Zakat Hasil Pertanian yang Menggunakan Pupuk

0

Zakat Hasil Pertanian yang Menggunakan Pupuk

Pertanyaan :

Pertanian yang menggunakan pupuk relatif lebih berat mu’nahnya dari pada pertanian yang menggunakan mu’nah al-saqyi (biaya pengairan). Apakah hasil pertanian yang menggunakan pupuk itu harus dizakati nishf al-usyr (5 %) atau (10 %)?.

 

Jawab :

  1. Mu’nah al-saqyi (biaya pengairan) tidak sama dengan biaya pupuk, karena air berpengaruh langsung pada hidup atau matinya tanaman, sedang pupuk hanya berpengaruh pada kesuburan tanaman dan kelipatan hasil produksinya.
  2. Jika sebidang tanah yang diairi dengan biaya tanpa diberi pupuk akan menghasilkan gabah sebanyak lima kwintal misalnya, maka tanah tersebut jika diairi dengan biaya pengairan dan diberi pupuk akan dapat menghasilkan gabah sebanyak sepuluh kwintal atau lebih, sedang biaya pupuk yang dipergunakan tentu lebih murah dari harga kelipatan gabah yang dihasilkan dengan pupuk tersebut, sehingga dengan demikian biaya pupuk tersebut telah tertutup oleh harga kelipatan yang dihasilkan.

 

Jadi zakat dari tanaman yang diberi pupuk tetap “usyr” (10 %) dan bukan “nishful usyr” (5 %).

 

Keterangan, dari kitab:

I’anah al-Thalibin [1]

أَنَّ مُؤَنَ السَمَاءِ لَيْسَتْ مُؤَنَ السَّقْيِ بِالدَّوْلاَبِ فَزَكَاتُهَا الْعُشُرُ لاَ نِصْفُ الْعُشُرِ لِخَبَرِ الْبُخَارِيّ فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ أَوِ الْعُيُوْنُ أَوْ كَانَ عَشْرِيًّا الْعُشُرُ وَمَا سُقِيَ بِالنَّضْجِ نِصْفُ الْعُشُرِ

Sesungguhnya biaya pengairan berdasarkan tadah hujan itu tidak sama dengan biaya penyiraman dengan hewan. Maka zakatnya sepersepuluh (10 %) dan bukan separuhnya (5 %). Sesuai hadits riwayat Bukhari: “Dalam hal (pertanian) yang diairi oleh hujan, mata air atau yang dengan akarnya bisa menyerap air disekitarnya, maka (zakatnya) 10 %. Sedangkan yang diairi dengan suatu peralatan, maka separuhnya (5 %).”

 

Al-Iqna’ [2]

(نِصْفُ الْعُشُرِ) وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ r: فِيْمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُوْنُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشُرُ وَفِيْمَا سُقَتْ بِالنَّضْجِ نِصْفُ الْعُشُرِ وَانْعَقَدَ اْلاِجْمَاعُ عَلَى ذَلِكَ كَمَا قَالَ الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرُهُ وَالْمَعْنَى فِيْهِ كَثْرَةُ الْمُؤْنَةِ وَخِفَّتِهَا

(Wajib zakat 10%) berdasarkan sabda Rasulullah Saw.: “Dalam pertanian yang diairi oleh hujan ataupun mata air atau yang dengan akarnya bisa menyerap air (disekitarnya), maka (zakatnya) 10 %. Sedangkan yang diairi dengan peralatan, maka separuhnya 5 %.” Hal ini sesuai dengan ijma’ seperti kata al-Baihaqi dan lainnya. ‘Illat dalam hadits tersebut adalah banyak atau sedikitnya biaya pengairan.

 

Fath al-Wahhab [3]

(قَوْلُهُ لَا بِأَكْثَرِهِمَا) مُتَعَلِّقٌ بِمَحْذُوفٍ أَيْ لَا يُعْتَبَرُ بِأَكْثَرِهِمَا وَقَوْلُهُ وَلَا بِعَدَدِ السَّقْيَاتِ مُتَعَلِّقٌ بِمَحْذُوفٍ أَيْ وَلَا يَسْقُطُ بِعَدَدِ السَّقْيَاتِ وَغَرَضُهُ بِهَذَا الرَّدِّ عَلَى قَوْلَيْنِ ضَعِيفِينَ حَكَاهُمَا فِي الْمِنْهَاجِ وَعِبَارَتُهُ مَعَ شَرْحِ الْمَحَلِّيِّ وَوَاجِبُ مَا سُقِيَ بِهِمَا أَيْ بِالنَّوْعَيْنِ كَالنَّضْحِ وَالْمَطَرِ سَوَاءٌ ثَلَاثَةُ أَرْبَاعِهِ أَيْ الْعُشْرِ عَمَلًا بِوَاجِبِ النَّوْعَيْنِ فَإِنْ غَلَبَ أَحَدُهُمَا فَفِي قَوْلٍ يُعْتَبَرُ هُوَ فَإِنْ كَانَ الْغَالِبُ الْمَطَرُ فَالْوَاجِبُ الْعُشْرُ أَوْ النَّضْحُ فَنِصْفُ الْعُشْرِ وَالْأَظْهَرُ يُقَسَّطُ وَالْغَلَبَةُ وَالتَّقْسِيطُ بِاعْتِبَارِ عَيْشِ الزَّرْعِ أَوْ الثَّمَرِ وَنَمَائِهِ وَقِيلَ بِعَدَدِ السَّقْيَاتِ

(Ungkapan Syaikh Zakaria al-Anshari: “Tidak dengan yang terbanyak dari masa hidup buah-buahan dan tanaman, dan masa pertumbuhannya.)  itu terkait dengan kata yang dibuang, maksudnya tidak dihitung dengan yang terbanyak dari dua masa tersebut. Ungkapan beliau: “Tidak dengan hitungan penyiraman.”, itu terkait dengan kata yang dibuang, maksudnya tidak diprosentase dengan hitungan penyiraman. Tujuan beliau dengan ungkapan ini adalah menyanggah dua qaul dha’if yang dihikayatkan al-Nawawi dalam kitab Minhaj al-Thalibin. Redaksinya sekaligus Syarh al-Mahalli adalah:

“Dan zakat pertanian yang diairi dengan keduanya, yakni dengan dua macam pengairan, seperti hewan pengangkut air dan hujan secara sama adalah 3/4, maksudnya dari 1/10, karena mengamalkan kewajiban zakat dalam dua macam pertanian tersebut. Bila salah satu pengairan itu mendominasi, maka dalam satu pendapat, yang diperhitungkan (untuk menentukan zakat) adalah pengairan yang mendominasi itu. Bila yang mendominasi itu pengairan dengan hujan, maka zakatnya 1/10, atau yang mendominasi itu pengairan dengan hewan pengangkut air, maka zakatnya 1/20. Sedangkan menurut qaul al-azhhar kadar zakatnya diqisth (diprosentase antara keduanya). Dominasi dan taqsith (prosentase) tersebut dengan mempertimbangkan masa kehidupan tanaman atau buah-buahan, dan pertumbuhannya. Sementara menurut pendapat lain dengan hitungan penyiraman.

 

I’anah al-Thalibin [4]

(قَوْلُهُ وَسَبَبُ التَّفْرِقَةِ)

 أَيْ مَا بَيْنَ مَا سُقِيَ بِلاَ مُؤْنَةٍ حَيْثُ كَانَ وَاجِبُهُ الْعُشُرَ وَمَا سُقِيَ بِمُؤْنَةٍ حَيْثُ كَانَ وَاجِبُهُ نِصْفَ الْعُشُرِ (قَوْلُهُ ثَقْلَ الْمُؤْنَةُ فِيْ هَذَا) أَيْ فِيْمَا سُقِيَ بِمُؤْنَةٍ

(Ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Sebab perbedaan.”), maksudnya perbedaan antara pertanian yang diairi tanpa biaya yang zakatnya 10% dan yang diairi dengan biaya yang zakatnya 5%. (Unkapan beliau: “Besarnya biaya dalam pertanian ini.”), maksudnya pertanian yang diairi dengan biaya.

 

Fatawi Zubairi [5]

(بَابُ زَكَاةِ النَّبَاتِ)

سُئِلَ – فِيْ أَهْلِ بَلَدٍ يَمْتَادُوْنَ تَسْمِيْدَ أَشْجَارِهِمْ بَدَلَ السِّقَايَةِ بَلْ أَكْثَرَ فَهَلْ يَجِبُ عَلَى مَالِكِ اْلأَشْجَارِ الْعُشُرُ أَوْ نِصْفُهُ وَأَيْضًا هَلْ يُكْرَهُ أَكْلُ الثَّمْرَةِ مِنْ أَجْلِ التَّسْمِيْدِ أَمْ لاَ وَكَذَلِكَ إِذَا كَانُوْا يَمْتَادُوْنَ تَحْرِيْثَ أَشْجَارِهِمْ بَدَلَ السِّقَايَةِ مَا حُكْمُهُ فِيْ وُجُوْبِ الزَّكَاةِ أَفْتُوْنَا مَأْجُوْرِيْنَ أَجَابَ عَفَا اللهُ عَنْهُ يَقُوْلُ التَّسْمِيْدُ وَالتَّحْرِيْثُ لاَ يُغَيِّرُ حُكْمَ الْوَاجِبِ فَيَجِبُ نِصْفُ الْعُشُرِ وَلاَ يُكْرَهُ أَكْلُ الثَّمْرَةِ الْمَذْكُوْرَةِ وَاللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ

(Bab Zakat Tanaman) Syaikh al-Zubairi Ra. pernah ditanya tentang penduduk suatu daerah yang melakukan pemupukan pohon-pohon sebagai pengganti dari pengairan, dan bahkan biayanya lebih besar. “Apakah pemilik pohon terbebani zakat 10% atau separuhnya (5%), dan apakah dimakruhkan memakan buah-buahan karena pemupukan tersebut, serta bagaimana jika mereka membajak lahan (sekitar) pohon-pohon tersebut sebagai pengganti pengairan, bagaimana hukumnya terkait dengan kewajiban zakatnya? Berilah fatwa kami, semoga anda mendapatkan imbalan pahala.”

Beliau, ‘afallahu ‘anh, menjawab dengan berkata: “Pemupukan dan pembajakan lahan tidak merubah kewajiban zakat, lalu wajib zakatnya menjadi 5%, dan tidak makruh memakan buah-buahan tersebut. Wallah subhanah wa ta’ala a’lam.”

 

Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab [6]

قَالَ الْمُصَنِّفُ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى وَزَكَاتُهُ الْعُشْرُ فِيمَا سُقِيَ بِغَيْرِ مُؤْنَةٍ ثَقِيلَةٍ كَمَاءِ السَّمَاءِ وَالْأَنْهَارِ وَمَا شَرِبَ بِالْعُرُوقِ وَنِصْفُ الْعُشْرِ فِيمَا سُقِيَ بِمُؤْنَةٍ ثَقِيلَةٍ كَالنَّوَاضِحِ وَالدَّوَالِيبِ وَمَا أَشْبَهَهَا لِمَا رَوَى ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ

فَرَضَ فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْأَنْهَارُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ بَعْلًا وَرُوِيَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ  وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْر

Penulis (Abu Ishaq al-Syairazi) –rahimallahu ‘anh ta’ala- berkata: “Dan zakatnya (kurma dan anggur), 10 % bagi yang diairi tanpa biaya besar, seperti dengan air hujan, air sungai, dan air yang diserap oleh akar. Dan 5% bagi yang diairi dengan biaya besar, seperti dengan onta-onta pengangkut air, alat penyiram tanaman dan semisalnya. Karena hadits riwayat Ibn Umar -radhiyallah ‘anhuma-: “Sungguh Nabi Saw. mewajibkan zakat 10 % bagi tanaman yang diairi oleh hujan, sungai, atau tanaman yang menyerap air dengan akarnya,- dalam riwayat lain dengan redaksi: “’Atsariyyan” yaitu tanaman yang menyerap air yang mengalir disekitarnya, dan 5 % bagi tanaman yang diairi dengan onta pengangkut air.

 

[1] Muhammad Syaththa al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t.th.),  Jilid II, h. 161. Lihat pula, al-Fuyudhat al-Rabbaniyah, Himpunan Keputusan Muktamar Jam’iyah Ahli Thariqah al-Muktabarah al-Nahdhiyah, masalah no. 75.

[2]  Muhammad al-Khatib al-Syirbini, al-Iqna’, (Bandung: Syirkah Ma’arif, t. th.), Juz I, h. 194.

[3]  Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab Syarh Manhaj al-Thullab pada Hasyiyah al-Jamal, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid II, h. 246.

[4] Muhammad Syaththa al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Singapura: Sulaiman Mar’i,  t.th.), Jilid II, h. 161.

[5] Muhammad Rais al-Zubairi, Fatawa Zubairi pada Qurrah al-‘Ain bi Fatawa ‘Ulama al-Haramain, (Mesir: al-Tijariyah ak-Kubra, 1937) h. 100.

[6] Muhyiddin al-Nawawi, al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, (Mesir: al-Imam, t. th.), Jilid V, h. 445.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 370
MASAIL DINIYAH
KEPUTUSAN MUNAS ALIM ULAMA NU
Di Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap.
Pada Tanggal 23 – 26 Rabiul Awwal 1408 H. / 15 – 18 Nopember 1987 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here