Menyembelih Kurban Tidak Dibagikan

0

Menyembelih Kurban Tidak Dibagikan

Pertanyaan :

Bagaimanakah pendapat Muktamar mengenai menyembelih kurban tidak dibagikan, tetapi dibiarkan; yang membutuhkan silahkan mengambil sendiri?.

Jawab :

Kurbannya sah. Adapun mengenai membiarkan kurban (tidak membagikannya), maka jikalau kurban tersebut qurban mandub, maka menurut qaul ashah ‘inda al-Syafi’iyyah adalah meninggalkan kewajiban; dan jika kurban tersebut qurban wajib maka hukumnya menurut al-Syafi’iyyah adalah meninggalkan kewajiban, dan menurut al-Hanafiyah meninggalkan kesunahan.

Keterangan, dari kitab :

  1. Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj [1]

وَيَكْفِيْ فِيْ الثَّوَابِ إِرَاقَةُ الدَّمِّ بِنِيَّةِ الْقُرْبَةِ

Dalam memperoleh pahala, maka cukup dengan sekedar pengaliran darah (penyembelihan) disertai niat mendekatkan diri kepada Allah Swt.

2. Bughyah al-Mustarsyidin [2]

(مَسْأَلَةٌ)

وَيَجِبُ التَّصَدُّقُ فِيْ اْلأُضْحِيَّةِ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا بِمَا يَنْطَلِقُ عَلَيْهِ اْلاسْمُ مِنَ اللَّحْمِ

Dalam kurban sunah wajib menyedekahkan daging dengan kadar yang bisa disebut daging.

Fath al-Qarib dan Hasyiyah al-Bajuri [3]

(وَيُطْعِمُ)

حَتْمًا مِنَ الْأُضْحِيَةِ الْمُتَطَوَّعِ بِهَا الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِينَ

(قَوْلُهُ الْفُقَرَاءَ وَالْمَسَاكِينَ)

أَيْ جِنْسِهِمْ وَلَوْ وَاحِدًا فَيَكْتَفِي الصَّرْفُ لِوَاحِدٍ مِنَ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ

(Dan memberi makan) hukumnya wajib dari kurban sunnah kepada orang-orang fakir dan miskin.

Pernyataan Ibn Qasim al-Ghazi: “Orang-orang fakir dan miskin.” maksudnya adalah sejenis mereka, meskipun hanya seorang. Maka kewajiban itu bisa dicukupkan dengan mentasarufkan daging kurban kepada salah seorang fuqara’ dan masakin.

4. Minhaj al-Qawim [4]

وَيَجِبُ فِيْ أُضْحِيَّةِ التَّطَوُّعِ (التَّصَدُّقُ) بِشَيْءٍ يَقَعُ عَلَيْهِ اْلاسْمُ

(قَوْلُهُ التَّصَدُّقُ بِشَيْءٍ) اْلاِعْطَاءُ بِهِ وَلَوْ بِغَيْرِ لَفْظِ مُمْلِكٍ

Dalam kurban sunah, maka harus menyedekahkan kadar yang bisa disebut daging … pengertian menyedekahkan tersebut adalah memberikan walaupun tanpa disertai dengan ucapan kepemilikan.

[1] Muhammad bin Syihabuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, (Mesir: al-Maktabah al-Islamiyah, t. th.), Juz VIII, h. 134.

[2] Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi, Bughyah al-Musytarsyidin, (Indonesia: al-Haramain, t. th.), h. 258.

[3] Ibn Qasim al-Ghazi dan Ibrahim al-Bajuri, Fath al-Qarib dan Hasyiyah al-Bajuri, (Singapura: Sulaiman Mar’i, t. th.), Jilid II, h. 301-302.

[4]  Ibn Hajar al-Haitami, Minhaj al-Qawim pada Mauhibah Dzi al-Fadhl, (Mesir: Al-Amirah al-Syarafiyah, 1326 H), Jilid IV, h. 695.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 349
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-27
Di Situbondo Pada Tanggal 8-12 Desember 1984