Hukum Memanfaatkan Tanah Jaminan, Selama Hutang Belum Lunas

Tuntunan ibadah terkait hukum hutang dengan tanah jaminan dijelaskan dalam artikel berikut ini.

0

Tuntunan Ibadah: Hukum Memanfaatkan Tanah Jaminan, Selama yang Berhutang Belum Melunasi

Tuntunan ibadah terkait hukum hutang dengan tanah jaminan dijelaskan dalam artikel berikut ini.

Si A berhutang kepada B sejumlah uang, dengan agunan/jaminan sebidang tanah. Selama A belum mampu melunasi hutangnya, B berhak menanami tanah A.

 

Pertanyaan :

Bagaimana hukum memanfaatkan sebidang tanah agunan /jaminan selama orang yang berhutang belum mampu melunasi hutangnya?

Jawab:

Menggunakan kemanfaatan agunan oleh pihak penerima gadai, hukumnya haram, sebab barang agunan hanya sekedar borg (jaminan), kecuali dengan jalan nadzar atau ibadah (pemberian perkenan) dari pihak orang yang menggadaikan (rahin).

 

Keterangan, dari kitab:

Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala al-Tahrir [1]

وَكَشَرْطِ مَنْفَعَةِ الْمَرْهُوْنِ لِلْمُرْتَهِنِ أَوْ أَنَّ تَحَدُّثَ زَوَائِدِهِ كَثَمْرَةِ الشَّجَرَةِ وَنِتَاجِ الشَّاةِ مَرْهُوْنَةً فَلاَ يَصِحُّ الرَّهْنُ وَلاَ الشَّرْطُ. أَفَادَهُ فِيْ شَرْحِ الْمَنْهَجِ

Dan seperti penyaratan pemanfaatan barang barang gadai bagi pihak yang menghutangi, atau niscaya tambahan-tambahan barang gadai seperti buah dari suatu pohon dan anak dari seekor kambing ikut digadaikan, maka akad gadai dan syarat tersebut tidak sah. Begitu penjelasan Syaikh Zakaria al-Anshari dala Syarh Manhaj al-Thullab.

 

Fath al-Mu’in [2]

(وَيَصِحُّ الرَّهْنُ)

وَهُوَ جَعْلُ عَيْنٍ يَجُوْزُ بَيْعُهَا وَثِيْقَةً بِدَيْنٍ يُسْتَوْفَى مِنْهَا عِنْدَ تَعَذُّرِ وَفَائِهِ فَلاَ يَصِحُّ رَهْنُ وَقْفٍ وَأُمِّ وَلَدٍ

(لاَ)…

…. يَصِحُّ (بِشَرْطِ مَا يَضُرُّ) الرَّاهِنَ أَوِ الْمُرْتَهِنَ 

(وَكَشَرْطِ مَنْفَعَتِهِ)

أَيْ الْمَرْهَوْنِ لِلْمُرْتَهِنِ

Dan akad gadai itu sah, yaitu menjadikan suatu barang yang boleh diperjualbelikan sebagai agunan hutang yang akan dilunasi dari barang tersebut ketika tidak bisa melunasinya. Maka tidak sah menggadaikan barang wakaf dan budak umm walad (budak wanita yang melahirkan anak majikannya). … Akad gadai tidak sah dengan sebab persyaratan yang merugikan pihak yang menggadaikan atau yang menerima gadai. … Dan seperti menyaratkan pemanfaatan barang yang digadaikan bagi pihak yang menerima gadai (pemberi hutang).

 

Fath al-Mu’in [3]

قَالَ شَيْخُ مَشَايِخِنَا الْعَلاَّمَةُ الْمُحَقِّقُ الطَّنْبَدَاوِيُّ فِيْمَا إِذَا نَذَرَ الْمَدْيُوْنُ لِلدَّائِنِ مَنْفَعَةَ اْلأَرْضِ الْمَرْهُوْنَةِ مُدَّةَ بَقَاءِ الدَّيْنِ فِيْ ذِمَّتِهِ. وَالَّذِيْ رَأَيْتُهُ لِمُتَأَخِّرِيْ أَصْحَابِنَا الْيَمَنِيِّيْنَ مَا هُوَ صَرِيْحٌ فِيْ الصِّحَّةِ وَمِمَّنْ أَفْتَى بِذَلِكَ شَيْخُ اْلإِسْلاَمِ مُحَمَّدُ بْنُ حُسَيْنٍ الْقِمَاطِ وَالْعَلاَّمَةُ الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ اْلأَهْدَالِ

Syaikh Masyayikhina al-‘Allamah al-Muhaqqiq al-Thanbadawi berkata tentang hukum kasus ketika pihak penghutang bernadzar memberi penghasilan sebidang lahan yang digadaikan bagi pihak pemberi hutang selama hutang tersebut masih dalam tanggungannya: “Pendapat yang aku lihat dari generasi akhir madzhab Syafi’i bangsa Yaman adalah kejelasan atas keabsahannya. Sebagian ulama yang berfatwa demikian adalah Syaikh al-Islam Muhammad bin Husain al-Qimath dan al-Allamah al-Husain bin Abdirrahman al-Ahdal.”

 

Bughyah al-Mustarsyidin [4]

(مَسْأَلَةُ ش)

 رَهَنَ أَرْضًا وَأَبَاحَ لِلْمُرْتَهِنِ أَوْ غَيْرِهِ مَنَافِعَهَا مُدَّةَ بَقَاءِ الدَّيْنِ اِنْتَهَتْ اْلاِبَاحَةُ بِمَوْتِ الْمُبِيْحِ فَيَغْرُمُ الْمَنَافِعَ مِنْ حِيْنَئِذٍ

(Kasus dari Muhammad bin Abi Bakr al-Asykhar al-Yamani) Bila seseorang menggadaikan tanah dan ia memperbolehkan pihak penerima gadai atau yang lainnya untuk mengambil penghasilannya selama hutang belum terbayar, maka kebolehan tersebut habis dengan meninggalnya pemilik tanah. Maka sejak itu pihak penerima gadai atau orang lain tersebut harus bertanggungjawab atas penghasilan tanah tersebut.

 

Al-Asybah wa al-Nazha’ir [5]

لَوْ عَمَّ فِي النَّاسِ اِعْتِيَادُ إِبَاحَةِ مَنَافِعِ الرَّهْنِ لِلْمُرْتَهِنِ فَهَلْ يَنْزِلُ مَنْزِلَةَ شَرْطِهِ حَتَّى يَفْسُدَ الرَّهْنُ قَالَ الْجُمْهُوْرُ لاَ وَقَالَ الْقَفَّالُ نَعَمْ

Bila sudah umum di masyarakat kebiasaan kebolehan memanfaatkan barang gadai bagi penerima gadai, apakah kebiasaan itu dianggap sama dengan menjadikannya sebagai syarat, sehingga akad gadainya rusak? Jumhur ulama berkata: “Tidak diposisikan sebagai syarat.” Sedangkan al-Qaffal berpendapat: “Ya (diposisikan sebagai syarat).

 

[1] Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi, Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala al-Tahrir, (Mesir: Dar al-Kutub al-‘Arabiyah al-Kubra, 1332 H), Juz II, h. 123.

[2] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in pada I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra,  t.th.),  Jilid IV, h. 37-38.

[3] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in pada I’anah al-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr,  t.th.),  Jilid II, h. 370.

[4] Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi, Bughyah al-Musytarsyidin, (Bandung: Syirkah Nur Asia, t. th.), h. 178.

[5] Abdurrahman al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazha’ir, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1403 H), h. 67.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 413
HASIL KEPUTUSAN MUSYAWARAH NASIONAL ALIM ULAMA
NAHDLATUL ULAMA TENTANG
MASAIL DINIYAH WAQI’IYYAH
16-20 Rajab 1418 H/17-20 Nopember 1997 M
Di Ponpes QOMARUL HUDA
Bagu, Pringgarata Lombok Tengah
Nusa Tenggara Barat