Pesantren Al-Itqon Semarang, Menjadikan Penerus Ulama Berakhlak Karimah, Terampil, dan berprestasi berdasarkan iman dan takwa (Imtaq)

0

Profil

Pondok pesantren ini berada di desa Bugen kelurahan Tlogosari Wetan Pedurungan Semarang. Perlu diketahui bahwa, sejarah keberadaan Pondok Pesantren ini sangat terkait erat dengan sejarah desa Bugen. Dalam sejarahnya, keadaan sosial dan kesadaran beragama masyarakat Bugen waktu itu sangat memprihatinkan. Sulit sekali menemukan orang yang mengenal Islam terlebih menjalankan syari’atnya.

Kira-kira tahun 1898 M. Syeikh Abu Yazid yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan memperisteri Nyai Rohmah puteri dari Kyai Abdurrasul yang asli dari Bugen. Dan atas permintaan Kasma Wijaya yang pada saat itu menjabat sebagai lurah Bugen (semula merupakan sebuah kepatihan bernama singosari). Syeikh Abu Yazid diminta untuk menetap di desa Bugen guna kepentingan dakwah Islam.

Sebagai langkah awal dalam berdakwah, Syeikh Abu Yazid mendirikan sebuah masjid sederhana dari rumah pemberian lurah Kasma Wijaya. Sejak itulah desa Bugen resmi memiliki sebuah masjid, dan sebagai imam masjid tersebut adalah Syeikh Abu Yazid sendiri.

Sepeninggalan Syeikh Abu Yazid, imam masjid digantikan oleh kyai Abu Darda’ (H. Syakur) yang termasuk salah satu putera Syeikh Abu Yazid. Pada tahun 1911 M. kyai Darda’ wafat di desa Bugen, dan beliau meninggalkan anak diantaranya Nyai Khoiriyyah yang menikah dengan kyai H. Abdurrasyid dari Demak.

Kyai Abdurrasyid kemudian menggantikan kyai Abu Darda’ sebagai imam masjid. Pada masa KH. Abdurrasyid inilah awal mula berdirinya sebuah pondok pesantren di desa Bugen. Pondok pesantren ini mengajarkan kitab-kitab kuning dan tasawuf beraliran Naqsabandiyyah. Pondok pesantren yang baru lahir dan belum mempunyai nama itu lebih menonjol di bidang tasawufnya dari pada pengajian kitab-kitab kuning. Kebanyakan santri yang ada berasal dari Banjarmasin Kalimantan yang merupakan daerah asal kyai Abu Yazid yang tidak lain adalah kakek KH. Abdurrasyid.

Periode selanjutnya, pondok pesantren ini diasuh oleh KH. Shodaqoh Hasan yang memperisteri Nyai Hikmah yaitu salah satu puteri KH. Abdurasyid. Pondok pesantren tanpa nama yang didirikan KH. Abdurasyid, oleh KH. Shodaqoh Hasan diberi nama Al-Irsyad. KH. Shodaqoh Hasan terus mengupayakan bagaimana pondok pesantren ini menjadi milik umat Islam yang pada gilirannya nanti akan memberikan faedah dan kemanfaatan yang besar.

Pengajian-pengajian kitab kuning berjalan dengan lancar, beliau juga mendirikan madrasah diniyyah dan madrasah kurikulum dalam wadah Yayasan Al-Wathoniyyah.

Pada tahun 1988 M. KH. Shodaqoh Hasan wafat. Beliau dimakamkan di komplek pondok pesantren, dan meninggalkan anak yang diantaranya adalah KH. Ahmad Haris Shodaqoh. Di bawah asuhan KH. Ahmad Haris Shodaqoh inilah diadakan pengkhususan terhadap pelajaran-pelajaran pondok pesantren dan pengalihan nama dari Al-Irsyad menjadi MA’HAD TAFSIR DAN SUNNAH AL-ITQON. Sedangkan Yayasan Al-Wathoniyyah dipercayakan kepada KH. Ubaidullah Shodaqoh, S.H.adik kandung KH. Ahmad Haris Shodaqoh.

Seiring perkembangan zaman yang menuntut adanya daya selektif dalam berfikir, maka pondok pesantren ini terus berupaya untuk tetap melestarikan nilai-nilai dari hasil karya ulama salaf yang telah terdahulu berupa warisan kitab kuning yang berlandaskan dan bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Pengkhususan itu masih tetap berlaku sampai saat ini. Bahkan pondok pesantren Al-Itqon telah mengalami kemajuan yang cukup berarti, dibuktikan dengan semakin banyaknya santri yang menuntut ilmu di pondok ini. Tidak hanya itu, pondok pesantren ini juga telah mempunyai lembaga pendidikan yang cukup komplit. Lembaga-lembaga itu antara lain adalah lembaga pendidikan Diniyyah Salafiyyah mulai dari Tingkat Raudhatul Athfal sampai Ma’had Aly. Yang lebih mengagumkan lagi, pondok pesantren ini, di bawah asuhan langsung KH. Ahmad Haris Shodaqoh memiliki Majlis Ta’lim Ahad Pagi yang mengkaji Tafsir Al-Ibriz dengan peserta kurang lebih 15000 orang dari berbagai kalangan dan dari dalam kota ataupun luar kota Semarang.

Pada tahun 1997 M. selain madrasah diniyyah salafiyyah Al-Wathoniyyah, Ma’had Tafsir dan Sunnah Al-Itqon mendirikan madrasah diniyyah khusus untuk santri yang menetap di pondok pesantren, yang diberi nama madrasah diniyyah salafiyyah Al-Itqon dengan jenjang awaliyyah, wustha, dan ulya.

Visi dan Misi pondok pesantren Al-Itqon kota Semarang adalah sebagai berikut:

1) Visi

Berakhlak dan berprestasi berdasarkan iman dan takwa (Imtaq)

2) Misi

a) Membentuk santri berakhlakul karimah
b) Membentuk santri berkarekter ahlussunnah waljamaah
c) Berfikir, bersikap, dan bertindak sesuai Mabadi’ul Khoira
Ummah dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Pendidikan

Pendidikan Formal :

1. RA Al-Wathoniyyah, 

2. MI Al-Wathoniyyah, 

3. MTs Al-Wathoniyyah, 

4. MA Al-Wathoniyyah, 

5. Ma’had Aly Al-Itqon 

Pendidikan Informal :

1. Madrasah Diniyyah Salafiyyah Al-Wathoniyyah, 

2. Madrasah Diniyyah Salafiyyah Al-Itqon, 

Pendidikan Nonformal :

1. Majlis Ta’lim Ahad Pagi

Fasilitas

1. Gedung RA Al-Wathoniyyah,

2. Gedung MI Al-Wathoniyyah,

3. Gedung MTs Al-Wathoniyyah,

4. Gedung MA Al-Wathoniyyah,

5. Gedung Madrasah Diniyyah Salafiyyah Al-Wathoniyyah, 

6. Gedung Madrasah Diniyyah Salafiyyah Al-Itqon,

7. Gedung Ma’had Aly Al-Itqon, 

8. Perpustakaan, 

9. Aula, 

10. Asrama Santri Putra, 

11. Asrama Santri Putri, 

12. Lapangan Olahraga, 

13. Lab. Komputer, 

14. Lab. Bahasa, 

15. Masjid

Ekstrakurikuler

1. Istighosah, 

2. Manaqib, 

3. Dibaiyyah & Khitobiyyah, 

3. Komputer, 

4. Bahasa, 

5. Seni Hadroh, 

6. MTQ, 

7. Khaligrafi, 

8. Bahsul Masail, 

9. Tadarusan Al-Quran, 

10. Musyawarah, 

11. Sorogan, 

12. Karya Ilmiyah, 

13. pembacaan wird al-Lathif, 

13. Rothib al-Ath-thos, 

14. Sholawat Masyisyah, 

15. Pembacaan Yasin dan Al-Burdah, 

16. Latihan Burdah, 

17. Muhafazhoh Kubro,

18. Olah Raga

Alamat

Jl. Kyai H. Abdurrosyid, Tlogosari Wetan, Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah 50196
Telepon: (024) 76747772
  •  info@alitqon.com
  •  www.alitqon.com