Nikah Antara Dua Orang Berlainan Agama di Indonesia

0

Nikah Antara Dua Orang Berlainan Agama di Indonesia

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia ini?.

Jawab :

Hukum nikah demikian tidak sah, sebagaimana telah diputuskan dalam Muktamar NU tahun 1962 dan Muktamar Thariqah Mu’tabarah tahun 1968.

 

Keterangan, dari kitab:

Hasyiyah al-Syarqawi [1]

(وَنِكَاحُ الْمُسْلِمُ كَافِرَةً غَيْرَ كِتَابِيَّةٍ خَالِصَةٍ) كَأَنْ كَانَتْ وَثَنِيَّةً أَوْ مَجُوْسِيَّةً أَوْ أَحَدَ أَبَوَيْهَا كَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَلاَ تُنْكِحُوْا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَتَغْلِيْبًا لِلتَّحْرِيْمِ فِيْ اْلآخِيْرَةِ. وَخَرَجَ بِالْمُسْلِمِ الْكَافِرُ لَكِنْ ذُكِرَ فِي الْكِفَايَةِ فِيْ حِلِّ الْوَثَنِيَّةِ لِلْكِتَابِيِّ وَجْهَيْنِ وَهَلْ تَحْرُمُ الْوَثَنِيَّةُ عَلَى الْوَثَنِيِّ قَالَ السُّبُكِيّ يَنْبَغِيْ التَّحْرِيْمُ إِنْ قُلْنَا أَنَّهُمْ مُخَاطَبُوْنَ بِالْفُرُوْعِ وَإِلاَّ فَلاَ حِلَّ وَلاَ حُرْمَةَ (فَإِنْ كَانَتْ) كِتَابِيَّةً (خَالِصَةً وَهِيَ إِسْرَائِيْلِيَّةٌ) حَلَّتْ لَنَا قَالَ تَعَالَى وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَيْ حَلٌّ وَالْمُرَادُ مِنَ الْكِتَابِ التَّوْرَاةُ وَاْلإِنْجِيْلُ دُوْنَ سَائِرِ الْكُتُبِ قَبْلَهَا كَصُحُفِ شِيْثَ وَاِدْرِيْسَ وَاِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لِأَنَّهَا لَمْ تُنْزَلْ بِنَظْمٍ يُدْرَسُ وَيُتْلَى وَإِنَّمَا أُوْحِيَ إِلَيْهِمْ مَعَانِيْهَا وَقِيْلَ لِأَنَّهَا حِكَمٌ وَمَوَاعِظُ لاَ أَحْكَامٌ وَشَرَائِعُ هَذَا (إِنْ لَمْ تَدْخُلْ أُصُوْلُهَا فِيْ ذَلِكَ الدِّيْنِ بَعْدَ نُسْخَةٍ) سَوَاءٌ أَعُلِمَتِ الْقَبْلِيَّةُ أَوْ شُكَّ فِيْهَا لِتَمَسُّكِهِمْ بِذَلِكَ الدِّيْنِ حِينَ كَانَ حَقًّا وَإِلاَّ فَلاَ تَحِلُّ لِسُقُوْطِ فَضِيْلَةِ ذَلِكَ الدِّيْنِ (أَوْ) وَهِيَ (غَيْرُ إِسْرَائِيْلِيَّةٍ حَلَّتْ) لِمَا مَرَّ (إِنْ عُلِمَ دُخُوْلُهُمْ فِيْ ذَلِكَ الدِّيْنِ قَبْلَ نُسْخِهِ وَلَوْ بَعْدَ تَبْدِيْلِهِ إِنْ تَجَنَّبُوا الْمُبْدَلَ) وَإِلاَّ فَلاَ تَحِلُّ لِمَا مَرَّ أَخْذًا بِاْلأَغْلَظِ فِيْمَا إِذَا شُكَّ فِيْ الدُّخُوْلِ الْمَذْكُوْرِ وَتَعْبِيْرُهُ بِمَا ذُكِرَ هُوَ مُرَادُ اْلأَصْلِ بِمَا عَبَّرَ بِهِ (فَتَحِلُّ الْيَهُوْدِيَّةُ وَالنَّصْرَانِيَّةُ بِالشَّرْطِ الْمَذْكُوْرِ) فِي اْلإِسْرَائِيْلِيَّةِ وَغَيْرِهَا (وَ) كَذَا (السَّامِرَةُ) وَالصَّائِبَةُ إِنْ وَافَقَتَا الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى فِيْ أَصْلِ دِيْنِهِمْ وَإِنْ لَمْ تُوَافِقَاهُمْ فِيْ فُرُوْعِهِ فَإِنْ خَالَفَتَاهُمْ فِيْ أَصْلِ دِيْنِهِمْ حُرِمَتَا وَهَذَا التَّفْصِيْلُ هُوَ مَا نَصَّ عَلَيْهِ الشَّافِعِيُّ فِيْ مُخْتَصَرِ الْمُزَنِّيّ وَعَلَيْهِ حُمِلَ إِطْلاَقُهُ فِيْ مَوْضِعٍ بِالْحِلِّ وَفِيْ آخَرَ بِعَدَمِهِ (وَالْمُنْتَقِلُ مِنْ دِيْنٍ  ِلاَخَرٍ) كَيَهُوْدِيٍّ أَوْ وَثَنِيٍّ تَنَصَّرَ فَهُوَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ مَنْ تَهَوَّدَ إِلَى تَنَصَّرَ وَعَكْسُهُ (لاَ يُقْبَلُ مِنْهُ إِلاَّ اْلإِسْلاَمُ) لِأَنَّهُ أَقَرَّ بِبُطْلاَنِ مَا انْتَقَلَ عَنْهُ وَكَانَ مُقِرًّا بِبُطْلاَنِ مَا انْتَقَلَ إِلَيْهِ (وَلاَ تَحِلُّ مُسْلِمَةٌ لِكَافِرٍ) حُرَّةً كَانَتْ أَوْ أَمَةً بِاْلإِتِّفَاقِ (وَلاَ) تَحِلُّ (مُرْتَدَّةٌ لِأَحَدٍ) لاَ لِمُسْلِمٍ  لِأَنَّهَا كَافِرَةٌ لاَ تُقَرُّ وَلاَ لِكَافِرٍ لِبَقَاءِ عُلْقَةِ اْلاِسْلاَمِ فِيْهَا

(Pernikahan-pernikahan yang batal adalah) … dan pernikahan seorang muslim dengan wanita non muslim selain kitabiyah murni, seperti wanita penyembah berhala, Majusi atau salah satu dari kedua orang tuanya beragama seperti itu karena firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman …” (QS. al-Baqarah: 221) dan karena memenangkan hukum haram dalam kasus yang terakhir (salah satu dari kedua orang tuanya beragama seperti itu). Dan terkecualikan dengan kata “muslim” orang kafir. Namum dalam kitab al-Kifayah disebutkan tentang keabsahan pernikahan perempuan penyembah berhala untuk laki-laki kitabi itu terdapat dua pendapat. Apakah perempuan penyembah berhala halal dinikah bagi lelaki penyembah berhala? Al-Subki berkata: “Semestinya haram bila kita berpendapat mereka dikhitabi dengan furu’ syari’ah. Bila tidak, maka tidak halal dan tidak haram.”

Apabila wanita tersebut kitabiyah murni, yaitu wanita Israiliyah, maka wanita itu halal bagi kita muslimin, Allah Ta’aala berfirman: “(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang memiliki kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu” (QS. al-Maidah: 4), maksudnya mereka halal. Yang dimaksud dengan al-Kitab adalah Taurat dan Injil, bukan seluruh kitab sebelum keduanya, seperti shuhuf (lembar-lembaran) Nabi Syits, Nabi Idris, Nabi Ibrahim –‘alaihimussalam-. Sebab, kitab-kitab itu tidak diturunkan dengan urutan yang dapat dipelajari dan dibaca, yang diturunkan kepada para nabi tersebut hanyalah maknanya saja. Menurut pendapat lain, karena kitab-kitab itu hanya berisi hikmah-hikmah dan nasehat-nasehat, bukan hukum dan syari’ah.

Hukum tersebut berlaku selama nenek moyangnya tidak memeluk agama Israiliyah itu setelah dinaskh (diganti dengan syari’ah lain). Baik sebelum dinaskhnya itu diketahui secara yakin atau diragukan, karena mereka berpegangan dengan agama tersebut  semasa agama itu masih benar. Bila tidak, maka perempuan itu tidak halal karena gugurnya keutamaan agama tersebut.

Atau perempuan itu bukan Israiliyah maka halal karena ayat yang telah lewat (QS. al-Maidah: 4), bila diketahui nenek moyangnya masuk agama tersebut sebelum penyalinannya, meskipun setelah didistorsi bila mereka terhindar dari agama yang terlah didistorsi. Bila tidak, maka tidak halal karena gugurnya kemuliaan keutamaan agama tersebut dan karena mengambil hukum yang terberat dalam kasus ketika mereka diragukan memeluk agama tersebut sebelum disalin dengan syari’ah lain atau sebelum didistorsi. Ungkapanku (Syaikh Zakaria al-Anshari) itu merupakan maksud ungkapan kitab asal (Tanqih al-Lubab karya Abu Zar’ah al-‘Iraqi, 762-826 H/1361-1423 M).

Maka wanita Yahudi dan Nasrani halal dengan syarat yang telah disebut dalam wanita Israiliyah dan selainnya. Demikian pula wanita pengikut Musa al-Samiri dan wanita Nasrani sekte Sabi’ah, bila ushul al-dinnya sesuai dengan Yahudi dan Nasrani, meskipun furu’nya berbeda. Bila ushul al-dinnya berbeda dengan Yahudi dan Nasrani, maka keduanya haram. Perincian hukum inilah yang dijelaskan Imam Syafi’i dalam kitab Mukhtashar al-Muzani. Pada perincian itulah keterangan mutlak beliau, yaitu di satu tempat halal dan di tempat lain tidak halal, diarahkan.

Sementara orang yang pindah dari suatu agama ke agama lain, seperti Yahudi atau penyembah berhala memeluk agama Nasrani, redaksi itu lebih umum dari pada redaksi kitab asal: “Orang Yahudi pindah ke Nasrani dan sebaliknya. “, maka hanya keislamannya yang diterima. Sebab ia mengakui kebatilan agama yang ditinggalkan dan pernah mengakui kebatilan agama barunya.

Dan seorang wanita muslimah tidak halal bagi laki-laki non muslim, baik wanita tersebut merdeka atau budak dengan kesepakatan ulama. Sedangkan wanita murtad tidak halal bagi siapapun. Tidak halal bagi laki-laki muslim karena dia wanita non muslim yang tidak dibiarkan (seperti non muslim asli) dan tidak halal bagi laki-laki non muslim sebab masih adanya hubungan Islam padanya.

 

Al-Muhadzdzab [2]

وَمَنْ دَخَلَ فِيْ دِيْنِ الْيَهُوْدِ وَالنَّصَارِى بَعْدَ التَّبْدِيْلِ لاَ يَجُوْزُ لِلْمُسْلِمِ أَنْ يَنْكِحَ حَرَائِرَهُمْ وَلاَ أَنْ يَطَأَ إِمَاءَهُمْ بِمِلْكِ الْيَمِيْنِ  لِأَنَّهُمْ دَخَلُوْا فِيْ دِيْنٍ بَاطِلٍ فَهُمْ كَمَنِ ارْتَدَّ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ وَمَنْ دَخَلَ فِيْهِمْ وَلاَ يَعْلَمُ أَنَّهُمْ دَخَلُوْا قَبْلَ التَّبْدِيْلِ وَبَعْدَهُ كَنَصَارَى الْعَرَبِ وَهُمْ تَنُوْخُ وَبَنُوْ تَغْلَبْ وَبَهْرَاءَ لَمْ يَحِلَّ نِكَاحُ حَرَائِرِهِمْ وَلاَ وَطْءُ إِمَاءِهِمْ بِمِلْكِ الْيَمِيْنِ  ِلأَنَّ الأَصْلَ فِي الْفُرُوْجِ الْحَظَرُ لاَ تُسْتَبَاحُ مَعَ الشَّكِّ

Pemeluk agama Yahudi dan Nashrani setelah terjadinya perubahan, maka lelaki muslim tidak boleh menikahi wanita merdeka mereka dan tidak boleh menyetubuhi budak wanita mereka dengan memilikinya, sebab mereka telah memeluk agama batil, seperti muslim yang murtad. Pemeluk agama Yahudi dan Nashrani yang tidak mengetahui bahwa mereka memeluknya sebelum terjadinya perubahan atau sesudahnya, seperti Nasrani bangsa Arab, seperti Tanukh, Bani Taghlib dan Bahra’, maka tidak sah menikahi wanita merdeka mereka dan tidak pula boleh menyetubuhi para budak  mereka dengan memilikinya. Karena hukum asal dalam masalah farji adalah haram, yang tidak bisa dihalalkan ketika terdapat keraguan.

 

Referensi Lain :

a. Al-Umm, Muhammad bin Idris al-Syafi’i, juz V, hlm. 7.

b. Ahkamul Fuqaha, soal nomor 297 pada Keputusan Konferensi Besar Syuriah NU, Tahun 1960.

c. Al-Faidhat al-Rabbaniyah, Ketetapan Jam’iyyah Thariqah Al-Mu’tabarah NU, h. 81 – 82.

d. Keputusan NU Jawa Timur, h. 67.

e. Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz II, h. 44.

f. Tanwir al-Qulub, h. 342.

 

[1] Ibrahim al-Syarqawi, Hasyiyah al-Syarqawi ‘ala al-Tuhfah, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th), Juz  II, h. 237.

[2] Abu Ishaq al-Syairazi, al-Muhadzdzab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Juz II, h. 44.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 376
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-28
Di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta
Pada Tanggal 26 – 29 Rabiul Akhir 1410 H. / 25 – 28 Nopember 1989 M.