Air Bersih Hasil Proses Pengolahan

0

Air Bersih Hasil Proses Pengolahan

Pertanyaan :

Dinilai ma’ al-mutlaq apabila air bersih hasil proses pengolahan tetapi mempunyai kelainan baik rasa, bau ataupun warna?.

Jawab :

Air tersebut pada prinsipnya masih termasuk air mutlak, karena proses kimiawinya tidak mengubah kemutlakan air tersebut, selama perubahannya tidak terlalu berat.

 

Keterangan, dari kitab:

Fath al-Qarib [1]

فَإِنْ لَمْ يَمْنَعْ  إِطْلاَقَ اسْمِ الْمَاءِ عَلَيْهِ بِأَنْ كَانَ تَغَيُّرُهُ بِالطَّاهِرِ يَسِيْرًا أَوْ بِمَا يُوَافِقُ الْمَاءَ فِيْ صِفَاتِهِ وَقُدِرَ مُخَالِفًا وَلَمْ يُغَيِّرْهُ فَلاَ يَسْلُبْ طَهُوْرِيَّتَهُ فَهُوَ مُطَهِّرٌ لِغَيْرِهِ

Apabila perubahan itu tidak mencegah kemutlakan nama air, seperti bila perubahannya itu dengan benda suci dalam kadar sedikit, atau dengan benda yang sifatnya sama dengan sifat-sifat air (rasa, warna dan bau), yang dikira-kira berbeda dengannya dan tidak sampai mengubahnya, maka perubahan itu tidak mencabut sifat bisa mensucikannya, maka air itu suci yang bisa mensucikan selainnya.

 

Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain [2]

الْمَاءُ الْمُطْلَقُ وَهُوَ مَا يَقَعُ عَلَيْهِ اِسْمُ الْمَاءِ بِلاَ قَيِّدٍ وَإِنْ رُشِخَ مِنْ بُخَارِ الْمَاءِ الطَّهُوْرِ الْمُغَلِّيْ أَوِ اسْتَهْلَكَ فِيْهِ الْخَلِيْطُ أَوْ قُيِّدَ بِمُوَافَقَةِ الْوَاقِعِ كَمَاءِ الْبَحْرِ

Air mutlak adalah air yang disebut dengan nama air tanpa ikatan nama tertentu, (air teh, gula, kopi dan sebagainya), meski berasal dari resapan uap air suci yang dididihkan, atau yang campurannya rusak, atau terikat dengan nama tempatnya, seperti air laut.

 

Kifayah al-Akhyar [3]

فَلَوْ تَغَيَّرَ تَغَيُّرًا يَسِيْرًا فَاْلأَصَحُّ أَنَّهُ طَهُوْرٌ لِبَقَاءِ اْلاِسْمِ

 

Maka bila air berubah dengan perubahan sedikit, maka menurut pendapat al-Ashshah air itu suci dan mensucikan, sebab kemutlakan namanya masih tetap.

 

[1] Ibn Qasim al-Ghazi, Fath al-Qarib pada Hasyiyah al-Bajuri, (Beirut: Dar al-fikr, t. th.), Jilid  I, h. 33-34.

[2] Zainuddinal-Malibari, Fath al-Mu’in bi Syarh Qurrah al-‘Ain pada I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra, t. th.), Jilid I, h.27.

[3] Abu Bakar bin Muhammad al-Khishni, Kifayah al-Akhyar fi Hill Ghayah al-Ikhtishar, (Semarang: Toha Putra, t. th.), Juz I, h. 10.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 386
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-28
Di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Pada Tanggal 26 – 29 Rabiul Akhir 1410 H. / 25 – 28 Nopember 1989 M.