Memberikan Zakat kepada Mesjid, Pondok, Madrasah

0

Memberikan Zakat kepada Mesjid, Pondok, Madrasah

Pertanyaan :

Bagaimana hukumnya apa yang berlaku di masyarakat umum dengan memberikan zakatnya kepada mesjid, madrasah, panti-panti asuhan, yayasan sosial/keagamaan dan lain-lain pembagian tertentu?.

Jawab :

Memberikan zakat kepada mesjid, madrasah, pondok pesantren dan sesamanya hukumnya ada dua pendapat:

  1. Tidak boleh, berdasarkan keputusan Muktamar NU ke-1, masalah nomor 5.
  2. Boleh berdasarkan kitab Tafsir al-Munir I/344. Demikian pula para ahli fiqh menyatakan boleh menyalurkan zakat kepada segala macam sektor sosial yang positif, seperti membangun mesjid, madrasah, mengurus orang mati dan lain sebagainya. Pendapat ini dikuatkan juga oleh fatwa Syaikh Ali al-Maliki dalam kitab Qurrah al-‘Ain, 73, yang menyatakan: “Praktek-praktek zaman sekarang banyak yang berbeda dengan pendapat mayoritas ulama, sebagaimana Imam Ahmad dan Ishaq yang memperbolehkan penyaluran zakat pada sektor di jalan Allah, seperti pembangunan mesjid, madrasah dan lain-lainnya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Bughyah al-Musytarsyidin [1]

لاَ يَسْتَحِقُّ الْمَسْجِدُ شَيْئًا مِنَ الزَّكَاةِ مُطْلَقًا. إِذْ لاَ يَجُوْزُ صَرْفُهَا إِلاَّ لِحُرٍّ مُسْلِمٍ

Masjid sama sekali tidak berhak menerima zakat. Sebab zakat itu penyalurannya tidak boleh kecuali untuk orang muslim yang merdeka.

2. Al-Mizan al-Kubra [2]

اِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ اْلأَرْبَعَةُ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَجُوْزُ إِخْرَاجُ الزَّكَاةِ لِبِنَاءِ مَسْجِدٍ أَوْ تَكْفِيْنِ مَيِّتٍ

Imam empat mazhab sepakat, tidak diperbolehkan mengeluarkan zakat untuk membangun masjid atau mengkafani orang mati.

3. Murah Labid li Kasyf Ma’na al-Qur’an al-Majid [3]

وَنَقَلَ الْقَفَّالُ مِنْ بَعْضِ الْفُقَهَاءِ أَنَّهُمْ أَجَازُوْا صَرْفَ الصَّدَقَاتِ إِلَى جَمِيْعِ وُجُوْهِ الْخَيْرِ مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَيِّتِ وَبِنَاءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ  ِلأَنَّ قَوْلَهُ تَعَالَى فِي سَبِيْلِ اللهِ عَامٌ فِي الْكُلِّ

Al-Qaffal menukil dari sebagian ahli fiqh, mereka memperbolehkan penyaluran zakat ke semua sektor sosial seperti mengkafani mayat, membangun benteng dan merehab mesjid. Sebab firman Allah Swt. fi sabilillah (al-Baqarah: 60) pengertiannya umum mencakup semuanya.

Qurah al-‘Ain [4]                                               

أَنَّ الْعَمَلَ الْيَوْمَ بِالْقَوْلِ الْمُقَابِلِ لِلْجُمْهُوْرِ الَّذِي ذَهَبَ إِلَيْهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ وَاِسْحَاقُ بْنُ رَاهَوَيْه فِيْ أَخْذِ سَهْمِ سَبِيْلِ اللهِ مِنَ الزَّكَاةِ الْوَاجِبَةِ عَلَى أَغْنِيَاءِ الْمُسْلِمِيْنَ لِلاسْتِعَانَةِ بِهِ عَلَى تَأْسِيْسِ الْمَدَارِسِ وَالْمَعَاهِدِ الدِّيْنِيَّةِ صَارَ الْيَوْمَ مِنَ الْمُتَعَيَّنِ.

Sungguh praktek sekarang ini dengan qaul muqabil Jumhur, yang menjadi pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahawaih perihal pengambilan bagian sabilillah yang diperoleh dari zakat wajib orang-orang kaya muslim untuk membantu pendirian sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga keagamaan, maka praktek itu menjadi suatu keharusan.

Al-Fatawa al-Syar’iyah wa al-Buhuts al-Islamiyah [5]

أَنَّ مِنْ مَصَارِفِ الزَّكَاةِ الثَّمَانِيَّةِ الْمَذْكُوْرَةِ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ الآيَةَ إِنْفَاقُهَا فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَسَبِيْلُ اللهِ يَشْمُلُ جَمِيْعَ وُجُوْهِ الْخَيْرِ مِنْ تَكْفِيْنِ الْمَوْتَى وَبِنَاءِ الْحُصُوْنِ وَعِمَارَةِ الْمَسْجِدِ وَتَجْهِيْزِ الْغُزَاةِ فِيْ سَبِيْلِ اللهِ وَمَا أَشْبَهَ ذَلِكَ مِمَّا فِيْهِ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ كَمَا دَرَّجَ عَلَيْهِ بَعْضُ الْفُقَهَاءِ وَاعْتَمَدَ اْلاِمَامُ الْقَفَّالُ مِنَ الشَّافِعِيَّةِ وَنَقَلَهُ عَنِ الرَّازِيِّ فِيْ تَفْسِيْرِهِ وَهُوَ الَّذِيْ نَخْتَارُهُ لِلْفَتْوَى

Sungguh termasuk penyaluran ke delapan golongan penerima zakat seperti yang tertera dalam firman Allah Swt.: Zakat itu hanya untuk orang-orang fakir … (al-Taubah: 60), adalah untuk sabilillah. Sedangkan sabilillah itu mencakup semua sektor sosial, seperti mengkafani mayat, membangun benteng, merehab masjid, dan pembekalan prajurit yang akan berperang serta lainnya yang memuat kepentingan umum umat Islam. Sebagaimana sebagian ahli fiqh telah memasukkan sektor sosial tersebut ke dalam kategori sabilillah dan dipedomani  Imam al-Qaffal dari kalangan al-Syafi’iyah serta dinukil al-Razi dalam tafsirnya yang menjadi pilihan kami dalam berfatwa.

[1] Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi, Bughyah al-Musytarsyidin, (Indonesia: al-Haramain, t. th.), h. 106.

[2] Abdul Wahhab al-Sya’rani, al-Mizan al-Kubra, (Mesir: Musthafa al-Halabi, t. th.), Juz II, h. 13.

[3] Muhamad Nawawi bin Umar al-Jawi, Murah Labid li Kasyf Ma’na al-Qur’an al-Majid, (Mesir: Isa al-Halabi, 1314 H), Juz I, h. 344.

[4] Ali al-Maliki, Qurrah al-‘Ain, h. 73.

[5] Muhamad Mahluf, al-Fatawa al-Syar’iah wa al-Buhuts al-Islamiyah, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1965), Jilid I, h. 297.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 336
KEPUTUSAN MUNAS
ALIM ULAMA
Di Kaliurang Yogyakarta Pada Tanggal 30 Syawal 1401 H. / 30 Agustus 1981 M.