Menerjemahkan Khotbah Jum’at Selain Rukunnya

0

Menerjemahkan Khotbah Jum’at Selain Rukunnya

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya menerjemahkan khotbah Jum’at selain rukunnya? Apakah boleh dengan tidak ada khilaf ataukah ada khilaf? Dan kalau tidak ada khilaf, maka bagaimana hukumnya orang yang ingkar?.

Jawab : Hukumnya boleh menerjemahkan khotbah Jum’at selain rukunnya asalkan tidak panjang dan tidak keluar dari peringatan, dengan tidak ada khilaf dalam mazhab Syafi’i. Kalau panjang dan tidak keluar dari peringatan, maka menurut satu pendapat bisa memutuskan muwalat. Akan tetapi kalau panjang dan keluar dari peringatan, maka pasti menghilangkan muwalat seperti diam. Dan tidak boleh ingkar kepada orang yang menerjemahkan.

Keterangan, dari kitab:

  1. Hasyiyah al-Bujairimi [1]

(قَوْلُهُ وَالْمُرَادُ أَرْكَانُهُمَا) يُفِيدُ أَنَّهُ لَوْ كَانَ مَا بَيْنَ أَرْكَانِهِمَا بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ لَمْ يَضُرَّ قَالَ م ر مَحَلُّهُ مَا إذَا لَمْ يَطُلْ الْفَصْلُ بِغَيْرِ الْعَرَبِيَّةِ وَإِلَّا ضَرَّ لِإِخْلَالِهِ بِالْمُوَالَاةِ كَالسُّكُوتِ بَيْنَ الْأَرْكَانِ إذَا طَالَ بِجَامِعِ أَنَّ غَيْرَ الْعَرَبِيَّةِ لَغْوٌ لَا يُحْسَبُ لِأَنَّ غَيْرَ الْعَرَبِيِّ لَا يُجْزِئُ مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى الْعَرَبِيِّ فَهُوَ لَغْوٌ سم وَالْقِيَاسُ عَدَمُ الضَّرَرِ مُطْلَقًا وَيُفَرَّقُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السُّكُوتِ بِأَنَّ فِي السُّكُوتِ إعْرَاضًا عَنِ الْخُطْبَةِ بِالْكُلِّيَّةِ بِخِلَافِ غَيْرِ الْعَرَبِيِّ فَإِنَّ فِيهِ وَعْظًا فِي الْجُمْلَةِ فَلَا يَخْرُجُ بِذَلِكَ عَنْ كَوْنِهِ مِنَ الْخُطْبَةِ ع ش

(Ungkapan Syaikh Zakaria al-Anshari: “Dan yang dimaksud adalah rukun-rukun dua khutbah jum’at.”) memberi pengertian, bila khutbah yang disampaikan selain rukun-rukun dua khutbah jum’at itu dengan selain bahasa Arab maka tidak apa-apa. Al-Ramli berkata: “Penerapan hukum tersebut bila pemisah -antara rukun-rukun khutbah- dengan selain bahasa Arab itu tidak panjang. Bila tidak, maka mempengaruhi keabsahan khutbah, karena merusak muwalah (kesinambungan antara rukun-rukunnya). Seperti halnya diam di antara rukun ketika diam itu panjang, yakni dengan titik temu bahwa selain bahasa Arab itu laghw (tidak berguna) yang tidak dianggap. Sebab bahasa selain Arab itu tidak mencukupi untuk khutbah ketika mampu berbahasa arab. Maka bahasa selain Arab itu laghw. Demikian kata Ibn Qasim al-‘Ubbadi. Namun yang sesuai qiyas adalah tidak apa-apa secara mutlak. Maka antara selain bahasa Arab dan diam dibedakan, yakni bahwa diam itu berpaling dari khutbah secara total, sedangkan selain bahasa Arab itu dalam sebagian kesempatan mengandung mau’idah (nasehat). Maka dengan hal itu, selain bahasa Arab tidak keluar dari khutbah. Begitu hemat Ali Syibramallisi.

  1. Tuhfatul Muhtaj [2]

أَمَّا مَنِ ارْتَكَبَ مَا يَرَى إِبَاحَتَهُ بِتَقْلِيْدٍ صَحِيْحٍ فَلاَ يَجُوْزُ اْلإِنْكَارُ عَلَيْهِ .

Adapun seseorang yang melakukan apa yang menurut pendapatnya boleh dengan mengikuti pendapat yang benar, maka ia tidak boleh diingkari.

[1] Sulaiman al-Bujairimi, al-Tajrid li Naf al-‘Abid, (Mesir: Musthafa al-Halabi, 1345 H), Jilid I, h. 389.

[2] Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarah Minhaj al-Thalibin pada Hasyiyah al-Syirwani, (Mesir: at-Tijariyah al-Kubra, t. th.), Jilid IX, h. 218.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 276
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-20
Di Surabaya Pada Tanggal 10 – 15 Muharram 1374 H. / 8 – 13 September 1954 M.