Maksud Hadits “Meninggalkan Shalat Menjadi Kafir”

0

Maksud Hadits “Meninggalkan Sholat Menjadi Kafir”

Pertanyaan : Apakah orang yang meninggalkan sholat itu sampai menjadi kafir?. Sebab ada hadits, yang artinya: “Barangsiapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka menjadi kufur yang nyata.”

Jawab : Bahwa orang yang meninggalkan sholat itu tidak sampai menjadi kafir, tetapi menjadi fasik dan harus tobat. Adapun arti hadits tersebut ditujukan kepada orang yang ingkar atau menganggap halal akan meninggalkan sholat. Demikian menurut pendapat kebanyakan ulama salaf dan khalaf seperti Imam Abu Hanifah, Malik dan Syafi’i.

Keterangan, dari kitab:

  1. Fiqh al-Sunnah[1]

اَلْأَحَادِيْثُ الْمُتَقَدِّمَةُ ظَاهِرُهَا يَقْتَضِيْ كُفْرَ تَارِكِ الصَّلاَةِ وَإِبَاحَةَ دَمِّهِ وَلَكِنَّ كَثِيْرًا مِنْ عُلَمآءِ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ مِنْهُمْ أَبُوحَنِيْفَةَ وَمَالِكٌ وَالشَّافِعِيُّ عَلَى أَنَّهُ لاَ يَكْفُرُ بَلْ يَفْسُقُ وَيُسْتَتَابُ فَإِنْ لَمْ يَتُبْ قُتِلَ حَدًّا عِنْدَ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ وَغَيْرِهِمَا وَقَالَ أَبُوْ حَنِيْفَةَ لاَ يُقْتَلُ بَلْ يُعَزَّرُ وَيُحْبَسُ حَتَّى يُصَلِّيَ وَحَمَلُوْا أَحَادِيْثَ التَّكْفِيْرِ عَلَى الْجَاحِدِ وَالْمُسْتَحِلِّ لِلتَّرْكِ .

Adapun hadits yang telah lewat (“Barang siapa meninggalkan sholat dengan sengaja, maka ia telah menjadi kafir secara nyata”), pengertian zhahirnya menetapkan kekufuran orang yang meninggalkan sholat dan kebolehan untuk dibunuh. Akan tetapi banyak ulama dari kalangan salaf dan khalaf, di antaranya Imam Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i menyatakan bahwa orang yang meninggalkan tersebut tidak kafir, namun fasik dan disuruh bertobat. Jika tidak mau, maka menurut Imam Malik dan Syafi’i serta lainnya, ia harus dibunuh dalam rangka menerapkan hukum had. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, ia tidak dibunuh namun cukup dita’zir (diberi sanksi) dan dipenjara sampai mau sholat. Para ulama mengarahkan hadits pengkafiran di atas bagi orang yang mengingkari dan menganggap halal meninggalkan (kewajiban sholat).

[1]    Sayyid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, (Beirut: Dar al-Fikr, 1983), Cet. Ke-4, Jilid I, h. 81-82.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 299
KEPUTUSAN KONFERENSI BESAR
PENGURUS BESAR SYURIAH
NAHDLATUL ULAMA KE 1
Di Jakarta Pada Tanggal 21 – 25 Syawal 1379 H. / 18 – 22 April 1960 M.