Wanita Menjadi Anggota DPR/DPRD

0

Wanita Menjadi Anggota DPR/DPRD

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya wanita menjadi anggota DPR/DPRD? Apakah yang demikian itu tidak termasuk di dalam hadits yang artinya: “Tidak berbahagialah suatu golongan yang menyerahkan urusannya kepada orang perempuan.” Karena anggota hanya berhak memberi pertimbangan kepada ketua sidang, yang selanjutnya buah pertimbangan itu bisa dijadikan bahan/dasar oleh ketua untuk memutuskan sesuatu persoalan?.

Jawab : DPR/DPRD adalah badan permusyawaratan untuk menentukan hukum (tsubutu amrin li amrin), bukan untuk menentukan qadha (lizamil hukmi). Oleh sebab itu wanita menjadi anggota DPR/DPRD menurut hukum Islam diperbolehkan apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

  1. Afifah.
  2. Ahli dalam hal-hal tersebut di atas.
  3. Menutupi auratnya.
  4. Mendapat izin dari yang berhak memberi izin.
  5. Aman dari fitnah.
  6. Tidak menjadikan sebab timbulnya mungkar menurut syara’.

Apabila tidak memenuhi syarat-syarat tersebut di atas, maka haram. Dan syuriah dengan kebijaksanaan serta persetujuan PB Syuriah NU berhak menariknya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Mughni al-Muhtaj [1]

(وَيُنْدَبُ) عِنْدَ اخْتِلاَفِ وُجُوْهِ النَّظَرِ وَتَعَارُضِ اْلأَدِلَّةِ فِيْ الحُكْمِ (أَنْ يُشَاوِرَ الْفُقَهَاءَ) لِقَوْلِهِ تَعَالَى وَشَاوِرْهُمْ فِي اْلأَمْرِ. قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُّ. كَانَ النَّبِيُّ r مُسْتَغْنِيًا عَنْهَا وَلَكِنْ أَرَادَ أَنْ تَصِيْرَ سُنَّةً لِلْحُكَّامِ إِلَى أَنْ قَالَ الْمُرَادُ بِالْفُقَهَاءِ كَمَا قَالَهُ جَمْعٌ مِنَ اْلأَصْحَابِ الَّذِيْنَ يُقْبَلُ قَوْلُهُمْ فِي اْلإِفْتَاءِ فَيَدْخُلُ اْلأَعْمَى وَالْعَبْدُ وَالْمَرْأَةَ .

Ketika terjadi perbedaan pandangan dan kontradiksi dalil dalam suatu hukum para fuqaha disunnahkan bermusyawarah, sesuai firman Allah SWT: “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159). Al-Hasan al-Bashri berkata: “Nabi Saw. itu tidak perlu musyawarah, namun beliau ingin menjadikannya sebagai tradisi bagi para juru hukum … Yang dimaksud dengan al-Fuqaha adalah mereka yang diterima fatwanya, maka termasuk orang buta, budak dan wanita.

[1] Muhammad al-Khathib al-Syirbini, Mughni al-Muhtaj, (Mesir: Dar al-Kutub al-Arabiyah, 1329 H), Jilid IV, h. 371. Lihat pula, Tuhfah al-Muhtaj (Hasyiyyah al-Syirwani), Jilid X, h. 136 dan Hasyiyyah al-Qulyubi ‘ala Syarh al-Mahalli, Jilid IV, h. 302.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 281
KEPUTUSAN KONFERENSI BESAR
SYURIAH NAHDLATUL ULAMA
Di Surabaya Pada Tanggal 16 – 17 Sya’ban 1376 H./ 19 Maret 1957 M.