Menitipkan Sperma Suami dan Indung Telur ke Rahim Perempuan Lain

0

Menitipkan Sperma Suami dan Indung Telur ke Rahim Perempuan Lain

Pertanyaan :

Pasangan suami istri yang cukup subur dan sehat menghendaki seorang anak. Namun ternyata kondisi rahim sang istri tidak cukup siap untuk mengandung seorang bayi. Tetapi dengan kemajuan teknologi modern, keinginan pasangan tersebut dapat diwujudkan dengan cara menitipkan sperma suami dan indung telur istri ke rahim perempuan lain dengan akad sewa.

a. Bagaimana hukum menyewakan rahim untuk kepentingan tersebut di atas?

b. Kepada siapa nisbah anak tersebut dalam hal nasab, kewalian, hukum waris dan hadhanah?.

Jawab :

a. Tidak sah dan haram.

b. 1. Dalam hal nasab, kewalian, waris dan hadhanah tidak bisa dinisbatkan kepada pemilik sperma menurut Imam Ibn Hajar, karena masuknya tidak muhtaram.

2. Yang menjadi ibu secara syar’i adalah:

– Apabila sperma dan indung telur yang ditanam itu tidak memungkinkan campur dengan indung telur pemilik rahim, maka yang menjadi ibu anak tersebut adalah pemilik indung telur.

– Jika dimungkinkan adanya percampuran indung telur dari pemilik rahim, maka ibu anak itu adalah pemilik rahim (yang melahirkan).

 

Keterangan, dari kitab:

Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1]

 : وَقَالَ أَبُوْ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ الدُّنْيَا حَدَّثَنَا عَمَّارُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا بَقَيَّةُ عَنْ أَبِيْ بَكْرِ بْنِ أَبِيْ مَرْيَمَ عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ مَالِكٍ الطَّائِيِّ عَنِ النَّبِيِّ

قَالَ مَا مِنْ ذَنْبٍ بَعْدَ الشِّرْكِ أَعْظَمُ مِنْ نُطْفَةٍ وَضَعَهَا رَجُلٌ فِي رَحْمٍ لاَ يَحِلُّ لَهُ

Dan Abu Bakr bin Abi al-Dunya berkata: “’Ammar bin Nashr bercerita kepadaku: “Baqayyah bercerita kepadaku, dari Abu Bakr bin Abi Maryam, dari al-Haitsam bin Malik al-Tha’i dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Tidak ada dosa yang lebih besar setelah syirik dibandingkan seseorang yang menaruh spermanya di rahim wanita yang tidak halal baginya.”

 

Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuh [2]

:وَرُوِيَ عَنْ رَسُولِ اللهِ

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلاَ يُسْقِيَنَّ مَاءَهُ زَرْعَ أَخِيْهِ

Dan diriwayatkan dari Rasulullah Saw.: “Barangsiapa yang beriman pada Allah Swt. dan hari kiamat, maka jangan sekali-kali mengalirkan spermanya (berzina) di tanaman (istri) saudaranya.” (HR. Ibn Syaibah)

 

Hasyiyah ‘Ali Sibramallisi ‘ala Nihayah al-Muhtaj [3]

(قَوْلُهُ وَكَذَا لَوْ مَسَحَ ذَكَرَهُ)

أَفْهَمَ أَنَّهُ لَوْ أَلْقَتْ امْرَأَةٌ مُضْغَةً أَوْ عَلَقَةً فَاسْتَدْخَلَتْهَا امْرَأَةٌ أُخْرَى حُرَّةٌ أَوْ أَمَةٌ فَحَلَّتْهَا الْحَيَاةُ وَاسْتَمَرَّتْ حَتَّى وَضَعَتْهَا الْمَرْأَةُ وَلَدًا لَا يَكُونُ ابْنًا لِلثَّانِيَةِ وَلَا تَصِيرُ مُسْتَوْلَدَةً لِلْوَاطِئِ لَوْ كَانَتْ أَمَةً لِأَنَّ الْوَلَدَ لَمْ يَنْعَقِدْ مِنْ مَنِيِّ الْوَاطِئِ وَمَنِيِّهَا بَلْ مِنْ مَنِيِّ الْوَاطِئِ وَالْمَوْطُوءَةِ فَهُوَ وَلَدٌ لَهُمَا

(Pernyataan Syaikh Syamsuddin al-Ramli: “Begitu pula bila seorang lelaki mengusap penisnya.”) memberi pemahaman bahwa bila seorang wanita melahirkan segumpal daging atau darah, lalu oleh wanita merdeka atau wanita budak lain dimasukkan ke rahimnya, lalu berkembang hidup dan terus hidup sehingga ia melahirkannya berupa bayi, maka bayi itu tidak menjadi anak bagi wanita kedua itu, dan si wanita budak tidak menjadi mustauladah lelaki yang menyetubuhi, bila wanita yang disetubuhi adalah seorang budak. Sebab bayi itu tidak berasal dari mani si lelaki yang menyetubuhi dan mani si wanita budak, namun dari si lelaki yang menyetubuhi dan perempuan yang disetubuhi -wanita pertama-. Maka ia adalah anak mereka berdua.

 

Hasyiyah al-‘Ubbadi [4]

(قَوْلُهُ وَاسْتِدْخَالِهِ)

خِلاَفًا لِلنِّهَايَةِ عِبَارَتُهُ وَلاَ أَثَرَ لِوَقْتِ اسْتِدْخَالِهِ كَمَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ وَإِنْ نَقَلَ الْمَاوَرْدِيُّ عَنِ اْلأَصْحَابِ اعْتِبَارَ حَالِةِ اْلإِنْزَالِ وَالاسْتِدْخَالِ فَقَدْ صَرَّحُوْا بِأَنَّهُ لَوِ اسْتَنْجَى بِحَجَرٍ فَأَمْنَى ثُمَّ اسْتَدْخَلَتْهُ أَجْنَبِيَّةٌ عَالِمَةٌ بِالْحَالِ أَوْ أَنْزَلَ فِيْ زَوْجَتِهِ فَسَاحَقَتْ بِنْتَهُ مَثَلاً فَأَتَتْ بِوَلَدٍ لَحِقَهُ

(Pernyataan Ibn Hajar al-Haitami: “Dan waktu memasukkan mani.”) berbeda dengan kitab Nihayah al-Muhtaj, redaksinya yaitu: “Dan waktu memasukkan mani itu tidak berdampak apapun, seperti yang fatwa al-Walid -Syihabuddin al-Ramli-, meski al-Mawardi mengutip pendapat Ashhab Syafi’i tentang pertimbangan waktu keluar dan masuknya mani. Sebab mereka terang-terangan berkata:  “Bila seorang laki-laki bercebok dengan batu, lalu keluar mani. Lalu oleh seorang perempuan lain yang mengetahui peristiwa tersebut mani itu dimasukkan dalam rahimnya, atau si lelaki itu mengeluarkan mani di rahim istrinya, kemudian si istri melakukan lesbi (hubungan seksual sesama jenis), umpamanya dengan anak perempuan si lelaki itu, kemudian si anak perempuan itu melahirkan bayi, maka nasab bayi itu ditemukan pada si lelaki itu.

 

Hasyiyah al-Bujairami ‘ala al-Khatib [5]

الْحَاصِلُ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْمَنِيِّ الْمُحْتَرَمِ حَالَ خُرُوْجِهِ فَقَطْ عَلَى مَا اعْتَمَدَهُ م ر وَإِنْ كَانَ غَيْرَ مُحْتَرَمٍ حَالَ الدُّخُوْلِ

Al-hasil, maksud sperma muhtaram (terhomat) adalah saat  keluarnya saja, menurut yang dipedomani al-Ramli, meskipun tidak muhtaram saat masuk (ke vagina wanita lain).

 

Referensi Lain :

  1. Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir, Juz VI, h. 211.
  2. I’anatuth Thalibin, Juz IV, h. 38.
  3. Hasyiyah al-Syarwani, Juz VIII, h. 231.
  4. Al-Bajuri, Juz II, h. 26, 181dan 172.
  5. Al-Bujairimi ‘alal Khatib, Juz IV, h. 38.
  6. Bughyatul Mustarsyidin, Juz, h. 238.
  7. Tuhfatul Muhtaj, Juz VII, h. 299 dan 303.
  8. Asnal Mathalib, Juz VII, h. 389.
  9. Nihayatul Muhtaj, Juz VIII, h. 421.
  10. Fathul Wahhab, Juz I, h. 247.
  11. Al-Bujairimi ‘alal Manhaj, Juz IV, h. 178.
  12. Al-Muhadzdzab, Juz I, h. 349.
  13. Tafsir al-Razi, Juz X, h. 28.
  14. al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, Juz VII, h. 681.

 

 

[1] Ibn Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid III, h. 327.

[2] Ali Ahmad al-Jurjawi, Hikmah al-Tasyri’ wa Falsafatuh, (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), Juz II, h. 25.

[3] Ali Syibramallisi, Hasyiyah ‘Ali Sibramallisi pada Nihayah al-Muhtaj, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), h. 431.

[4] Ahmad bin Qasim al-‘Ubbadi, Hawasayi al-Ubbadi pada Hawasyai al-Syarwani wa al-‘Ubbadi, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra, t. th.), Jilid IX, h. 328.

[5] Sulaiman bin Muhammad al-Bujairamai, Hasyiyah Sulaiman al-Bujairami ‘ ala al-Khatib, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid IV, h. 298.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 400
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-29
Di Cipasung Tasikmalaya Pada Tanggal 1 Rajab 1415 H. / 4 Desember 1994 M.