Nama Akad Program Tebu Rakyat Intensifikasi

0

Nama Akad Program Tebu Rakyat Intensifikasi

Pertanyaan :

Program TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi) yang berlaku di daerah-daerah tertentu (lihat lampiran) termasuk akad apa?. Dan bagaimana penghasilan dari padanya?.

Praktek Penyelenggaraan TRI (Tebu Rakyat Intensifikasi)

Program Penyelenggaraan Tebu Rakyat Intensifikasi (TRI) melalui proses:

  1. Langkah pertama adalah membentuk kelompok. Prosesnya beberapa petani yang lokasi tanahnya mendapat giliran untuk ditanami tebu, berkumpul untuk bersepakat membentuk kelompok, yang strukturnya ada Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Ketua kelompok berfungsi untuk mewakili anggota kelompoknya dalam segala urusan yang berkaitan dengan pihak luar.
  2. Langkah berikutnya adalah mengurus izin penanaman kepada instansi yang terkait, yang dalam hal ini diwakili oleh Ketua kelompok.
  3. Setelah mendapat izin, Ketua kelompok dapat mengajukan kredit pembiayaan tanaman dan biaya hidup, yang telah diatur melalui SK Bupati kepada KUD, yang pembayarannya setelah selesai penebangan.
  4. Hasil gula petani digiling di pabrik gula yang telah ditentukan. Pabrik gula dalam hal ini berfungsi menjual jasa penggilingan kepada petani, yang bagi hasilnya; pabrik gula kurang lebih 38 %, sedang petani kurang lebih 62 % (ada kemungkinan menurut rendemen).
  5. Hasil gula petani yang 98 % dijual kepada DOLOG dengan harga yang ditentukan. Sedang 2 % dapat diambil dalam bentuk natura.
  6. Penjualan gula petani kepada DOLOG diwakili dan dikoordinir oleh KUD kemudian uang diserahkan kepada masing-masing kelompok (diwakili oleh ketuanya) setelah memenuhi kewajiban kelompok, antara lain membayar utang, membayar biaya tebang dan lain-lain.

Jawab :

TRI termasuk akad ijarah, muzara’ah, mukhabarah, dan tidak termasuk wakalah. Oleh karena itu pelaksanaan TRI seperti tersebut dalam pertanyaan (soal) termasuk mu’amalah fasidah.

 

Keterangan, dari kitab:

Fath al-Wahhab [1]

(وَفَسَدَ)

(بِشَرْطِ جَرَّ نَفْعًا لِلْمُقْرِضِ كَرَدِّ زِيَادَةٍ) أَيِ اْلاِقْرَاضُ

فِي الْقَدْرِ أَوِ الصِّفَةِ كَرَدِّ صَحِيْحٍ عَنْ مُكَسَّرٍ

Dan akad penghutangan itu rusak sebab syarat menarik keuntungan bagi pihak yang meminjami, seperti pengembalian dengan kelebihan, baik dalam ukuran atau sifatnya. Seperti mengembalikan barang utuh dari hutangan yang pecah.

 

Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab [2]

وَمَعْلُوْمٌ أَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ إِذَا وَقَعَ الشَّرْطُ فِيْ صُلْبِ الْعَقْدِ أَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فِيْ الْعَقْدِ فَلاَ فسَادَ

Dan dimaklumi bahwa rusaknya penghutangan tersebut bila pernyaratan itu terjadi dalam akad. Namun bila pihak penghutang dan pihak yang menghutang) bersepakat terhadap persyaratan yang dimaksud, dan tidak terjadi penyaratan dalam akad, maka akad penghutangan itu sah.

 

Fath al-Wahhab [3]

(فَلاَ تَصِحُّ)

إِجَارَةُ دَارٍ أَوْ دَابَّةٍ (بِعِمَارَةٍ وَعَلْفٍ) بِسُكُوْنِ اللاَّمِ وَفَتْحِهَا وَهُوَ بِالْفَتْحِ مَا يُعْلَفُ بِهِ لِلْجَهْلِ فِيْ ذَلِكَ فَإِنْ ذَكَرَ مَعْلُوْمًا وَأَذَنَ لَهُ خَارِجَ الْعَقْدِ فِيْ صَرْفِهِ لِلْعِمَارَةِ أَوِ الْعَلْفِ صَحَّتْ

Tidak sah menyewakan rumah atau hewan dengan ongkos berupa perawatan dan memberi makan rumput, kata عَلْفٍ dengan disukun atau dibaca fathah huruf لَامْ nya, karena ketidaktahuan pada ongkos sewa. Maka bila pihak yang menyewakan telah menyebut ongkos sewa tertentu dan diluar akad mengizinkannya untuk dibelanjakan dalam perawatan atau pemberian makan rumput, maka akad sewa tersebut sah.

 

Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [4]

وَعَدَمُ إِكْرَاهٍ بِغَيْرِ حَقٍّ فَلاَ يَصِحُّ عَقْدُ مُكْرَهٍ فِيْ مَالِهِ بِغَيْرِ حَقٍّ فَإِنْ كَانَ بِحَقٍّ صَحَّ، كَأَنْ تُوُجِّهَ عَلَيْهِ بَيْعُ مَالِهِ لِوَفَاءِ دَيْنِهِ فَأَكْرَهَهُ الْحَاكِمُ عَلَيْهِ

Dan tanpa paksaan dengan selain kebenaran. Maka tidak sah akad jual beli seseorang yang terpaksa tanpa kebenaran dalam hartanya. Bila paksaan itu dengan kebenaran maka sah. Seperti ia tertuntut menjual hartanya untuk melunasi hutang, lalu hakim memaksanya.

 

[1] Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, (Indonesia: Dar Ihya’ al-kutub al-‘Arabiyah, t. th.), Juz I, h. 192.

[2] Sulaiman bin Manshur al-Jamal, Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Juz I, h. 192.

[3] Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, (Indonesia: Dar Ihya’ al-kutub al-‘Arabiyah, t. th.), Juz I, h. 247.

[4]  Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, (Beirut: Dar al-fikr, t. th.), Jilid I, h. 352.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 390
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-28
Di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Pada Tanggal 26 – 29 Rabiul Akhir 1410 H. / 25 – 28 Nopember 1989 M.