Dispensasi Bagi Orang yang Selalu Bepergian

0

Dispensasi Bagi Orang yang Selalu Bepergian

Pertanyaan :

Bagaimana pendapat Musyawarah mengenai orang yang hampir selalu musafir (sejauh masafah al-qashri), dan mengenai orang yang mempunyai dua atau lebih tempat tinggal yang berjauhan (sejauh masafah al-qashri), namun semuanya dihuni dalam hubun­gannya dengan rukhshah?.

Jawab :

  1. Orang yang selalu musafir (sejauh masafah al-qashri), maka dalam hal rukhshah qashar shalat, hukumnya lebih utama itmam (tidak mengqashar). Dan dalam hal rukhshah ifthar (tidak puasa), bila ada harapan dapat mengqadha puasanya di hari lain, maka ia boleh ifthar. Tetapi apabila harapan itu tidak ada, maka tidak boleh ifthar, demikian pendapat Imam Subki yang didukung Imam Ramli; sedang menurut Imam Ibn Hajar al-Haitami, boleh ifthar secara mutlak.
  2. Orang yang mempunyai dua atau lebih tempat tinggal yang ber­jauhan (sejauh masafah al-qashri), apabila sedang berada di tempat tinggal yang mana saja, maka hukumnya sama dengan orang yang muqim, karena dia tinggal di tempat tinggalnya sendiri. Dan apabila sedang pergi dari tempat tinggal yang lain maka selama masih dalam perjalanan dia termasuk musafir “munsyi al- safar”, artinya boleh melaksanakan rukhshah safar; namun untuk dapat meninggalkan shalat Jum’at dan boleh berbuka puasa, masih dis­yaratkan bahwa sebelum fajar ia harus sudah keluar dari batas desa yang bersangkutan.

Keterangan, dari kitab:

  1. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [1]

وَخَرَجَ بِقَوْلِنَا وَلَمْ يُخْتَلَفْ فِيْ جَوَازِ قَصْرِهِ مَنِ اخْتُلِفَ فِيْ جَوَازِ قَصْرِهِ كَمَلاَّحٍ يُسَافِرُ فِيْ الْبَحْرِ وَمَعَهُ عِيَالُهُ فِيْ سَفِيْنَةٍ وَمَنْ يُدِيْمُ السَّفَرَ مُطْلَقًا كَالسَّاعِي فَإِنَّ اْلإِتْمَامَ أَفْضَلُ لَهُ خُرُوْجًا مِنْ خِلاَفِ مَنْ أَوْجَبَهُ كَاْلإِمَامِ أَحْمَدَ

Dan terkecualikan dengan ucapanku: “Dan kebolehan mengqashar-nya tidak diperselisihkan.” seperti sopir kapal yang melakukan pelayaran bersama keluarganya di kapal, dan orang yang selalu bepergian seperti Sa’i (pengelana), maka menyempurnakan shalat (tidak mengqashar  itu lebih utama baginya karena keluar dari khilaf ulama yang mewajibkannya seperti Imam Ahmad Ra.

2. Tuhfah al-Muhtaj [2]

وَقَالَ السُّبُكِيّ بَحْثًا وَلاَ أَيْ وَلاَ يَجُوْزُ اْلإِفْطَارُ لِمَنْ لاَ يُرْجَى زَمَنًا يَقْضِيْ فِيْهِ  لِإِدَامَتِهِ السَّفَرَ أَبَدًا وَفِيْهِ نَظَرٌ ظَاهِرٌ فَاْلأَوْجَهُ خِلاَفُهُ

Imam Subki berpendapat, tidak diperkenankan membatalkan puasa bagi orang yang tidak punya harapan di waktu lain untuk meng-qadha karena terus menerus bepergian. Dan dalam hal itu ada kajian ulang yang jelas. Pendapat yang lebih kuat  al-awjah adalah kebalikannya.

3. Fath al-Wahhab [3]

وَلاَ أَيْ لاَ تَجِبُ الْجُمْعَةُ عَلَى مُسَافِرٍ غَيْرَ مَنْ مَرَّ وَلَوْ سَفَرًا قَصِيْرًا لِاشْتِغَالِهِ بِالسَّفَرِ وَأَسْبَابِهِ

Salat Jum’at tidak wajib bagi musafir walaupun dalam perjalanan pendek, karena ia termasuk orang yang tersibukkan dengan perjalanan tersebut dan hal-hal yang terkait dengan perjalanannya.

4. Tuhfah al-Thullab [4]

فَرْعٌ يَحْرُمُ عَلَى مَنْ تَلْزَمُهُ الْجُمْعَةُ السَّفَرُ وَلَوْ لِطَاعَةٍ بَعْدَ فَجْرِ يَوْمِهَا إِلاَّ إِنْ تُمَكِّنُهُ الْجُمْعَةُ فِيْ طَرِيْقِهِ أَوْ قَصْدِهِ أَوْ يَتَضَرَّرُ بِتَخَلُّفِهِ عَنِ الرَّفْقَةِ

Haram bepergian bagi orang yang berkewajiban Jum’at, walaupun untuk tujuan ketaatan (ibadah) setelah fajar hari Jum’at terkait, kecuali jika memungkinkan untuk bisa sholat Jum’at di tengah perjalanan atau di tempat tujuannya, atau akan memperoleh kesulitan tertinggal dari teman seperjalanan.

5. Miraqah Shu’ud al-Tashdiq [5]

وَيَجُوْزُ الْفِطْرُ لِمُسَافِرٍ سَفَرَ قَصْرٍ بِأَنْ يَكُوْنَ طَوِيْلاً وَفَارَقَ الْعُمْرَانَ وَنَحْوَهُ قَبْلَ الْفَجْرِ عَلَى مَا أَفَادَهُ الرَّمْلِيُّ

Boleh berbuka puasa bagi musafir dalam perjalanan yang jauh sehingga boleh meng-qashar shalat, dan sudah keluar dari bangunan-bangunan (batas kota) sebelum fajar sebagaimana pendapat yang dianut oleh Imam Ramli.

[1]  Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, (Bandung: Syirkah Ma’arif, t. th.), Jilid I, h. 201.

[2] Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj pada Hasyiyata al-Syirwani wa al-‘Abbadi, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th), Jilid III, h. 73.

[3] Zakaria al-Anshari, Fath al-Wahhab Syarh Manhaj al-Thullab, (Bandung: Syirkah Ma’arif, t. th.), Juz I, h. 72.

[4] Zakaria al-Anshari, Tuhfah al-Thullab, (Mesir: Mushtafa al-Halabi, 1340 H), h. 32.

[5] Nawawi bin Umar al-Bantani, Miraqah Shuud al-Tashdiq, (Kudus: Menara Kudus, t. th.), h. 43.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 368
MASAIL DINIYAH
KEPUTUSAN MUNAS ALIM ULAMA NU
Di Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap.
Pada Tanggal 23 – 26 Rabiul Awwal 1408 H. / 15 – 18 Nopember 1987 M.