Pembuatan Sajadah dengan Bertuliskan Kalimah Tauhid

0

Pembuatan Sajadah dengan Bertuliskan Kalimah Tauhid

Pertanyaan :

Dapatkah dibenarkan pembuatan sajadah yang dijual kepada umum dengan bertuliskan kalimat Tauhid dan sesamanya?.

Jawab:

Membuat/menjual sajadah yang bertuliskan kalimat Tauhid dan sesamanya tidak bisa dibenarkan, karena mumtahan (dihina), sebab sajadah itu disediakan untuk alas sholat.

Keterangan, dari kitab:

  1. I’anah al-Thalibin [1]

(قَوْلُهُ وَمَدُّ الرِّجْلِ) بِالرَّفْعِ عَطْفٌ عَلَى تَمْكِيْنٍ أَيْضًا أَيْ وَيَحْرُمُ مَدُّ الرِّجْلِ لِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاِزْدِرَاءِ بِهِ وَقَالَ فِي الْمُغْنِي وَيَحْرُمُ الْوَطْءُ عَلَى فِرَاشٍ أَوْ خَشَبٍ نُقِشَ بِالْقُرْآنِ كَمَا فِي اْلأَنْوَارِ أَوْ بِشَيْءٍ مِنْ أَسْمَائِهِ تَعَالَى

(Ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Dan haram memanjangkan kaki.”) dengan dibaca raf’, di-’athf-kan pada kata تَمْكِيْنٍ pula. Maksudnya dan haram memanjangkan kaki ke arah Al-Qur’an karena mengandung penghinaan padanya. Dalam Al-Mughni Karangan Syaikh Al-Khatib Al-Syirbini berkata: “Dan haram menginjak alas atau kayu yang berukir Al-Qur’an, seperti dalam kitab Al-Anwar, atau berukir sebagian nama-nama Allah Ta’ala.

  1. Al-Iqna’ fi Hill Alfazh Abi Syuja’ [2]

وَيُكْرَهُ كَتْبُ الْقُرْآنِ عَلَى حَائِطٍ وَلَوْ لِمَسْجِدٍ وَثِيَابٍ وَطَعَامٍ وَنَحْوِ ذَلِكَ … وَيَحْرُمُ الْمَشْيُ عَلَى فِرَاشٍ أَوْ خَشَبٍ نُقِشَ بِشَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ

Dimakruhkan menulis Al-Qur’an di dinding walaupun milik mesjid, pakaian, makanan dan semisalnya. Dan haram berjalan di atas alas atau kayu yang berukir ayat Al-Qur’an.

[1] Muhammad Syaththa al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra, t.th.), Jilid I, h. 69.

[2] Muhammad Khatib al-Syirbini, al-Iqna’ fi Hill Alfazh Abi Syuja’, (Mesir: Mushtafa al-Halabi, 1951), Jilid I, h. 328.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 319
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-25
Di Surabaya Pada Tanggal 20 – 25 Desember 1971 M.