Mengembangkan Macam-macam Mal Zakawi

0

Mengembangkan Macam-macam Mal Zakawi

Pertanyaan :

Dapatkah mal zakawi itu dikembangkan macam-macamnya mengingat sekarang ini lapangan usaha ekonomi semakin luas?.

Jawab :

Sesuai dengan ketentuan kutub al-fiqh, maka mal zakawi tidak dapat dikembangkan macam-macamnya, kecuali dengan cara menjadikan tijarah.

 

Keterangan, dari kitab:

Fath al-Wahhab [1]

(وَ)

الْوَاجِبُ (فِيْمَا مُلِكَ بِمُعَاوَضَةٍ) مَقْرُوْنَةٍ (بِنِيَّةِ تِجَارَةٍ) وَإِنْ لَمْ يُجَدِّدْهَا فِيْ كُلِّ تَصَرُّفٍ (كَشِرَاءٍ وَ إِصْدَاقٍ) وَهِبَّةٍ بِثَوَابٍ وَاكْتِرَاءٍ لاَ كَإِقَالَةٍ وَرَدٍّ بِعَيْبٍ وَهِبَّةٍ بِلاَ ثَوَابٍ لاِنْتِفَاءِ الْمُعَاوَضَةِ (رُبْعَ عُشُرِ قِيْمَتِهِ)

(Dan) zakat yang wajib dikeluarkan (dalam harta yang dimiliki dengan cara tukar-menukar) besertaan (dengan niat berbisnis), meski tidak diulang-ulang dalam setiap pembelanjaan, (seperti membeli, memberi mahar), hibah dengan imbal balik, dan menerima sewa, bukan seperti iqalah (mengurungkan akad), pengembalian barang karena cacat dan  hibah tanpa imbal balik, karena tidak adanya unsur tukar-menukar, adalah sejumlah 2,5 % dari harganya.

 

Al-Muhadzdzab [2]

وَمَنْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ الزَّكَاةُ وَقَدَرَ عَلَيْهِ إِخْرَاجُهَا لَمْ يَجُزْ لَهُ تَأْخِيْرُهَا لِأَنَّهُ حَقٌّ يَجِبُ صَرْفُهُ إِلَى اْلأَدَمِيِّ تَوَجَّهَتْ الْمُطَالَبَةُ بِالدَّفْعِ إِلَيْهِ فَلَمْ يَجُزْ لَهُ التَّأْخِيْرُ كَالْوَدِيْعَةِ إِذَا طَالَبَ بِهَا صَاحِبُهَا فَإِنْ أَخَّرَهَا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى آدَائِهَا ضَمِنَهَا

Barangsiapa wajib zakat dan mampu untuk mengeluarkannya, maka tidak boleh menundanya, sebab zakat merupakan suatu hak yang harus disalurkan kepada sesama manusia, yang mana tuntutan penyalurannya tertuju padanya, maka ia tidak boleh menundanya, seperti barang titipan ketika pemiliknya meminta kembali. Bila ia menundanya, sementara ia mampu untuk membayarnya seketika, maka ia menanggungnya.

 

[1]  Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr, 1418 H), Juz I, h. 194.

[2] Abu Ishaq al-Syairazi, al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar al-Fikr, 1996), Jilid IV, h. 164.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 393
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-28
Di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Pada Tanggal 26 – 29 Rabiul Akhir 1410 H. / 25 – 28 Nopember 1989 M.