I’adah Sholat Jum’at dengan Sholat Zhuhur

0

I’adah Sholat Jum’at dengan Sholat Zhuhur

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya i’adah (mengulang lagi) sholat Jum’at dengan sholat Zhuhur, karena orang yang berjum’at kurang dari 40 orang yang sempurna?.

Jawab : Bahwa mengulang sholat Jum’at dengan sholat Zhuhur dianggap bagus. Bahkan ada pendapat yang mengatakan sunat, kalau bilangan orang yang bershalat Jum’at kurang dari 40 orang, dengan niat taqlid pada qaul yang memperbolehkan.

Keterangan, dari kitab:

  1. Fath al-Mu’in [1]

وَقَدْ أَجَازَ جَمْعٌ مِنَ الْعُلَمآءِ أَنْ يُصَلُّوْا الْجُمْعَةَ وَهُوَ قَوِيٌّ فَإِذَا قَلَّدُوْا أَيْ جَمِيْعُهُمْ مَنْ قَالَ هَذِهِ الْمَقَالَةَ فَإِنَّهُمْ يُصَلُّوْنَ الْجُمْعَةَ وَإِنِ احَتَاطُوْا فَصَلُّوْا الْجُمْعَةَ ثُمَّ الظُّهْرَ كَانَ حَسَنًا

Sejumlah ulama benar-benar telah memperbolehkan sholat Jum’at -bagi jama’ah yang kurang dari empat puluh-, dan pendapat ini kuat. Jika mereka semua bertaqlid pada ulama yang berpendapat ini, maka mereka boleh melaksanakan shalat Jum’at. Dan jika mereka bersikap hati-hati, lalu mereka sholat Jum’at kemudian sholat Zhuhur, maka hal itu baik.

  1. Al-Wus’ah wa al-Ifadah [2]

وَإِذَا تَقَرَّرَ ذَلِكَ فَأَقُوْلُ إِنَّ الْحَاصِلَ أَنَّ لِلشَّافِعِي رَحِمَهُ اللهُ فِي الْعَدَدِ الَّذِيْ تَنْعَقِدُ بِهِ الْجُمْعَةُ أَرْبَعَةُ أَقْوَالٍ. قَوْلٌ مُعْتَمَدٌ وَهُوَ الْجَدِيْدُ. وَهُوَ كَوْنُهُ أَرْبَعِيْنَ. وَثَلاَثَةٌ فِي الْمَذَاهِبِ ضَعِيْفَةٌ أَحَدُهَا أَرْبَعَةٌ أَحَدُهُمْ اْلإِمَامُ وَالثَّانِيَةُ ثَلاَثَةٌ أَحَدُهُمْ اْلإِمَامُ وَالثَّالِثَةُ إِثْنَا عَشَرَ أَحَدُهُمْ اْلإِمَامُ وَعَلَى كُلِّ اْلأَقْوَالِ تُشْتَرَطُ فِيْهِمْ الشُّرُوْطُ الْمَذْكُوْرَةِ. إِذَا عُلِمَ ذَلِكَ فَعَلَى الْعَاقِلِ الطَّالِبِ مَا عِنْدَ اللهِ تَعَالَى أَنْ لاَ يَتْرُكَ الْجُمْعَةَ مَا تَأَتَّى فِعْلُهَا عَلَى وَاحِدٍ مِنْ هَذِهِ اْلأَقْوَالِ وَإِذَا لَمْ تُعْلَمْ الْجُمْعَةُ أَنَّهَا مُتَوَفِّرَةٌ فِيْهَا الشُّرُوْطُ عَلَى الْقَوْلِ اْلأَوَّلِ وَهُوَ قَوْلُ الْجَدِيْدِ فَيُسَنُّ لَهُ إِعَادَةُ الظُّهْرِ بِهَا إِحْتِيَاطًا .

Jika hal tersebut sudah menjadi keputusan maka aku berpendapat, sesungguhnya kesimpulan pendapat Imam al-Syafi’i –rahimahullah– tentang bilangan jamaah yang mengabsahkan sholat Jum’at ada empat. Pendapat yang dijadikan pedoman dan merupakan qaul jadid yaitu 40 orang, dan tiga pendapat lain yang lemah dalam madzhab. Pertama, 3 orang, termasuk imam. Kedua, 4 orang termasuk imam. Ketiga, 12 orang termasuk imam. Masing-masing pendapat tersebut disertai berbagai syarat yang telah disebutkan.

Jika hal itu sudah dimaklumi, maka bagi setiap orang yang berakal dan mencari ridha Allah Swt. maka tidak boleh meninggalkan sholat Jum’at selama masih memungkinkan sesuai (pilihan) pendapat-pendapat tersebut. Dan jika sholat Jum’at tidak diketahui memenuhi syarat-syaratnya seperti pendapat pertama, yaitu qaul jadid, maka disunatkan mengulangi dengan sholat Zhuhur di samping sholat Jum’at karena berhati-hati.

[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in pada I’anah al-Thalibin, (Beirut: Dar al-Fikr, 2002), Jilid II, h. 70.

[2] Al-Bakri bin Muhammad Syatha, al-Wus’ah wa al-Ifadah pada Sulh al-Jama’atain bi Jawaz Ta’addud al-Jum’atain, (Mesir: Mathba’ah al-Miyariyah, 1312 H), h. 25.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 298
KEPUTUSAN KONFERENSI BESAR
PENGURUS BESAR SYURIAH
NAHDLATUL ULAMA KE 1
Di Jakarta Pada Tanggal 21 – 25 Syawal 1379 H. / 18 – 22 April 1960 M.