Membaca al-Qur’an di Gedung Zender Radio

0

Membaca al-Qur’an di Gedung Zender Radio

Pertanyaan : Bagaimana hukumnya membaca al-Qur’an di zender radio, sedang tempat itu dipergunakan pula untuk malahi yang dilarang agama, apakah membaca al-Qur’an itu boleh, atau makruh, ataukah haram?. Masalah ini telah dibahas oleh ulama di Kudus tetapi akhirnya tawaqquf dan diserahkan kepada Muktamar?.

Jawab : Bahwa membaca al-Qur’an dalam gedung zender, itu sama dengan membaca al-Qur’an di tempat lain, yakni hukumnya menurut perincian di bawah ini:

Apabila si pembaca duduk dalam tempat yang tidak terhina, dan pembacaannya terjaga apa yang perlu dijaga, dan mencukupi syarat-syaratnya membaca, pula dalam pembacaannya tidak salah, maka membacanya boleh, dan yang terdengar benar-benar al-Qur’an, mendengarkannya boleh dan mendapat pahala, adapun kalau tidak mencukupi syarat-syarat seperti duduk di tempat yang terhina, atau melanggar syarat-syarat lain, atau sengaja bacaannya untuk senang-senang dan foya-foya maka tidak boleh, kemudian kita menjadikan dosanya pembaca yang telah mencukupi syarat-syaratnya, apabila al-Qur’an itu terdengar dari tempat-tempat yang kurang layak, bagi para pendengar harus mendengarkan, apabila ada yang mengganggu harus melarang, karena yang terdengar itu nyata-nyata al-Qur’an yang terbaca.

Keterangan, dari:

  1. Majalah Al-Azhar [1]

إِنَّ قِرَاءَةَ الْقُرْآنِ فِيْ مَرْكَزِ اْلإِذَاعَةِ كَالْقِرَاءَةِ وَغَيْرِهِ أَيْ حُكْمُهَا عَلَى التَّفْصِيْلِ اْلآتِيْ: فَإِنْ كَانَ الْقَارِئُ جَالِسًا  فِيْ مَحَلٍّ غَيْرِ مُمْتَهَنٍ وَكَانَ فِيْ قِرَاءَتِهِ مُرَاعِيًا مَا تَجِبُ مُرَاعَاتُهُ مُسْتَوْفِيًا شُرُوْطَ الْقِرَاءَةِ وَلَيْسَ فِيْ قِرَاءَتِهِ خَلَلٌ. كَانَتْ قِرَاءَتُهُ جَائِزَةً وَالْمَسْمُوْعُ مِنْهُ قُرْآنًا وَسَمَاعُهُ جَائِزًا وَمُثَابًا عَلَيْهِ. أَمَّا إِذَا لَمْ يَسْتَوْفِ الشُّرُوْطَ كَأَنْ جَلَسَ فِيْ مَحَلٍّ مُمْتَهَنٍ أَوْ أَخَلَّ بِشُرُوْطِ الْقِرَاءَةِ أَوْ قَصَدَ مِنْ قِرَاءَتِهِ اللَّهْوَ وَاللَّعْبَ فَلاَتَجُوْزُ. وَلاَيَضُرُّ الْقَارِئُ مَتَى كَانَ مُسْتَوْفِيَ الشُّرُوْطِ مُرَاعِيًا أَحْكَامَ التَّجْوِيْدِ وَكَانَ عَلَى الْوَصْفِ الَّذِيْ أَنْ يُسْمَعَ صَوْتُهُ فِيْ مَحَلٍّ لاَتَجُوْزُ الْقِرَاءَةُ فِيْهِ. وَعَلَى السَّامِعِ أَنْ يَسْتَمِعَ. وَإِذَا وَجَدَ مَنْ يُشَوِّشُ نَهَاهُ عَنِ التَّشْوِيْشِ. وَمِثْلُ الْقِرَاءَةِ غَيْرُهَا فِيْ أَنَّ الْمَسْمُوْعَ هُوَ نَفْسُ الْمُتَكَـلِّمِ

Sesungguhnya bacaan al-Qur’an di pusat siaran (studio) itu sama seperti dengan bacaan yang lainnya. Yakni hukumnya sesuai dengan rincian berikut:

Jika si pembaca bisa duduk di tempat yang tidak hina, dan bacaannya memperhatikan segala ketentuan yang harus diperhatikan, serta memenuhi segala persyaratan bacaan, dan dalam bacaannya tidak terdapat cacat, maka bacaannya itu boleh dan yang didengar itu adalah bacaan al-Qur’an, mendengarnya boleh dan berpahala. Sedangkan jika tidak memenuhi persyaratan, seperti duduk di tempat yang hina atau cacat dalam salah satu syarat bacaan, atau bertujuan untuk main-main, maka bacaan yang demikian itu tidak boleh.

Selama si pembaca memenuhi persyaratan dan menjaga hukum-hukum tajwid, dan ia memenuhi kriteria yang telah kami paparkan, maka bila suaranya didengar di tempat yang tidak diperbolehkan adanya bacaan (al-Qur’an), maka hal itu tidak membahayakannya. Bagi yang mendengar harus serius mendengarkannya. Jika ada yang mengganggu, maka harus dicegah. Sama dengan bacaan al-Qur’an adalah selainnya, bahwa yang didengar itu adalah benar-benar orang yang berbicara.

  1. Risalah Bakhit al-Muthi’i [2]

إِنَّ الَّذِيْ يُسْمَعُ مِنَ الْكَلاَمِ بِوَاسِطَةِ الرَّادِيُوْ هُوَ كَلاَمُ الْمُتَكَلِّمِ وَصَوْتُ الْقَارِئِ وَلَيْسَ صُدَى كَلِمَاتٍ كَالَّذِيْ يُسْمَعُ فِي الْجِبَالِ وَالصَّحَارَى وَغَيْرِهَا. وَعَلَى هَذَا يَكُوْنُ الْمَسْمُوْعُ مِنَ الرَّادِيُوْ قُرْآنًا حَقِيْقَةً إِلَى أَنْ قَالَ: وَمِثْلُ الْقِرَاءَةِ غَيْرُهَا فِيْ أَنَّ الْمَسْمُوْعَ هُوَ نَفْسُ الْمُتَكَلِّمِ وَإِنْ كَانَ مُغَنَّيًا فَحُكْمُهُ حُكْمُ الْغِنَاءِ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِمَا هُوَ مُبَاحٌ فَحُكْمُهُ اْلإِبَاحَةُ وَإِنْ تَكَلَّمَ بِمُحَرَّمٍ كَانَ ذَلِكَ حَرَامًا.

Sesungguhnya kalimat yang didengar melalui perantara radio adalah kalimat orang yang berbicara dan suara orang yang membaca al-Qur’an, dan bukan gema kalimat seperti yang didengar di gunung-gunung, padang sahara, dan lainnya. Dengan demikian, maka yang didengar dari radio itu adalah al-Qur’an yang sebenarnya … Dan seperti bacaan al-Qur’an yaitu selainnya dalam hal niscaya yang didengar itu adalah pembicara itu sendiri. Jika nyanyian maka hukumnya sama dengan (mendengar) nyanyian, jika ia berbicara tentang hal mubah maka hukumnya mubah dan jika berbicara tentang yang haram maka hukumnya pun haram.

[1] Syaikh Thaha Jib, Majalah al-Azhar, (Mesir, t. th.).

[2] Muhammad Bakhit al-Muthi’i, Risalah Syaikh Bakhit al-Muthi’i pada Majalah al-Hidayah al-Islamiyah, (Mesir: Jumadil Ula 1352 H/ Agustus 1933 M), Jilid I, h. 203.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no.252
KEPUTUSAN MUKTAMAR
NAHDLATUL ULAMA KE-14
Di Magelang Pada Tanggal 14 Jumadil Ulaa 1358 H. / 1 Juli 1939 M.