Perempuan Berpakaian Seragam Tentara

0

Perempuan Berpakaian Seragam Tentara

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya orang perempuan berpakaian uniform seperti T.R.I. (Tentara Republik Indonesia) dan sampai di mana batas-batas perjuangan kaum wanita dalam pertempuran?.

Jawab : Perjuangan perempuan dalam soal jika perang itu telah menjadi fardhu ain atas mereka (perempuan), maka tidak ada batas, yakni sama dengan laki-laki, begitu juga tentang latihannya. Hanya saja pasti di tempat yang tersendiri dari orang-orang lelaki, sebagaimana mestinya. Mereka di waktu latihan atau bejuang, boleh beruniform tentara wanita untuk meringankan gerakannya, asal saja pakaian uniform itu menutup aurat.

Keterangan, dari kitab:

  1. Fath al-Mu’in [1]

(وَإِنْ دَخَلُوا) أَيْ الْكُفَّارُ (بَلْدَةً لَنَا تَعَيَّنَ) الْجِهَادُ (عَلَى أَهْلِهَا) أَيْ يَتَعَيَّنُ عَلَى أَهْلِهَا الدَّفْعُ بِمَا أَمْكَنَهُمْ وَلِلدَّفْعِ مَرْتَبَتَانِ  إِحْدَاهُمَا أَنْ يَحْتَمِلَ الْحَالَ اجْتِمَاعُهُمْ وَتَأَهُّبُهُمْ لِلْحَرْبِ فَوَجَبَ الدَّفْعُ عَلَى كُلٍّ مِنْهُمْ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ حَتَّى عَلَى مَنْ لَا يَلْزَمُهُ الْجِهَادُ نَحْوُ فَقِيرٍ وَوَلَدٍ وَمَدِيْنٍ وَعَبْدٍ وَامْرَأَةٍ فِيهَا قُوَّةٌ بِلَا إِذْنٍ مِمَّنْ مَرَّ وَيُغْتَفَرُ ذلِكَ لِهذَا الْخَطَرِ الْعَظِيمِ الَّذِي لَا سَبِيلَ لِإِهْمَالِهِ وَثَانِيَتُهُمَا أَنْ يَغْشَاهُمُ الْكُفَّارُ وَلَا يَتَمَكَّنُونَ مِنِ اجْتِمَاعٍ وَتَأَهُّبٍ فَمَنْ قَصَدَهُ كَافِرٌ أَوْ كُفَّارٌوَعَلِمَ أَنَّهُ يُقْتَلُ إِنْ أَخَذَهُ فَعَلَيْهِ أَنْ يَدْفَعَ عَنْ نَفْسِهِ بِمَا أَمْكَنَ وَإِنْ كَانَ مِمَّنْ لَا جِهَادَ عَلَيْهِ لِامْتِنَاعِ الاسْتِسْلَامِ لِكَافِرٍ .

(Dan apabila mereka memasuki) maksudnya orang-orang kafir (suatu daerah kita -muslimin-, maka hukumnya fardhu ‘ain) jihad (bagi para penduduknya). Maksudnya mereka wajib melakukan perlawanan dengan senjata seadanya.

Cara melakukan perlawanan itu ada dua fase. Pertama, kondisi masih memungkinkan mereka untuk berkumpul dan bersiap-siap melakukan peperangan. Maka perlawanan semacam ini wajib bagi setiap penduduk dengan senjata seadanya, sehingga bagi orang yang sebenarnya tidak wajib perang, seperti orang fakir, anak, orang yang mempunyai hutang, budak dan perempuan yang kuat, tanpa seizin orang-orang yang telah disebutkan -orang tua, pihak yang menghutangi, majikan dan suami-. Dan jihad tanpa izin tersebut diperbolehkan karena bahaya besar ini yang tidak mungkin dibiarkan. Kedua, pasukan kafir telah mengepung mereka dan kondisi sudah tidak memungkinkan lagi untuk berkumpul dan bersiap-siap. Maka, siapa saja yang didatangi satu atau segerombolan orang kafir dan yakin bahwa bila ditangkap pasti akan dibunuh, maka ia wajib membela diri semampunya, meskipun ia termasuk orang yang tidak wajib perang, karena tidak diperbolehkan menyerah kepada pasukan kafir.

  1. I’anah al-Thalibin [2]

(قَوْلُهُ الدَّفْعُ بِمَا أَمْكَنَهُمْ) أَيْ بِأَيِّ شَيْءٍ أَطَاقُوهُ وَلَوْ بِحِجَارَةٍ أَوْ عَصَا (قَوْلُهُ وَلِلدَّفْعِ مَرْتَبَتَانِ الخ) الْقَصْدُ مِنْ هذَا بَيَانُ كَيْفِيَةِ الدَّفْعِ وَأَنَّ فِيهَا تَفْصِيلًا (قَوْلُهُ أَنْ يَحْتَمِلَ الْحَالَ اجْتِمَاعُهُمْ) أَيْ يُمْكِنُ اجْتِمَاعُهُمْ بِأَنْ لَمْ يَهْجُمْ عَلَيْهِمُ الْعَدُوُّ (وَقَوْلُهُ وَتَأَهُّبُهُمْ لِلْحَرْبِ) أَيْ اسْتِعْدَادُهُمْ لَهُ (قَوْلُهُ فَوَجَبَ الدَّفْعُ) الْفَاءُ لِلتَّفْرِيعِ وَاْلأَوْلَى التَّعْبِيرُ بِالْمُضَارِعِ أَيْ فَفِي هذِهِ الْمَرْتَبَةِ يَجِبُ الدَّفْعُ مُطْلَقًا مِنْ غَيْرِ تَقْيِيدِ بَشْيءٍ (وَقَوْلُهُ عَلَى كُلٍّ مِنْهُمْ) أَيْ عَلَى كُلِّ وَاحِدٍ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْبَلَدِ وَمِمَّنْ دُونَ مَسَافَةَ الْقَصْرِ (وَقَوْلُهُ بِمَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ) مُتَعَلِّقٌ بِالدَّفْعِ الْوَاجِبِ عَلَيْهِ (قَوْلُهُ حَتَّى عَلَى الخ) أَيْ يَجِبُ الدَّفْعُ حَتَّى عَلَى مَنْ لَا يَلْزَمُهُ الْجِهَادُ (قَوْلُهُ نَحْوُ فَقِيرٍ الخ) تَمْثِيلٌ لِمَنْ لَا يَلْزَمُهُ الْجِهَادُ (قَوْلُهُ بِلَا إِذْنٍ مِمَّنْ مَرَّ) أَيْ مِنَ الْأَصْلِ وَرَبِّ الدَّيْنِ وَالسَّيِّدِ أَيْ وَالزَّوْجِ وَإِنْ لَمْ يَتَقَدَّمْ لَهُ ذِكْرٌ (قَوْلُهُ وَيُغْتَفَرُ ذلِكَ) أَيْ عَدَمُ وُجُودُ الْإِذْنِ فِي هؤُلآءِ (وَقَوْلُهُ لِهذَا الْخَطَرِ الْعَظِيمِ) أَيْ لِهذَا اْلأَمْرِ الْعَظِيمِ الَّذِي هُوَ دُخُولُ الْكُفَّارِ فِي بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ (وَقَوْلُهُ الذي الَّذِي لَا سَبِيلَ لِإِهْمَالِهِ) أَيْ تَرْكِهِ أَيْ هذَا الْخَطَرِ  .

(Ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “melakukan perlawanan dengan senjata seadanya.”) maksudnya dengan senjata apapun yang bisa mereka gunakan, meskipun berupa batu dan tongkat. (Ungkapan beliau: “Cara melakukan perlawanan itu ada dua fase.”) Maksudnya adalah menerangkan cara melakukan perlawanan dan dalam hal ini terdapat perinciannya. (Ungkapan beliau: “kondisi masih memungkinkan mereka untuk berkumpul.”) maksudnya mereka masih mungkin berkumpul, yaitu ketika musuh tidak datang secara tiba-tiba. (Ungkapan beliau: “dan bersiap-siap melakukan peperangan.”) maksudnya adalah persiapan mereka untuk berperang. (Ungkapan beliau: “Maka perlawanan semacam ini wajib.”) Huruf فَاءdalam redaksi tersebut berfungsi tafri’­-mengembangkan permasalahan- dan yang lebih utama mestinya diungkapkan dengan bentuk fi’il mudhari’. Maknanya dalam fase kondisi semacam ini secara mutlak wajib melakukan perlawanan tanpa qayyid -ketentuan- apapun. (Ungkapan beliau: “bagi setiap penduduk.”) maksudnya adalah penduduk daerah tersebut dan orang-orang yang berada di radius masafah al-Qashr -94 km-. (Ungkapan beliau: “dengan senjata seadanya.”) berkaitan dengan kewajiban membela diri bagi mereka. (Ungkapan beliau: “sehingga bagi…”) maksudnya wajib melakukan perlawanan, sehingga bagi orang-orang yang sebenarnya tidak wajib jihad. (Ungkapan beliau: “Seperti orang fakir …”) adalah contoh orang yang tidak wajib jihad. (Ungkapan beliau: “tanpa seizin orang-orang yang telah disebutkan.”) maksudnya orang tua, pihak yang menghutangi, majikan dan suami meskipun pada redaksi sebelumnya tidak disebutkan. (Ungkapan beliau: “karena bahaya besar ini.”) maksudnya karena bahaya besar ini, yaitu masuknya tentara kafir di daerah muslimin. (Ungkapan beliau: “yang tidak mungkin dibiarkan.”) maksudnya membiarkan serangan pasukan kafir tersebut.

[1] Zainuddin al-Malibari, Fath al-Mu’in pada I’anah al-Thalibin, (Beirut: Dar al-fikr, t. th.) Juz IV, h. 196-197.

[2] Muhammad Syaththa al-Dimyati, I’anah al-Thalibin, (Surabaya: al-Haramain, t. th.) Juz IV, h. 196.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 273
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-16
Di Purwokerto Pada Tanggal 26-29 Maret 1946 M.