Shalat di Mesjid yang Dibangun dengan Uang Haram

0

Shalat di Mesjid yang Dibangun dengan Uang Haram

Pertanyaan : Apakah sah shalat di mesjid yang didirikan dengan uang haram?.

Jawab : Sah shalatnya, tetapi haram dan tidak dapat pahala shalatnya.

Keterangan, dari kitab:

  1. Ihya’ Ulum al-Din [1]

وَأَمَّا الْمَسْجِدُ فَإِنْ بُنِيَ فِيْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ أَوْ بِخَشَبٍ مَغْصُوْبٍ مِنْ مَسْجِدٍ آخَرٍ أَوْ مِلْكٍ مُعَيَّنٍ فَلاَ يَجُوْزُ دُخُوْلُهُ أَصْلاً وَلاَ لِلْجُمْعَةِ بَلْ لَوْ وَقَفَ اْلإِمَامُ فِيْهِ فَلْيُصَلِّ هُوَ خَلْفَ اْلإِمَامِ وَلْيَقِفْ خَارِجَ الْمَسْجِدِ فَإِنَّ الصَّلاَةَ فِي اْلأَرْضِ الْمَغْصُوْبَةِ تُسْقِطُ الْفَرْضَ وَتَنْعَقِدُ فِيْ حَقِّ اْلإِقْتِدَاءِ فَلِذَلِكَ جُوِّزَ الْمُقْتَدِيَ اْلإِقْتِدَاءُ بِمَنْ صَلَّى فِي اْلأَرْضِ الْمَغْصُوْبَةِ وَإِنْ عَصَى صَاحِبُهُ بِالْوُقُوْفِ فِي الْغَصَبِ

Adapun mesjid yang dibangun di tanah ghasaban (milik orang lain tanpa izin) atau menggunakan kayu ghasaban dari mesjid lain atau milik orang tertentu, maka sama sekali tidak boleh memasukinya dan tidak boleh pula untuk pelaksanaan shalat Jum’at. Bahkan seandainya ada imam yang shalat di masjid tersebut, maka makmum hendaknya shalat di belakangnya di luar mesjid. Sebab shalat di tanah ghasaban bisa menggugurkan kewajiban dan sah menjadi makmum orang yang shalat di tanah ghasaban tersebut. Oleh sebab itu, kita memperbolehkan seseorang bermakmum dengan imam yang shalat di tanah ghasaban walaupun si imam berdosa dengan berada di sana.

  1. Fath al-Mu’in [2]

وَتَحْرُمُ الصَّلاَةُ لِقَبْرِ نَبِيٍّ … وَفِيْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ بَلْ تَصِحُّ بِلاَ ثَوَابٍ كَمَا فِيْ ثَوْبٍ مَغْصُوْبٍ.

(وَقَوْلُهُ فِيْ أَرْضٍ مَغْصُوْبَةٍ) هُوَ مَعْطُوْفٌ عَلَى قَبْرِ نَبِيٍّ أَيْ تَحْرُمُ الصَّلاَةُ فِيْهَا .

Haram melakukan shalat menghadap kuburan nabi (karena tabarruk/ mengagungkan, bukan kebetulan saja) … dan tidak makruh di tanah ghasaban, bahkan shalatnya sah, seperti shalat dengan memakai baju ghasaban.

(Dan ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Di tanah ghasaban.”) kata itu di’athafkan pada kata kuburan nabi. Maksudnya haram shalat di situ.

  1. Is’ad al-Rafiq [3]

قَالَ r مَنْ اشْتَرَى ثَوْباً بِعَشْرَةِ دَرَاهِمَ فِيْهِ دِرْهَمٌ حَرَامٌ لَمْ يَقْبَلِ اللهُ مِنْهُ صَلاَةً مَا دَامَ عَلَيْهِ.

Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa membeli baju seharga sepuluh dirham, satu dirham di antaranya adalah uang haram, maka Allah Swt. tidak akan menerima shalatnya selama ia masih memakai baju tersebut”.

[1] Hujjah al-Islam al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1387 H/1968 M), Jilid II, h. 193-194.

[2] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in dan al-Bakri Muhammad Syatha al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Beirut Dar al-Fikr, 1422 H/2002 M), Jilid I, h. 227.

[3] Muhammad Babashil, Is’ad al-Rafiq ‘ala Sullam al-Taufiq, (Indonesia: Dar Ihya’ al-Kutub al-Arabiyah t. th.), Juz I, h. 87.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no.264
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-15
Di Surabaya Pada Tanggal 10 Dzulhijjah 1359 H. / 9 Pebruari 1940 M.