Talqin Mayit Sesudah Dikubur

0

Talqin Mayit Sesudah Dikubur

Pertanyaan : Apakah talqin mayit sesudah dikubur itu terdapat dalil dari hadits dan qaul ulama yang mu’tabar atau tidak?.

Jawab : Bahwa mentalqinkan mayit yang baru dikuburkan itu terdapat dalil dari hadits dan pendapat ulama yang terbilang.

Imam Nawawi menyatakan bahwa sanad hadits talqin yang diriwayatkan oleh Abi Umamah adalah dha’if. Akan tetapi kedha’ifannya sudah disokong dengan hadits-hadits lain, seperti tatsbit (tetap dan tabah dalam menjawab pertanyaan malaikat) dan hadits wasiat Amr bin Ash (tentang memberi hiburan ketika ditanya malaikat).

Serta arti hadits “mautakum” dengan orang yang sudah mati menurut pengertian hakekat, bukan orang yang akan mati menurut pengertian majaz. Menurut mazhab Syafi’i yang kuat bahwa talqin itu hukumnya sunat. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Qadhi Husain, al-Mutawalli, Nashr al-Muqaddashi, al-Rafi’i dan lain-lain. Adapun dalil hadits serta qaul ulama tercantum dalam kitab.

Keterangan, dari kitab:

  1. Asna al-Mathalib [1]

(فَرْعٌ يُسْتَحَبُّ) لِمَنْ حَضَرَ دَفْنَ الْمَيِّتِ أَوْ عَقِبَهُ  أَنْ يَقِفَ عَلَى الْقَبْرِ بَعْدَ الدَّفْنِ وَيَسْتَغْفِرَ) اللهَ وَيَدْعُو (لَهُ) … (وَأَنْ يُلَقِّنَ الْمَيْتُ) … (بَعْدَ الدَّفْنِ بِالْمَأْثُورِ) … قَالَ النَّوَوِيّ وَهُوَ ضَعِيْفٌ لَكِنَّ أَحَادِيْثَ الْفَضَائِلِ يُتَسَامَحُ فِيْهَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ. وَقَدْ اعْتَضَدَ هَذَا الْحَدِيْثَ شَوَاهِدُ مِنَ اْلأَحَادِيْثِ الصَّحِيْحَةِ كَقَوْلِهِ r أَسْأَلُوا اللهَ لَهُ التَّثْبِيْتَ، وَوَصِيَّةُ عَمْرَو بْنِ الْعَاصِ السَّابِقَةُ. قَالَ بَعْضُهُمْ وَقَوْلُهُ r لَقِّنُوْا مَوْتَاكُمْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ دَلِيْلٌ عَلَيْهِ لِأَنَّ حَقِيْقَةَ الْمَيِّتِ مَنْ مَاتَ. وَأَمَّا قَبْلَ الْمَوْتِ وَهُوَ مَا جَرَى عَلَيْهِ الْأَصْحَابُ كَمَا مَرَّ فَمَجَازٌ.

(Sub Masalah) Disunnahkan bagi orang yang menghadiri penguburan mayit atau setelahnya berdiri di atas kuburan setelah menguburnya itu, memohonkan ampunan (istighfar) dan berdoa kepada Allah untuknya … dan mentalqin mayit … setelah dikubur dengan talqin yang ma’tsur (dikutip dari rasulullah Saw.).

Imam Nawawi berkata: “Hadits riwayat al-Thabrani tentang talqin itu dha’if, namun hadits-hadits fadhail (yang berkaitan dengan amal kebajikan) itu ditolelir para ulama. Hadits tersebut telah diperkuat oleh hadits-hadits lain yang sahih, seperti: “Is aluu allaaha lahu al-tasbiita” (Mohonlah kalian kepada Allah Swt. agar mayit tetap dalam keimanan) dan wasiat Amr bin Ash yang telah lewat (agar setelah dikuburkan beliau ditemani selama kurang lebih waktu penyembelihan onta dan pembagian dagingnya, sehingga beliau merasa nyaman).”

Sebagian ulama berkata: “Sabda Nabi Saw.: “Laqqinuu mautaakum laa ilaaha illallaah.” (Bacakanlah laa ilaaha illallah pada orang mati kalian), merupakan dalil talqin. Sebab makna hakikat orang mati (dalam  redaksi hadits tersebut) adalah orang yang sudah mati. Sedangkan talqin yang dilakukan sebelum kematian, seperti pendapat para Ashhab yang telah lewat itu merupakan makna majaznya.

  1. Dalil al-Falihin [2]

وَمُعْتَمَدُ مَذْهَبِ الشَّافِعِيَّةِ سُنَّةُ التَّلْقِيْنِ بَعْدَ الدَّفْنِ كَمَا نَقَلَهُ الْمُصَنِّفُ فِي الْمَجْمُوْعِ عَنْ جَمَاعَاتٍ مِنَ اْلأَصْحَابِ. قَالَ وَمِمَّنْ نَصَّ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ وَالْمُتَوَلِّيُّ وَالشَّيْخُ نَصْرُ الْمُقَدَّسِيُّ وَالرَّافِعِيُّ وَغَيْرُهُمْ. وَنَقَلَ الْقَاضِيْ حُسَيْنٌ عَنْ أَصْحَابِنَا مُطْلَقًا. وَقَالَ ابْنُ الصَّلاَحِ هُوَ الَّذِيْ نَخْتَارُهُ وَنَعْمَلُ بِهِ. وَقَالَ السَّخَاوِيُّ وَقَدْ وَافَقَنَا الْمَالِكِيَّةُ عَلَى اسْتِحْبَابِهِ أَيْضًا وَمِمَّنْ صَرَّحَ بِهِ مِنْهُمْ الْقَاضِيْ أَبُوْ بَكْرٍ الْعِزِيُّ. قَالَ وَهُوَ فِعْلُ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ وَالصَّالِحِيْنَ وَاْلأَخْيَارِ وَجَرَى عَلَيْهِ الْعَمَلُ عِنْدَنَا بِقُرْطُبَةَ وَأَمَّا الْحَـنَفِيَّةُ فَاخْتَلَفَ فِيْهِ مَشَايِخُهُمْ كَمَا فِي الْمُحِيْطِ مِنْ كُتُبِهِمْ وَكَذَا اخْتَلَفَ فِيْهِ الْحَنَابِلَةُ اهـ. مُلَخَّصًا

Pendapat yang menjadi pedoman mazhab al-Syafi’iyah adalah kesunnahan talqin setelah penguburan jenazah. Seperti kutipan penulis (al-Nawawi) dalam kitab al-Majmu’ dari para Ashhab. Di antara ulama’ yang jelas-jelas yang menyatakan kesunahan talqin adalah al-Qadhi Husain, al-Mutawalli, Nashr al-Muqaddasi, al-Rafi’i dan selainnya. Al-Qadhi Husain mengutipnya dari para Ashhab secara mutlak. Ibn Shalah berkata: “Itulah yang kami pilih dan kami amalkan.” Al-Sakhawi berkata: “Dan ulama madzhab Malikiyah sependapat dengan kita atas kesunahan talqin. Dan sebagian ulama yang jelas-jelas menyatakan kesunahan talqin dari golongan mereka adalah al-Qadhi Abu Bakr al-‘Izzi. Ia berkata: “Talqin adalah amalan penduduk Madinah, pada shalihin dan orang-orang baik. Dan begitu pula yang di amalkan di Cordova (kota di Spanyol) berdasar madzhab Malikiyah. Sementara para tokoh ulama Hanafiyah berselisih tentang talqin, seperti dalam salah satu kitab mereka al-Muhith. Begitu pula para ulama Hanabilah, mereka berbeda pendapat tentangnya.

Catatan: Dalam penetapan hukum tersebut ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa yang menjadi dalilnya ialah hadis Abi Umamah, tetapi tidak sebagai hadis dha’if, melainkan sebagai hadis Hasan ligharih, sebab sudah disokong dengan hadis-hadis lain sebagai syahid (al-Jami’).

  1. I’anah al-Thalibin [3]

(قَوْلُهُ وَتَلْقِيْنُ بَالِغٍ) … أَيْ وَيُنْدَبُ تَلْقِيْنُ بَالِغٍ إِلَخ وَذَلِكَ لِقَوْلِهِ تَعَالَى: وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ. وَأَحْوَجُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ إِلَى التَّذْكِيْرِ فِيْ هَذِهِ الْحَالَةِ .

(Ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Dan mentalqin orang baligh”)  … maksudnya disunnahkan mentalqin orang baligh … Hal itu karena firman Allah Swt.: Dan berilah peringatan, karena sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Dzariyaat: 55). Dalam kondisi inilah seorang hamba sangat butuh  diperingatkan.

  1. Nihayah al-Muhtaj [4]

يُسْتَحَبُّ تَلْقِينُ الْمَيِّتِ الْمُكَلَّفِ بَعْدَ تَمَامِ دَفْنِهِ لِخَبَرِ إنَّ الْعَبْدَ إذَا وُضِعَ فِي قَبْرِهِ وَتَوَلَّى عَنْهُ أَصْحَابُهُ إنَّهُ يَسْمَعُ قَرْعَ نِعَالِهِمْ فَإِذَا انْصَرَفُوا أَتَاهُ مَلَكَانِ الْحَدِيثَ فَتَأْخِيرُ تَلْقِينِهِ لِمَا بَعْدَ إِهَالَةِ التُّرَابِ أَقْرَبُ إلَى حَالَةِ سُؤَالِهِ فَيَقُولُ لَهُ يَا عَبْدَ اللهِ ابْنَ أَمَةِ اللهِ اُذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنْ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَأَنَّ الْجَنَّةَ حَقٌّ وَأَنَّ النَّارَ حَقٌّ وَأَنَّ الْبَعْثَ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِي الْقُبُورِ وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ r نَبِيًّا وَبِالْقُرْآنِ إمَامًا وَبِالْكَعْبَةِ قِبْلَةً وَبِالْمُؤْمِنِينَ إخْوَانًا

Disunahkan mentalqin mayit mukallaf setelah selesai dikuburkan, berdasar hadits: “Sesungguhnya seorang hamba ketika sudah diletakkan di kuburnya dan para pengiringnya berpaling pulang, ia mendengar suara alas kaki mereka. Jika mereka sudah pergi, lalu ia didatangi oleh dua malaikat …” Sempurnakanlah hadits ini sampai selesai.”

Mengakhirkan pembacaan talqin setelah ratanya tanah (selesai penguburan) itu lebih mendekati waktu si mayit diberi pertanyaan oleh malaikat. Maka si pentalqin membacakan untuknya: “Wahai abdullah bin amatillah (Wahai … anak dari perempuan … ). Ingatlah engkau kondisi di saat kamu keluar dari alam dunia, yaitu bersaksi bahwa sungguh tiada yang berhak disembah selain Allah dan sungguh Muhammad adalah Rasulullah. Sungguh surga itu nyata, neraka itu nyata, kebangkitan dari kubur itu nyata, hari kiamat pasti akan terjadi tanpa diragukan lagi, sungguh Allah Swt. akan membangkitkan manusia dari kuburnya, sungguh engkau setuju dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi, al-Qur’an sebagai pemimpin, Ka’bah sebagai kiblat dan orang-orang mukmin sebagai saudara.”

  1. Kanz al-Ummal [5]

قَالَ أَبُوْ أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ إِذَا أَنَا مِتُّ فَاصْنَعُوْا بِيْ كَمَا أَمَرنَا رَسُوْلُ اللهِ r أَنْ نَصْنَعَ بِمَوْتَانَا. أَمَرَنَا رَسُوْلُ اللهِ r فَقَالَ: اِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ فَسَوَّيْتُمْ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ. ثُمَّ لِيَقُلْ يَا فُلاَنُ ابْنُ فُلاَنَةَ فَإِنَّهُ يَقُوْلُ أَرْشِدْنَا يَرْحَمُكَ اللهُ وَلَكِنْ لاَ تَشْعُرُوْنَ. فَلْيَقُلْ اُذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا وَهُوَ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَّنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَإِنَّكَ رَضِيْتَ بِاللهِ رَبًّا وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيْرًا يَأْخُذُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا بِيَدِ صَاحِبِهِ وَيَقُوْلُ اِنْطَلِقْ بِنَا.

Abu Umamah al-Bahili berkata: “Jika aku mati, maka perlakukanlah diriku seperti perlakuan yang Rasulullah Saw. perintahkan kepada kita untuk orang-orang mati kami.” Rasulullah Saw. memerintah kami, beliau bersabda: “Bila seseorang dari kalian mati, maka ratakanlah tanah di kuburnya. Lalu hendaknya salah seorang di antara kalian berdiri di atas kuburnya kemudian berkata: “Wahai Fulan putra si Fulanah’. Sungguh si mayit akan menjawab Mati akan menjawab: “Berilah aku petunjuk, semoga Allah Swt. merahmatimu.”, namun kalian (orang-orang yang mentalqin) tidak merasa (tidak mendengar) jawaban si mayit tersebut. Kemudian si pentalqin hendaklah berkata: “Ingatlah engkau kondisi di saat kamu keluar dari alam dunia, yaitu bersaksi bahwa sungguh tiada yang berhak disembah selain Allah dan sungguh Muhammad adalah hamba dan RasulNya. Sungguh engkau setuju dengan Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, Nabi Muhammad Saw. sebagai nabi, al-Qur’an sebagai pemimpin.” Maka (bila kamu berkata begitu, sungguh malaikat Munkar dan Nakir saling bertarik tangan seraya berkata: “Mari kita pergi.”

[1] Zakariya al-Anshari, Asna al-Mathalib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 2001), Jilid I, h. 329-330.

[2] Ibn ‘Allan al-Shiddiqi, Dalil al-Falihin, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid III, h. 397.

[3] Al-Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin,(Mesir: al-Tijariyah al-Kubra, t. th.), Jilid II, h. 140.

[4] Syamsuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1938), Jilid III, h. 40.

[5] Ali bin Hisamuddin al-Hindi al-Burhanfuri, Kanz al-Uammal fi Sunan al-Aqwal wa al-Af’al, (Beirut: Muassasah al-Risalah, 1989), Jilid XV, h. 737.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 304
KEPUTUSAN KONFERENSI BESAR
PENGURUS BESAR SYURIAH
NAHDLATUL ULAMA KE-2
Di Jakarta Pada Tanggal 1-3 Jumaadil Ulaa 1381 H./11-13 Oktober 1961 M.