 : Guru Madrasah Pondok Modern Gontor ( Bovenbouw Kweek School Islam )
-1944 : Direktor Normal Islam School, Amuntai, Kal-Sel.
-1949 : Anggota Dewan Daerah Banjar dan Amuntai, Kal-Sel( Fraksi Republikein ).
Perwira Penerangan Daerah Sub.Terri. Hulu Sungai Utara, Kal-Sel. Divisi Lambung Mangkurat (Maret 1949 ditangkap Belanda dan ditawan, bebas November 1949).
-1950 : Anggota DPR RIS selaku wakil daerah Banjar.
-1950 – 1955 : Anggota Parlemen Negara Kesatuan RI.
-1955 : Anggota DPR wakil Daerah Jawa Barat.
-1956 : Anggota Konstituante.
-24 Maret 1956 – 9 April 1957: Wakil Perdana Menteri II, Kabinet Ali Sastroamidjojo.
-31 Desember 1956 : Merangkap Manteri Veteran, setelah menteri Veteran Dahlan
Ibrahim mengundurkan diri.
-16 Maret 1957 : Merangkap menteri Penerangan, setelah menteri Penerangan
Sudibyo mengundurkan diri.
-9 April 1957 -22 Juli 1959 : Wakil Perdana Menteri II Kabinet Djuanda atau Kabinet Karya.
-1959 – 1960 : Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI.
Wakil Ketua MPRS.
-6 Maret 1962 -13 Nov’ 1963 : Wakil Ketua MPRS dengan kedudukan sebagai Menteri Kabinet Kerja III.
-27 Agst 1964 : Wakil Ketua MPRS dengan kedudukan sebagai Menko Kabinet Kerja IV.
-22 Peb’ 1966 :  Wakil Ketua MPRS dengan kedudukan sebagai Menko Kabin Dwikora.
-24 Peb’1966-28 Maret 1966 :
– Wakil Perdana Menteri IV Kabinet Dwikora yang disempurnakan.

– Wakil Ketua MPRS.
– Menteri Utama bidang Politik

– Merangkap Menteri Tenaga Kerja
-25 Juli 1966  : Wakil Perdana Menteri II Bidang Hubungan Lembaga Tinggi / Tertinggi Negara Kabinet Dwikora yang disempurnakan lagi.
– 17 Okt’ 1967 : – Menteri Utama Bidang Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Kabinet
– Ketua Badan Pertimbangan Penanggulangan Bencana Alam Nasional.
– Koordinator Masalah Keluarga Berencana Nasional.
– 6 Juni 1968  : – Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat (Kesra) dalam KabinetAmpera yang disempurnakan.
– 27 Maret 1973 :- Menteri Negara Bidang Kesra Kabinet Pembangunan I.
– Menteri Sosial. Kabinet Pembangunan I.
– Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI
– Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI.
-1978 – 1983 :- Ketua Dewan Pertimbangan Agung RI.
-1984 -1985  :- Anggota Team Penasehat Presiden Mengenai PelaksanaanPedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila ( Team P-7)
– Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia ( MUI ).

 

Riwayat Pergerakan :
-1944      : Pengasuh Perguruan Islam RAKHA, Amuntai, Kal-Sel.
-1945      : Sebagai Unsur Pertama Penggerak Perjuangan ke Arah Kemerdekaan Indonesia, Sekretaris Panitia Kemerdekaan Indonesia Daerah Hulu Sungai Utara, di Amuntai, Kal-Sel.
-1946      : Anggota Dewan Pimpinan Sarikat Muslimin Indonesia ( SERMI )Komisaris Daerah Hulu Sungai Utara, Kal – Sel.
-1947      : Penasehat Staff Umum dan Anggota Sentral OrganisasiPemberontakan Indonesia, Kepala Bidang Sipil, Anggota Markas ALRI Divisi IV Kalimantan Selatan.
-1949      : Perwira Penerangan K.D.M. Hulu Sungai Utara, Kal-Sel.
-1950      : Aktif di Pergerakan Pemuda Ansor.
-1952      : Sekretaris Jenderal PBNU.
-1956-1984 : Ketua Umum Tanfidziah PB.NU.
-1956      : Pengasuh / Pendiri Perguruan Islam Darul Ma’arif. Cipete,Cilandak,Jak-Sel
-1958-1975 : Rektor UNU (Univ. Nahdlatul Ulama ) Surakarta
-1960      : Pengasuh Perguruan / Pendidikan Yatim Darul Qur’an. Cisarua,Bogor.
-1962      : Ketua Pimpinan MISSI Islam.-1963 : Ketua Badan Permusyawaratan Partai Islam Tingkat Pusat.
-1964      : Ketua (Presiden) Organisasi Konferensi Islam Asia Afrika.
-1973      : Presiden Partai Persatuan Pembangunan (PPP),salah satudari 5 orang pimpinan partai islam yg mendeklarasikan PPP pada tgl.5 Januari 1973 (NU, Parmusi, Syarikat Islam dan Perti).
-1974      : Mustasyar PBNU-1985 : Mudir ‘Am Jam’iyyah Ahlu Thariqoh al-Mu’tabarah an-Nahdliyah.

Karya Tulis :

Bertamasya ke cakrawala” sebuah buku bercorak tasawuf yang beliau tulis sewaktu dalam penjara, tahun 1949.

Haluan Politik” terdapat dalam Majalah ‘Api Islam” (1965)

Islam dan Demokrasi Terpimpin”, sebuah booklet, berisi bahan-bahan perkuliahan yang disampaikannya di Perguruan Tinggi Islam NU Surakarta, diterbitkan oleh Endang-Pemuda, 1965.

Mendayung dalam Taufan”,diterbitkan Endang-ApiIslam, Jakarta, 1966.

Diantara kalam beliau:

“Zaman akan berubah.Tidak ada lagi peperangan,yang ada “war of science” (perang ilmu pengetahuan)

“Tidak ada dendam dan kebencian dalam hati saya”

“Jika ingin menjadi orang baik, maka lakukanlah amaliah yang baik”.

Politic is not more than in implementation of our religious interest” (Politik tidaklebih dari pada pelaksanaan kepentingan dan kebutuhan agama Islam).