Badal Haji Bagi yang Meninggal Sebelum Wukuf

0

Tuntunan Ibadah: Badal Haji Bagi yang Meninggal Sebelum Wukuf

Tuntunan ibadah terkait badal Haji bagi yang meninggal sebelum Wukuf dijelaskan dalam artikel berikut ini.

A. Deskripsi Masalah

Pelaksanaan badal (orang yang mewakili)  haji yang selama ini dilaksanakan adalah bagi mereka yang umumnya sudah meninggal dunia di tanah airnya. Pelaksanaannya dilaksanakan oleh keluarga atau orang yang dipercayainya.

B. Pertanyaan

Hukum orang meninggal sebelum menyempurnakan rukun-rukun hajinya:

a. Bagaimana kelanjutan hajinya?.

b. Siapa pelaksananya?.

c. Dari mana biayanya?.

d. Kapan pelaksanaannya?.

C. Jawaban

Apabila orang yang meninggal tersebut sudah istiqrar (berkewajiban haji) dan ia memiliki harta peninggalan (tirkah), maka ahli warisnya wajib menghajikannya. Apabila tidak memiliki harta kekayaan (tirkah), maka sunnah bagi ahli waris menghajikannya.

Cara menghajikannya:

a. Menurut qaul adzhar, harus dimulai dari awal (ihram). Adapun menurut qaul qadim, boleh dengan meneruskan rukun-rukun haji yang belum dilaksanakan.

b. Untuk pelaksanaan hajinya, dilakukan pada tahun seketika itu pula (fauran), jika tidak memungkinkan bisa dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya.

 

D. Dasar Pengambilan Hukum

Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj [1]

(النَّوْعُ الثَّانِي اسْتِطَاعَةُ تَحْصِيْلِهِ)

أَيِ الْحَجِّ لَا بِالْمُبَاشَرَةِ بَلْ (بِغَيْرِهِ فَمَنْ مَاتَ) غَيْرَ مُرْتَدٍّ (وَفِيْ ذِمَّتِهِ حَجٌّ) وَاجِبٌ مُسْتَقِرٌّ وَلَوْ بِنَحْوِ نَذْرٍ بِأَنْ تَمَكَّنَ بَعْدَ قُدْرَتِهِ عَلَى فِعْلِهِ بِنَفْسِهِ أَوْ غَيْرِهِ وَذلِكَ بَعْدَ انْتِصَافِ لَيْلَةِ النَّحْرِ وَمَضَى إِمْكَانُ الرَّمْيِ وَالطَّوَافِ وَالسَّعْيِ إِنْ دَخَلَ الْحَاجُّ بَعْدَ الْوُقُوْفِ ثُمَّ مَاتَ أَثِمَ وَلَوْ شَابًّا وَإِنْ لَمْ تَرْجِعْ الْقَافِلَةُ وَ (وَجَبَ اْلإِحْجَاجُ عَنْهُ) وَزَادَ عَلَى الْمُحَرَّرِ قَوْلَهُ (مِنْ تِرْكَتِهِ) وَلاَبُدَّ مِنْهُ كَمَا يُقْضَى مِنْهَا دَيْنُهُ سَوَاءٌ فِي الْمُتَصَرِّفِ فِيْهَا أَكَانَ وَارِثًا أَمْ وَاصِيًا أَمْ حَاكِمًا وَالْعُمْرَةُ إِذَا اسْتَقَرَّتْ كَالْحَجِّ فِيْمَا تَقَرَّرَ وَإِنْ لَمْ يُوْصِ بِذَلِكَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُ تِرْكَةٌ اُسْتُحِبَّ لِوَارِثِهِ الْحَجُّ عَنْهُ بِنَفْسِهِ أَوْ نَائِبِهِ وَلِأَجْنَبِيٍّ ذلِكَ وَإِنْ لَمْ يَأْذَنْ لَهُ الْوَارِثُ وَيَبْرَأُ بِهِ الْمَيِّتُ وَفَارَقَ الصَّوْمَ بِأَنْ تَوَقَّفَ عَلَى إِذْنٍ مِنْهُ بِأَنَّهُ عِبَادَةٌ بَدَنِيَّةٌ مَحْضَةٌ بِخِلاَفِ الْحَجِّ. وَاْلأَصْلُ فِي ذَلِكَ مَا صَحَّ أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ فَرِيْضَةَ اللهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِيْ شَيْخًا كَبِيْرًا لاَ يَسْتَطِيْعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ ؟ قَالَ  نَعَمْ. وَمَا صَحَّ أَيْضًا إِنَّ امْرَأَةً قَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُمِّيْ مَاتَتْ وَلَمْ تَحُجَّ قَطُّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : حُجِّي عَنْهَا. وَإِنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّ أُخْتِيْ نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ وَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا ؟ قَالَ : لَوْكَانَ عَلَى أُخْتِكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضَيْتَهُ ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ : فَاقْضُوْا حَقَّ اللهِ فَهُوَ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ. فَشَبَّهَ الْحَجَّ بِالدَّيْنِ الَّذِى لاَ يَسْقُطُ بِالْمَوْتِ فَوَجَبَ أَنْ يُعْطَى حُكْمَهُ

(Macam yang kedua -dari dua macam ishitha’ah/mampu haji- adalah mampu melaksanakan haji tidak secara langsung, namun (dengan dilaksanakan orang lain. Maka seseorang yang mati) dalam kondisi tidak murtad (dan mempunyai tanggungan haji) wajib yang sudah tetap, meski disebabkan nadzar. Yakni ia mungkin melakukannya setelah mampu melaksanakannya sendiri atau dilaksanakan orang lain, dan kematian itu terjadi setelah separo malam hari nahr -Idul Adha-, serta telah lewat kemungkinan melempar jumrah, thawaf dan sa’i bila orang yang haji masuk -Makkah- setelah wukuf, lalu ia mati, maka ia berdosa, meski seorang yang masih muda dan rombongannya belum pulang. Dan (wajib menghajikannnya), al-Nawawi menambahi redaksi kitab al-Muharrar pada ungkapan beliau (dari tirkahnya), dan biaya haji itu harus diambil darinya seperti hutangnya dilunasi dari tirkah tersebut. Baik yang membelanjakan tirkahnya adalah ahli waris, orang yang diwasiati atau hakim. Dan umrah ketika telah menjadi tanggungan maka seperti haji dalam hukum yang telah ditetapkan, meski ia tidak mewasiatkannya. Bila ia tidak meninggalkan tirkah, maka bagi ahli warisnya sunnah menghajikannya, baik menghajikan sendiri maupun dengan penggantinya. Bagi orang lain boleh -pula-menghajikannya, meski ahli waris tidak mengizinkan, dan dengan hajinya mayit pun bebas dari tanggungannya. Haji berbeda dengan puasa yang harus mendapat izin dari ahli waris dengan keberadaan puasa sebagai ibadah badaniyah murni, berbeda dengan haji.

Dalil dalam masalah tersebut adalah hadits shahih, yaitu seorang perempuan berkata pada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, Sungguh kewajiban kepada Allah atas hambaNya yang terkait haji telah menjadi beban ayahku yang sudah tua sekali, yang tidak mampu menaiki kendaraan. Apakah aku boleh menghajikannya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Ya.” Dan hadits shahih yang menyatakan bahwa seorang perempuan berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh Ibuku telah mati dan belum pernah haji sama sekali, apakah aku boleh menghajikannya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Hajikanlah sebagai ganti darinya.” Dan seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh saudariku telah bernadzar haji dan mati sebelum melaksanakannya. Apakah aku boleh menghajikannya?” Rasulullah Saw. menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Maka lunasilah hak Allah, sebab hak Allah lebih berhak dilunasi.” Maka Rasulullah Saw. menyamakan haji dengan hutang yang tidak akan gugur dengan kematian, maka dalam haji harus diterapkan -pula- hukum hutang.

 

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab [2]

(فَرْعٌ)

إِذَا مَاتَ الْحَاجُّ عَنْ نَفْسِهِ فِيْ أَثْنَائِهِ هَلْ يَجُوْزُ النِّيَابَةُ عَلَى حَجِّهِ فِيْهِ قَوْلاَنِ مَشْهُوْرَانِ اْلأَصَحُّ الْجَدِيْدُ لاَ يَجُوْزُ كَالصَّلاَةِ وَالصَّوْمِ وَالْقَدِيْمُ يَجُوْزُ لِدُخُوْلِ النِّيَابَةِ فِيْهِ فَعَلَى الْجَدِيْدِ يَبْطُلُ الْمَأْتِى بِهِ إِلاَّ فِي الثَّوَابِ، وَيَجِبُ اْلإِحْجَاجُ عَنْهُ مِنْ تِرْكَتِهِ إِنْ كَانَ قَدِ اسْتَقَرَّ الْحَجُّ فِيْ ذِمَّتِهِ، وَإِنْ كَانَ تَطَوُّعًا لَمْ يُسْتَطَعْ إِلاَّ هَذِهِ السَّنَةَ لَمْ يَجِبْ. وَعَلَى الْقَدِيْمِ قَدْ يَمُوْتُ وَقَدْ بَقِيَ وَقْتُ اْلإِحْرَامِ وَقَدْ يَمُوْتُ بَعْدَ خُرُوْجِهِ، فَإِنْ بَقِيَ أَحْرَمَ النَّائِبُ بِالْحَجِّ وَيَقِفُ بِعَرَفَةَ إِنْ لَمْ يَقِفْ الْمَيِّتُ وَلاَ يَقِفُ إِنْ كَانَ وَقَفَ، وَيَأْتِى بِبَاقِى اْلأَعْمَالِ فَلاَ بَأْسَ بِوُقُوْعِ إِحْرَامِ النَّائِبِ دَاخِلَ الْمِيْقَاتِ  ِلأَنَّهُ يُبْنَى عَلَى إِحْرَامٍ أَيْ أُنْشِئَ مِنْهُ، وَإِنْ لَمْ يَبْقَ وَقْتُ اْلإِحْرَامِ فَبِمَ يُحْرِمُ بِهِ النَّائِبُ؟. وَجْهَانِ، (أَحَدُهُمَا) وَبِهِ قَالَ إِسْحَاقُ يُحْرِمُ بِعُمْرَةٍ ثُمَّ يَطُوْفُ وَيَسْعَى فَيُجْزِئُهُ عَنْ طَوَافِ الْحَجِّ وَسَعْيِهِ، وَلاَ يَبِيْتُ وَلاَ يَرْمِى ِلأَنَّهُمَا لَيْسَ مِنَ الْعُمْرَةِ وَلَكِنْ يُجْبَرَانِ بِالدَّمِ (وَأَصَحُّهُمَا) وَبِهِ قَطَعَ اْلأَكْثَرُوْنَ تَفْرِيْعًا عَلَى الْقَدِيْمِ أَنَّهُ يُحْرِمُ بِالْحَجِّ وَيَأْتِى بِبَقِيَّةِ اْلأَعْمَالِ وَإِنَّمَا يَمْتَنِعُ إِنْشَاءُ اْلإِحْرَامِ بَعْدَ أَشْهُرِ الْحَجِّ إِذَا ابْتَدَأَهُ، وَهَذَا لَيْسَ مُبْتَدَأً بَلْ مَبْنِيٌّ عَلَى إِحْرَامٍ قَدْ وَقَعَ فِي أَشْهُرِ الْحَجِّ، وَعَلَى هَذَا إِذَا مَاتَ بَيْنَ التَّحَلُّلَيْنِ أَحْرَمَ إِحْرَامًا لاَ يَحْرُمُ اللُّبْسُ وَالْقَلْمُ، وَإِنَّمَا يُحْرِمُ النِّسَاءُ كَمَا لَوْ بَقِيَ الْمَيِّتُ. هَذَا كُلُّهُ إِذَا مَاتَ قَبْلَ التَّحَلُّلَيْنِ، فَإِنْ مَاتَ بَعْدَهُمَا لَمْ تَجُزْ النِّيَابَةُ بِلاَ خِلاَفٍ  ِلأَنَّهُ يُمْكِنُ جَبْرُ الْبَاقِى بِالدَّمِ. قَالَ الرَّافِعِيُّ: وَأَوْهَمَ بَعْضُهُمْ إِجْرَاءَ الْخِلَافِ، وَهَذَا غَلَطٌ

(Sub Masalah): Bila orang yang tengah mengerjakan haji bagi dirinya sendiri meninggal dunia di saat mengerjakannya, bolehkah orang lain menggantikan untuk (melanjutkan) hajinya? Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur; Yang lebih shahih adalah dari qaul jadid, yaitu tidak boleh. Sebagaimana dalam shalat dan puasa. Sedangkan menurut qaul qadim boleh, dikarenakan dalam ibadah ini dimungkinkan untuk digantikan orang lain. Berdasarkan qaul jadid amaliah haji yang sudah dijalani menjadi batal, namun pahalanya tidak, dan wajib menghajikannya dengan mengambilkan biaya dari harta warisannya, jika ibadah haji sudah berketapan dalam tanggungannya, dan jika hajinya merupakan sunnah yang tidak bisa dilaksanakan kecuali pada tahun ini, maka tidak wajib. Adapun berdasarkan qaul qadim, terkadang seseorang mati sedangkan waktu untuk mengambil (niat) ihram masih ada, dan terkadang orang meninggal dunia sedangkan waktu mengambil (niat) ihram sudah habis. Jika masih ada waktu untuk mengambil (niat) ihram, maka penggantinya memulai (niat) ihram haji dan wuquf di ‘Arafah jika almarhum belum wuquf, namun ia tidak wajib wuquf jika almarhum sudah wuquf, dan ia tinggal melaksanakan amalan yang selanjutnya. Sehingga tidak menjadi masalah terjadinya niat ihram dalam bulan-bulan haji, karena ia mendasarkan ihramnya atas ihram (orang lain), yakni ia memulai dari ihramnya. Dan bila waktu (mengambil niat) ihram sudah habis, maka apakah ia harus ihram? Ada dua pendapat; Pertama, dan ini juga merupakan pendapat Ishaq, hendaknya ia mengambil (niat) ihram ‘umrah, kemudian thawaf dan sa’i. Maka hal itu sudah mencukupi untuk (mengganti) thawaf haji dan sa’inya, tanpa perlu melakukan mabit dan melempar jumrah, karena kedua amalan ini bukan bagian dari amalan ‘umrah, namun keduanya harus diganti dengan membayar dam. Adapun pendapat kedua, dan ini yang lebih shahih dan dipastikan oleh kebanyakan ulama sebagai penjabaran atas qaul qadim, bahwa orang yang mewakili/menggantikan harus mengambil (niat) ihram haji, lalu meneruskan amalan yang belum dikerjakan, adapun larangan mengambil (niat) ihram haji di luar bulan-bulan haji adalah jika ia memulai (dari awal). Sedangkan yang (dijalankan) ini bukan permulaan, namun didasarkan pada ihram yang sudah terjadi pada bulan-bulan haji. Berdasarkan pada pendapat ini, jika orang meninggal dunia dalam waktu antara dua tahallul, maka (pengganti/wakilnya) mengambil niat ihram, namun tidak terlarang memakai pakaian dan memotong (kuku atau rambut), namun bagi wanita tetap haram sebagaimana seandainya si mayit masih hidup. Semua ketentuan ini adalah jika ia meninggal sebelum (melaksanakan) dua tahallul. Adapun jika ia meninggal setelah (melakukan) keduanya maka tidak boleh digantikan tanpa ada perbedaan pendapat, karena amalan yang tersisa bisa ditutup dengan membayar dam. Al-Rafi’i menyatakan, sebagian orang salah paham menerapkan khilaf dalam kasus ini, dan itu adalah kekeliruan.

 

Referensi Lain :

  1. Al-‘Aziz Syarh al-Wajiz, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1417 H, Juz III, h. 232-233.
  2. Hidayah al-Salik ila al-Madzahib al-Arba’ah fi al-Manasik, Dar al-Baya’ir al-Islamiyah, 1414 H, Juz I, h. 227.
  3. Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Alfazh al-Minhaj, Kairo, Dar al-Istiqamah, 1374 H, Juz I, h. 329.
  4. Al-Fatawa al-Fiqhiyah, al-Kubra, Juz VI, h. 137.
  5. Raudhah al-Thalibin, Juz II, h. 304.

 

[1] Muhammad bin Syihabuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1938), Jilid V, h. 245.

[2] Yahya bin Syaraf al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid VII, h. 135.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 431
HASIL KEPUTUSAN
MUSYAWARAH NASIONAL
ALIM ULAMA NAHDLATUL ULAMA
Di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta
25-28 Juli 2002/14-17 Rabiul Akhir 1423
Tentang :
MASAIL DINIYYAH WAQI’IYYAH