Zakat Peternakan Bandeng

0

Zakat Peternakan Bandeng

Pertanyaan :

Orang yang beternak ikan bandeng dengan tujuan bahwa hasil panennya akan diambil dan dijual untuk keperluan hidup sebagaimana lazimnya orang berumah tangga.

Setelah delapan bulan sejak awal beternak, maka semua ikan dia­mbil dan dijual laku dengan memperoleh uang senilai setengah kilo gram emas. Sesudah dibelanjakan barang guna keperluan hidup, kemudin sisa uang senilai lima puluh gram emas dibelikan bibit bandeng untuk diternakkan lagi dengan tujuan yang sama.

Apakah peternakan bandeng dengan tujuan dan cara tersebut, wajib dizakati?.

Apabila wajib dizakati, kapan harus dikeluarkan?.

Kalau wajib dizakati, dapatkah diberikan contoh peternakan hewan bukan zakawi di Indonesia yang memenuhi syarat-syarat tijarah?.

Jawab :

Tidak wajib dizakati, sebab tidak memenuhi persyaratan zakat tijarah. Adapun contoh peternakan hewan bukan zakawi tetapi wajib dizakati ialah peternakan bandeng dengan sengaja diperda­gangkan dan telah memenuhi syarat-syarat yang lain.

Keterangan, dari kitab:

Al-Muhadzdzab [1]

وَلاَ يَصِيْرُ الْعَرْضُ لِلتِّجَارَةِ إِلاَّ بِشَرْطَيْنِ أَحَدُهُمَا أَنْ يَمْلِكَهُ بِعَقْدٍ يَجِبُ فِيْهِ الْعِوَضُ كَالْبَيْعِ وَاْلإِجَارَةِ وَالنِّكَاحِ وَالْخُلْعِ وَالثَّانِيّ أَنْ يَنْوِيَ عِنْدَ الْعَقْدِ أَنْ يَمْلِكَهُ لِلتِّجَارَةِ

Suatu barang tidak menjadi komoditas perdagangan kecuali dengan dua syarat:

1. Dimiliki dengan akad yang mengharuskan adanya ‘iwad (penukar), seperti akad jual beli, persewaan, pernikahan dan khulu’.

2. Ketika melakukan akad berniat memilikinya dengan tujuan diperdagangkan.

Itsmid al-‘Ainain [2]

مَسْأَلَةٌ أَفَادَ أَيْضًا أَنَّ مَذْهَبَ أَبِيْ حَنِيْفَةَ وُجُوْبُ الزَّكَاةِ فِيْ كُلِّ مَا خَرَجَ مِنَ اْلأَرْضِ إِلاَّ حَطَبًا أَوْ خَصْبًا أَوْ حَشِيْشًا وَلاَ يَعْتَبِرُ نِصَابًا وَعِنْدَ اْلإِمَامِ أَحْمَدَ فِيْمَا يُوْكَلُ أَوْ يُوْزَنُ أَوْ يُدَّخَّرُ لِلْقُوْتِ وَلاَ بُدَّ مِنَ النِّصَابِ عِنْدَ مَالِكٍ كَالشَّافِعِيِّ

Permasalahan, Syaikh Sa’id Ba’asyan juga menjelaskan, bahwa mazhab Abu Hanifah itu mewajibkan zakat dalam setiap yang tumbuh dari bumi kecuali kayu bakar, tebu atau rerumputan dan tidak mempertimbangkan nishab tertentu. Dan menurut Imam Ahmad, zakat wajib pada semua yang ditakar, ditimbang, atau disimpan untuk makanan pokok, dan menurut pendapat Imam Malik harus memenuhi nishab sebagaimana Imam Syafi’i.

Referensi Lain :

  1. Ahkamul Fuqaha, soal nomor 140 dan 272.
  2. Tuhfah al-Muhtaj,Juz II, h. 195.

[1]  Abu Ishaq al-Syairazi, al-Muhadzdzab, Mesir: Isa al-Halabi, t. th.), h. 195.

[2] Ali Bashabrin, Itsmid al-‘Ainain pada Bughyah al-Mustarsyidin, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1952), h. 47-48.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 365
MASAIL DINIYAH
KEPUTUSAN MUNAS ALIM ULAMA NU
Di Pesantren Ihya Ulumuddin Kesugihan, Cilacap.
Pada Tanggal 23 – 26 Rabiul Awwal 1408 H. / 15 – 18 Nopember 1987 M.