Hukuman Bagi Produsen dan Pemasok Psychotropika dan Narkotika

0

Tuntunan Ibadah: Hukuman Bagi Produsen dan Pemasok Psychotropika dan Narkotika

Tuntunan ibadah terkait hukum tentang sangsi ta’zir atas produsen dan pemasok psychotropika dan narkotika.

A. Pertanyaan

a. Apakah sumber hukum tentang sangsi ta’zir atas produsen dan pemasok psychotropika dan narkotika?.

B. Jawaban

a. Sumber hukumnya adalah al-Qur’an dan al-Sunnah, atsar shahabat dan al-Ijma’.

 

C. Dasar Pengambilan Hukum

Al-Qur’an

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur, dan pukul mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. al-Nisa’: 34)

 

I’anah al-Thalibin [1]

(فَصْلٌ فِي التَّعْزِيْرِ)

أَيْ فِي بَيَانِ مُوْجِبِهِ وَمَا يَحْصُلُ بِهِ وَالتَّعْزِيْرُ لُغَةً التَّأْدِيْبُ وَشَرْعًا تَأْدِيْبٌ عَلَى ذَنْبٍ لاَ حَدَّ فِيْهِ وَلاَ كَفَّارَةَ كَمَا يُؤْخَذُ مِنْ كَلاَمِهِ وَاْلأَصْلُ فِيْهِ قَبْلَ اْلإِجْمَاعِ آيَةُ (وَالَّتِى تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ … الآيَةَ) فَأَبَاحَ الضَّرْبَ عِنْدَ الْمُخَالَفَةِ فَكَانَ فِيْهِ تَنْبِيْهٌ عَلَى التَّعْزِيْرِ

(Pasal tentang ta’zir). Yakni dalam rangka menjelaskan hal-hal yang mengharuskan berlaku dan terjadinya ta’zir. Secara bahasa ta’zir bermakna memberi pendidikan etika, sedangkan menurut syara’ bermakna memberi pendidikan etika atas perbuatan dosa yang tidak terdapat ketentuan had (hukuman)nya dan tidak ada ketentuan denda (kafarah)nya. Demikianlah yang disimpulkan dari ungkapan Syaikh Zainuddin al-Maliabri. Dalil hukumnya sebelum ijma’ adalah firman Allah: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkan mereka di tempat tidur, dan pukul mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. al-Nisa’ 34).

(Dalam ayat ini) Allah Swt. membolehkan memukul ketika terjadi pelanggaran. Ketentuan ini berfungsi sebagai petunjuk untuk diberlakukannya hukuman ta’zir.

 

Al-Sunnah

حَدَّثَنَا أَبُوْ نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا أَبُو الْعُمَيْسِ عَنْ إِيَاسِ بْنِ سَلَمَةَ بْنِ اْلأَكْوَعِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ :  عَيْنٌ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ وَهُوَ فِيْ سَفَرٍ فَجَلَسَ عِنْدَ أَصْحَابِهِ يَتَحَدَّثُ ثُمَّ انْفَتَلَ فَقَالَ النَّبِيُّ : اطْلُبُوهُ وَاقْتُلُوْهُ فَقَتَلَهُ فَنَفَّلَهُ سَلَبَهُ.

(رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)

Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami, (ia berkata) Abul ‘Umais telah menceritakan kepada kami, (ia) dari Iyas bin Salamah bin Al-Akwa’ dari ayahnya: Ia berkata, Nabi Saw. bersabda: Seorang tokoh kaum musyrikin mendatangi Nabi Saw. ketika beliau sedang dalam suatu perjalanan, orang tersebut mendekati para sahabat dan melakukan hasutan, lalu pergi. Maka Nabi Saw. bersabda: “Carilah orang tadi dan bunuhlah.” Maka iapun dibunuh dan hartanya dijadikan pampasan perang. (HR. Bukhari)

 

Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam [2]

(فَصْلٌ)

وَالتَّعْزِيْرُ لاَ يَخْتَصُّ بِفِعْلٍ مُعَيَّنٍ وَلاَ قَوْلٍ مُعَيَّنٍ فَقَدْ عَزَّرَ رَسُوْلُ اللهِ  : بِالْهَجْرِ، وَذَلِكَ فِي الثَّلاَثَةِ الَّذِيْنَ ذَكَرَهُمُ اللهُ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ  فَهُجِرُوْا خَمْسِيْنَ يَوْمًا لاَ يُكَلِّمُهُمْ أَحَدٌ وَقِصَّتُهُمْ مَشْهُوْرَةٌ فِي الصِّحَاحِ. وَعَزَّرَ رَسُوْلُ اللهِ : بِالنَّفْيِ فَأَمَرَ بِإِخْرَاجِ الْمُخَنِّثِيْنَ مِنَ الْمَدِيْنَةِ وَنَفْيِهِمْ

(Pasal) Dan ta’zir tidak terbatas dengan tindakan dan ucapan tertentu, karena sungguh Rasulullah Saw. pernah menta’zir dengan cara mendiamkan (tidak mengajak bicara). Hal itu berlaku  bagi tiga orang sahabat yang disebut Allah dalam al-Qur’an  al-Karim, mereka didiamkan selama 50 hari tanpa ada seorang pun yang mengajak berbicara. Kisah mereka itu masyhur dalam hadits-hadits shahih. Rasulullah Saw. pernah menta’zir dengan cara mengasingkan, maka beliau Saw. memerintak mengeluarkan kaum waria dari Madinah dan mengasingkannya.

 

Atsar Shahabat

Al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah [3]

وَقَدْ عَزَّرَ كُبَّارُ أَصْحَابِهِ  مِنْ بَعْدِهِ بِالضَّرْبِ وَالسِّجْنِ وَالْقَتْلِ، فَقَدْ ثَبَتَ أَنَّ عُمَرَجَمَعَ كُبَّارَ عُلَمَاءِ الصَّحَابَةِ رِضْوَانُ اللهِ عَلَيْهِمْ وَاسْتَشَارَهُمْ فِيْ عُقُوْبَةِ اللاَّئِطِ فَأَفْتَوْا بِإِعْدَامِهِ حَرْقًا، وَهَذَا مِنْ أَشَدِّ مَا يُتَصَوَّرُ فِيْ بَابِ التَّعْزِيْرِ، وَثَبَتَ أَنَّ عَلِيًّا وَجَدَ رَجُلاً مَعَ امْرَأَةٍ يَسْتَمْتِعُ بِهَا بِغَيْرِ جِمَاعٍ فَجَلَّدَهُ مِائَةَ سَوْطٍ

Sepeninggal Rasulullah Saw. para sahabat senior pernah menta’zir dengan cara memukul, memenjara dan menghukum mati. Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa Umar ra. mengumpulkan tokoh ulama dari kalangan sahabat (semoga Allah melimpahkan keridhaan kepada mereka) dan bertukar pendapat dengan mereka tentang hukuman bagi orang yang melakukan sodomi, maka mereka menfatwakan agar diberikan hukuman mati dengan cara dibakar. Ini termasuk gambaran terdahsyat dalam masalah ta’zir. Dan riwayat shahih juga menyatakan bahwa Ali ra. mendapati seorang laki-laki sedang berduaan dengan seorang perempuan yang melakukan perbuatan mesum namun tidak sampai melakukan hubungan badan, maka Ali ra. memberikan hukuman cambuk sebanyak seratus kali.

 

Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam [4]

وَكَذَلِكَ الصَّحَابَةُ مِنْ بَعْدِهِ وَنَذْكُرُ بَعْضَ مَا وَرَدَتْ بِهِ السُّنَّةُ مِمَّا قَالَ بِبَعْضِهِ أَصْحَابُنَا وَبَعْضُهُ خَارِجُ الْمَذْهَبِ. فَمِنْهَا أَمَرَ عُمَرَبِهَجْرِ صَبِيغٍ الَّذِيْ كَانَ يَسْأَلُ عَنِ الذَّارِيَاتِ وَغَيْرِهَا وَيَأْمُرُ النَّاسَ بِالتَّفَقُّهِ فِي الْمُشْكِلاَتِ مِنَ الْقُرْآنِ، فَضَرَبَهُ ضَرْبًا وَجِيْعًا، وَنَفَاهُ إِلَى الْبَصْرَةِ أَوِ الْكُوْفَةِ وَأَمَرَ بِهَجْرِهِ فَكَانَ لاَ يُكَلِّمُهُ أَحَدٌ حَتَّى تَابَ وَكَتَبَ عَامِلُ الْبِلاَدِ إِلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ يُخْبِرُهُ بِتَوْبِتِهِ فَأَذِنَ لِلنَّاسِ فِيْ كَلاَمِهِ. وَمِنْهَا أَنَّ عُمَرَحَلَّقَ رَأْسَ نَصْرَ بْنَ حَجَّاجٍ وَنَفَاهُ مِنْ الْمَدِيْنَةِ لَمَّا شَبَّبَ النِّسَاءُ بِهِ فِي اْلأَشْعَارِ وَخَشِيَ الْفِتْنَةَ بِهِ

Demikian pula tindakan para sahabat sepeninggal Nabi Saw. Kami sebutkan sebagian keterangan yang terdapat haditsnya yang sebagiannya merupakan pendapat ulama kita (madzhab Maliki) dan sebagian lain merupakan pendapat di luar madzhab. Di antaranya adalah Umar ra. memerintahkan sanksi boikot berbicara kepada Dhabigh yang menanyakan al-Dzariyaat (angin yang menerbangkan debu) dan ayat lain yang semisalnya, serta menganjurkan orang lain mendalami ayat-ayat mutasyabbih al-Qur’an. Umar ra. menjatuhinya hukuman pukulan yang menyakitkan dan mengasingkannya ke Basrah atau Kufah, serta memerintah agar memboikot berbicara dengannya, sehingga tidak ada seorang pun yang berbicara dengannya sampai ia bertobat. Lalu penguasa  daerah setempat menulis surat pada Umar ra. tentang tobatnya, lalu Umar ra. memperbolehkan orang-orang berbicara kembali dengannya. Di antaranya adalah Umar ra. pernah menggundul kepala Nashr bin Hajjaj dan mengasingkannya dari Madinah ketika ia membuat kaum wanita tergoda karena syair-syairnya dan dikhawatirkan terjadi fitnah karenanya.

 

Al-Ijma’

Al-Ijma’ [5]

وَأَجْمَعُوْا عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَالَ لِلرَّجُلِ يَا كَافِرُ أَوْ يَا نَصْرَانِيُّ أَنَّ عَلَيْهِ التَّعْزِيْرُ وَلاَ حَدَّ عَلَيْهِ

Para ulama bersepakat, bahwa sungguh bila seseorang berkata kepada orang lain: “Hai kafir!”, atau “Hai Nasrani!”, maka ia wajib diberi ta’zir, dan tidak ada hukuman had baginya.

 

Majmu’ah al-Fatawa [6]

وَقَدْ أَجْمَعَ الْعُلَمَاءُ عَلَى أَنَّ التَّعْزِيْرَ مَشْرُوْعٌ فِيْ كُلِّ مَعْصِيَّةٍ لاَ حَدَّ فِيْهَا وَلاَ كَفَّارَةَ، وَالْمَعَاصِي نَوْعَانِ تَرْكُ وَاجِبٍ وَفِعْلُ مُحَرَّمٍ. فَمَنْ تَرَكَ أَدَاءَ الْوَاجِبِ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَيْهِ فَهُوَ عَاصٍ مُسْتَحِقٌّ لِلْعُقُوْبَةِ وَالتَّعْزِيْرِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ أَعْلَمُ

Dan sungguh para ulama telah sepakat, bahwa hukuman ta’zir itu disyariatkan pada setiap maksiat yang tidak terdapat hukuman had dan hukuman kaffarah padanya. Maksiat ada dua macam, yaitu meninggalkan kewajiban atau melakukan keharaman. Barangsiapa tidak melaksanakan kewajiban padahal mampu melaksanakannya, maka ia adalah orang yang bermaksiat yang berhak dihukum dan dita’zir. Wallahu subhaanahu a’lam.

 

A. Pertanyaan

b. Bolehkah menjatuhkan hukuman mati kepada produsen dan pemasok psychotropika dan narkotika dalam pandangan Islam?.

B. Jawaban

b. Hukumnya boleh, karena sudah jelas pemasok psychotropika dan narkotika menimbulkan mafsadah yang besar.

 

C. Dasar Pengambilan Hukumِ

Al-Qur’an

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الأرْضِ ذَلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri. Yang demikian itu  suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al-Maidah: 33)

 

 

Al-Sunnah

عَنْ دَيْلَمٍ الْحِمْيَرِيِّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ :  فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا بِأَرْضٍ بَارِدَةٍ نُعَالِجُ بِهَا عَمَلاً شَدِيدًا وَإِنَّا نَتَّخِذُ شَرَابًا مِنْ هَذَا الْقَمْحِ نَتَقَوَّى بِهِ عَلَى أَعْمَالِنَا وَعَلَى بَرْدِ بِلاَدِنَا قَالَ هَلْ يُسْكِرُ؟  قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَاجْتَنِبُوهُ قَالَ ثُمَّ جِئْتُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ فَقُلْتُ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ فَقَالَ هَلْ يُسْكِرُ؟  قُلْتُ نَعَمْ قَالَ فَاجْتَنِبُوهُ قُلْتُ إِنَّ النَّاسَ غَيْرُ تَارِكِيهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَتْرُكُوهُ فَاقْتُلُوهُمْ

(رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ)

“Dari Dailami Al-Himyari, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Ya Rasulallah, kami tinggal di negeri yang bersuhu udara dingin dan kami mengatasinya dengan cara kerja berat dan kami membuat minuman dari gandum ini untuk menambah kekuatan kami dalam bekerja dan mengatasi dinginnya suhu di negeri kami.” Beliau Saw. menjawab: “Apakah menyebabkan mabuk?” Aku menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Jauhilah!” Kata Dailami: “Lalu aku mendekat tepat di hadapan beliau Saw., dan hal tersebut aku tanyakan kembali kepada beliau. Maka beliau menjawab: “Apakah memabukan?” Aku menjawab: “Ya.” Sabda beliau: “Jauhilah!” Aku berkata: “Orang-orang tidak meninggalkannya.” Beliau menjawab: “Jika mereka tidak meninggalkannya, maka perangilah mereka!”.

(HR. Ahmad, dan Abu Dawud)

 

Aqwal al-Ulama

Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh [7]

وَمَنْ لَمْ يَنْدَفِعْ فَسَادُهُ فِي اْلأَرْضِ إِلاَّ بِالْقَتْلِ قُتِلَ، مِثْلُ الْمُفَرِّقِ لِجَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَالدَّاعِي إِلَى الْبِدَعِ فِي الدِّيْنِ،…..  وَأَمَرَ النَّبِيُّ   بِقَتْلِ رَجُلٍ تَعَمَّدَ عَلَيْهِ الْكَذِبَ، وَسَأَلَهُ دَيْلَمُ الْحِمْيَرِيِّ  –  فِيْمَا يَرْوِيْهِ أَحْمَدُ فِي الْمُسْنَدِ   عَمَّنْ لَمْ يَنْتَهِ عَنْ شُرْبِ الْخَمْرِ فِي الْمَرَّةِ الرَّابِعَةِ، فَقَالَ :  فَإِنْ لَمْ يَتْرُكُوْهُ فَاقْتُلُوْهُمْ. وَالْخُلاَصَةُ :  أَنَّهُ يَجُوْزُ الْقَتْلُ سِيَاسَةً لِمُعْتَادِي اْلإِجْرَامِ وَمُدْمِنِي الْخَمْرِ وَدُعَاةِ الْفَسَادِ وَمُجْرِمِي أَمْنِ الدَّوْلَةِ وَنَحْوِهِمْ

Barang siapa kejahatannya di muka bumi tidak bisa tercegah kecuali dengan hukuman mati, maka ia harus dihukum mati. Seperti pemecah belah persatuan muslimin, pengajak bid’ah agama … dan Nabi Saw. pernah memerintah hukuman mati pada seorang lelaki yang segaja berbohong, Dailam al-Himyari pernah bertanya kepada beliau Saw. – hadits riwayat Imam Ahmad dalam kitabnya al-Musnad– tentang orang yang tidak mau berhenti minum arak, pada perintah beliau Saw. yang keempat, beliau Saw. bersabda: “Jika mereka tidak meninggalkannya, maka perangilah mereka!”

Kesimpulannya: Bahwa diperbolehkan menjatuhkan hukuman mati sebagai kebijakan bagi orang-orang yang biasa melakukan tindak kriminal, para pecandu minuman keras, para pengajak tindak kejahatan, pengganggu keamanan negara dan semisalnya.

[1] Muhammad Syaththa al-Dimyati, I’anah al-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr, t.th.) Jilid IV, h. 166.

[2] Ibn Farhun al-Ya’mari, Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001) Juz II, h. 219.

[3] Abdurrahman al-Juzairi, al-Fiqh ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Jilid V, h. 249.

[4] Ibn Farhun al-Ya’mari, Tabshirah al-Hukkam fi Ushul al-Aqdhiyat wa Manahij al-Ahkam, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 2001) Juz II, h. 219.

[5] Ibn Mundzir, al-Ijma’, (Qatar: Riasah al-Mahakim al-Syar’iyah wa Syuun al-Diniyah, 1987), h. 113.

[6] Ibn Taimiyah, Majmu’ah al-Fatawa, (Kairo: Dar al-Hadits, 2006), Jilid XIV, Juz XXVIII, h. 351-359.

[7] Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, t. th.), Juz VII, h. 518.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 436
HASIL KEPUTUSAN
MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-XXXI
Di Asrama Haji Donohudan Boyolali Solo – Jawa Tengah
29 Nopember – 01 Desember 2004 M
16 – 18 Syawal 1425 H
Tentang:
MASAIL Al-DINIYYAH AL-WAQI’IYYAH